Home > Sejarah > Asal - Usul > Awal Mula Kampung Pecinan di Pekalongan

Awal Mula Kampung Pecinan di Pekalongan

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

1. Awal Masuk Orang Cina ke Jawa Menurut Catatan dari Negeri Cina

Hubungan antara negeri Cina dengan Jawa sudah terjalin lama dan berumur sangat tua. Berdasarkan catatan sejarah, tercatat seorang peziarah Cina bernama Fa-Hien sempat singgah di Jawa setelah mengunjungi tempat-tempat suci di India dan Ceylon. Fa-Hien menyebut Ya-va (Jawa) dalam laporan pertama tentang keberadaan umat hindu di jawa. Sejak saat itu pemerintah Cina mengadakan hubungan diplomatik dengan Ya-va (Jawa).

Semenjak itu banyak orang-orang Cina khususnya pedagang Cina yang singgah ke Jawa termasuk ke Pekalongan,jauh sebelum orang-orang Eropa datang kemari. Namun, kapan tepatnya mereka pertama kali mendaratkan kapal di wilayah Pekalongan tidak diketahui pasti. Hanya diperkirakan sekitar abad 17 Masehi. Hal ini bedasarkan naskah kuno Tiongkok ” Yitoung Techi” (Geografi Akbar) yang dibuat pada masa Dinasti Ming. Nashkah tersebut menyebutkan lokasi “Pou-Kia-Lung” di perbatasan negeri Jawa,sebelah timur berbatasan dengan “negeri yang dipimpin seorang wanita”,sebelah barat dengan kerajaan “Shi-Li-Fout-Shi” (Sriwijaya),sebelah selatan dengan kerajaan Ta-Chi dan sebelah utara dengan kerajaan “Tsiem-Pa (Campa).

Baca : Asal – Usul Nama Desa Noyontaan Kota Pekalongan

Dengan demikian, nama Pekalongan sudah dulu ada,tetapi bukan berasal dari kata Pau-Kia-Loung melainkan sebaliknya,istilah Pau-Kia-Loung diambil dari nama Pekalongan.

Selain itu, Dinasti Sung yang berkuasa di Cina anata tahun 960 sampai 1279 M juga mempunyai catatan tersendiri tentang Pekalongan yang biasa disebut oleh para pedagang Cina dengan nama “Pu-Kau-Lung” dengan Rajanya yang memiliki rajutan rambut di bagian belakang Kepalanya. Sedangkan rakyatnya bertubuh pendek dan memakai kain tenun berwarna-warni (diduga Batik). Kapal dagang Cina berlayar dari kanton pada bulan November menggunakan bantuan angin,sampai di “Pu-Ka-Long” (Pekalongan) sekitar satu bulan kemudian.

Sedangkan menurut M Huan (Sekretaris Laksamana Ceng Ho) pada abad 19 ketika ia singgah di Pekalongan. Disebutkan pada waktu itu orang-orang Cina sudah tinggal di kampung Sampangan yang letaknya dekat dengan sungai Kupang (Sekarang Sungai Loji). Pekalongan pada saat itu disebut dengan istilah Wu-Chueh (Pulau dengan Pemandangan Indah),dan sudah dihuni oleh orang pribumi,Cina dan beberapa orang Arab. Dahulunya para pedagang Cina ini mengangkut dagangan mereka menggunakan Prahu yang melintasi sungai Kupang dari Pelabuhan.

Baca : Obyek Wisata Bahari Pekalongan

 2. Kondisi Kampung Cina

Munculnya pemukiman di kampung Sampangan merupakan awal perkembangan Pekalongan selanjutnya. Dahulu sungai Kupang sebagai pangkalan pelabuhan dagang antar pulau. Kawasan ini dikenal dengan istilah “Pintu Dalam”. Oleh pemerintah Kolonial Belanda,akhirnya wilayah ini dijadikan pemukiman khusus warga Tionghoa.
Penguasa Kolonial Belanda ,membagi-bagi pemukiman sesuai etnis mereka masing-masing bukan masing-masing etnis ini saling menutup diri dan tidak saling berbaur. Pembagian ini bertujuan agar pemerintah Kolonial Belanda bisa mengontrol populasi dan kriminalitas di Pekalongan.

Kawasan untuk Warga Tionghoa ini diberi nama “Chinese-Wijk” yang terdiri dari wilayah Keplekan Lor (Jalan Sultan Agung) dan Keplekan Kidul (Jalan Hasanudin).

Baca : Legenda (Mengenal Sosok) Dewi Lanjar

Wilayah Pintu Dalem ini merupakan akses masuk ke Pecinan di Pekalongan. Pada masa Kolonial Belanda,pintu dalem terletak di pertigaan sebelum Gereja Santo Petrus dan disana terdapat sebuah bangunan tua (Gapura) milik Kapiten Tionghoa yang sampai sekarang masih berdiri.

Gapura Pecinan Pekalongan
Gapura Pecinan Pekalongan

Selain di wilayah Keplekan, pemukiman Tionghoa juga ada di sekitar kawasan Kerimunan (Jalan Salak dan Jalan Manggis). Ada sebuah peninggalan sejarah kejayaan Kampung Pecinan ini di Kota Pekalongan yang masih bisa kita lihat sampai sekarang. Di kawasan Jalan Belimbing,disana terdapat rumah-rumah khas Cina yang dibangun pada masa Kolonial dan sebuah Kelenteng yang berdiri di bantaran Kali dekat Jembatan Loji (Belakang Gereja).

Baca : Mengenal Habib Ahmad – Makam Sapuro

Selain itu, dalam catatan Liem Bwan Tjie (tokoh pelopor arsitektur modern generasi pertama di Indonesia) menyebutkan bahwa pada tahun 1934 di Jalan Juliana Weeg (Jalan Belimbing),terdapat sebuah rumah megah milik seorang pengusaha Cina kolam renang didalamnya. Rumah tersebut bisa kita lihat jika kita pergi ke kawasan Jalan Belimbing atau belakang pasar Banjarsari.

Sementara di Jalan Kerimunan (Jalan Salak) terdapat sebuah bangunan yang orang sekitar menyebutnya Gedoeng Gajah. Bangunan unik ini adalah rumah milik warga Tionghoa dengan taman yang luas dan ternyata didalam bangunan Gedung Gajah tersebut terdapat Sinagog atau tempat ibadah orang Yahudi.

Menurut Baliem Subarjo, salah seorang tokoh Tionghoa Pekalongan mengatakan, dahulu sekitar tahun 1960-an,kawasan Jalan Kerimunan merupakan kawasan Permukiman,bukan kawasan Perekonomian seperti sekarang ini.Dahulu kawasan ini dihiasi dengan rumah-rumah khas Cina dan memang untuk tempat tinggal bukan bergadang.

Meskipun demikian, suasana Jalan Belimbing masih lenggang (Sepi) seperti dahulu. Dan Kini citra kawasan Pecinan di Pekalongan sudah memudar karena banyak bangunan-banguna baru. Tetapi masih ada beberapa rumah yang hingga kini masih bertahan yang menjadikan kawasan ini masih tetap menarik untuk dikunjungi.

Baca : Wisata Taman Mangrove Pekalongan

Semoga kedepannya kawasan Pecinan ini bisa menjadi Wisata Dalam Kota (Kota Tua Pekalongan) yang menarik,sehingga mejadikan Kawasan ini menjadi Warisan Budaya Kota Pekalongan yang harus dilindungi dan dirawat agar eksistensi Warga Tionghoa dari dahulu kala masih bisa dinikmati.

 

(Dirhamsyah, M. (2015). Pekalongan Yang (Tak) Terlupakan. Pekalongan: KPAD Kota Pekalongan.)

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About administrator

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor kami dengan mengirimkan tulisan ke contact@cintapekalongan.com

Check Also

Sejarah Pendapa Pekalongan

Cagar Budaya : Sejarah Gedung Pendopo Pekalongan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...

Daftar Bangunan Bersejarah di Kawasan Budaya Jetayu Pekalongan

Daftar Bangunan Bersejarah di Kawasan Budaya Jetayu Pekalongan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...