Cerita Mini Berseri : Para Bajingan (Chapter 5) - Ribut Achwandi
Mall Cintapekalongan
Cerita Mini Berseri Para Bajingan

Cerita Mini Berseri : Para Bajingan (Chapter 5) – Ribut Achwandi

Cintapekalongan.com – Tak perlu mendaku bajingan untuk menjadi bajingan beneran. Orang sudah tahu, apa ukuran bagi seseorang menjadi layak disebut bajingan. Bahkan, untuk mendapatkan predikat sebagai bajingan, seseorang kadang tak harus membunuh, mencuri, memperkosa, merampok, berjudi, atau bahkan menenggak minuman keras. Bisa saja, dengan melakukan kebaikan, seseorang malah jadi bajingan.

Lalu, apa itu bajingan?

Alamak! Buku kuliah Filsafat Bajingan pinjaman kakak tingkatku rupanya mesti kubaca berulang-ulang lagi. Tetapi, semakin aku baca, semakin tak aku temukan apa itu bajingan. Rumit! Melingkar-lingkar. Mungkin apa begitu filsafat?

Suatu ketika, pernah aku tanyakan pada seorang teman. Apakah filsafat itu rumit?

Jawabnya sederhana, “Yang rumit itu pikiranmu!”

“Bajingan!” umpatku waktu itu. Mendengar jawaban sesingkat itu, aku merasa berada dalam sebuah permainan.

Aku dipermainkan oleh pikiranku sendiri. Itu lebih kejam dari kejahatan yang paling jahat. Dan, itulah yang akhirnya kian meyakinkanku untuk menjadi seorang bajingan.

Aku tak mau menjadi korban permainan akalku sendiri. Aku tak mau dipermainkan oleh pikiranku sendiri. Apalagi pikiran orang lain.

Tak perlu mendaku sebagai bajingan untuk menjadi bajingan sejati. Cukup lakukan saja apa yang membuatmu pantas menjadi bajingan. Lalu, bersiaplah menanggung risiko. Sebab, tak banyak orang mau menjadi bajingan secara sadar. Malah, kebanyakan orang ingin menjadi orang baik.

Cerita Mini Berseri Para Bajingan

Minimal, mengaku sebagai orang baik. Padahal, untuk menjadi baik, mesti ada pasangannya. Yaitu, bajingan. Mungkinkah zaman ini sudah krisis bajingan, sehingga tak banyak yang mau mengaku sebagai bajingan?

***

Aku heran, akhir-akhir ini, kerap aku dengar kabar tentang orang-orang baik. Mereka baik. Mereka selalu berpegang pada kebenaran. Tetapi, kebaikan dan kebenaran yang mereka yakini, mengapa tidak membuat mereka bisa saling akur? Mengapa?

Yang tampak, mereka tak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Mereka juga tak pernah lelah memperjuangkan apa yang menjadi benar. Tetapi, kebaikan yang mereka sampaikan, kebenaran yang mereka bawa, tidak sanggup membuat kedamaian?

Ini sungguh membingungkan. Paradoks! Bagaimana bisa kebenaran dan kebaikan justru menuai kekisruhan? Apa masalah yang sebenarnya?

Pemandangan semacam ini membuatku semakin yakin. Bahwa apa yang aku pilih, menjadi seorang calon bajingan, adalah pilihan yang lebih tepat. Sebab, menjadi baik dan benar telah mereka kuasai lahannya. Dan akibat dari perebutan lahan kebaikan dan kebenaran itu, tak banyak orang melirik lahan yang lain.

Lahan yang bisa membuat mereka menjadi benar dan baik. Atau sekurang-kurangnya tampak benar dan tampak baik.

Ah! Apakah kebenaran dan kebaikan cukup dengan apa yang ditampakkan? Tentu, tidak. Seorang calon bajingan sepertiku, tak bisa serta merta menerima kebenaran dan kebaikan orang lain. Apalagi hanya dengan ungkapan-ungkapan yang membuai. Tidak! Kebaikan mestinya ya kebaikan! Kebenaran ya mestinya kebenaran! Tidak bisa serta merta dikaitkan dengan sesuatu yang tak tampak di muka bumi.

Sebaliknya, kebaikan dan kebenaran yang tersusun rapi lewat rumus-rumus itu mestinya menjadikan apa yang ada di permukaan bumi ini lebih baik. Bukan semakin runyam. Kalau kebaikan dan kebenaran itu justru membuat keadaan semakin runyam, itu artinya apakah para bajingan sudah waktunya pensiun dini sebelum dunia ini hancur? Lalu, sia-sialah cita-citaku untuk menjadi seorang bajingan.

Chapter 6

donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server, operasional kru dan kegiatan amal. Terima Kasih


About Ribut Achwandi

SING PENTING 'NGEDAN' NING ORA NGANGGO 'NGEDEN'

TULIS KOMENTAR

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang