Home > Cerbung > Cerita Misteri : MELAMAR NURJANAH Episode 8

Cerita Misteri : MELAMAR NURJANAH Episode 8

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Cerita Misteri – Malam kian larut. Udara dingin menyusup ke dalam kamar. Sayup-sayup terdengar lonceng gardu ronda di pukul duabelas kali. Suara jangkrik dan serangga malam lainnya bersahutan.

Sambil berbaring di tempat tidur Raga mengamati cincin perak di tangannya. Cincin perak berukir bunga-bunga. Bermata berlian.
Dimasukkannya cincin itu ke jari kelingking tangan kirinya. Pas!.

Cincin itu diterima Raga dari Nurjanah tadi malam, saat ia mengantarkan Nurjanah pulang setelah diperkenalkan dengan Bapak Ibunya.

“Untuk ukuran kalau Mas Raga mau pesen cincin.” Kata Nurjanah saat itu setelah memberikan cincin perak kepada Raga di teras rumahnya. “Beberapa hari mendatang saya akan ke Jakarta nemui Bapak Ibu untuk matur kelanjutan rencana hubungan kita. “ Sambungnya.

“Kenapa tidak nanti setelah kita pesen cincin saja.” Kata Raga saat itu sambil menimang-nimang cincin pemberian Nurjanah.
“Ah. Nanti kelamaan…………, keburu kangen sama Bapak Ibu, terutama adik-adik……, sudah lama saya nggak ke Jakarta…….” Lanjut Nurjanah.

Baca : Cerita Misteri : MELAMAR NURJANAH Episode 7

Raga manggut-manggut, mencoba memaklumi.

Dipandanginya kembali cincin perak yang melingkar di jari kiri kelingkingnya. “Semoga segalanya berjalan lancar” Kata Raga dalam hati, penuh harap.
Udara dingin kembali menyusup ke kamar Raga. Tapi Raga tidak mempedulikan itu. Angannya melayang, menembus kembali ke suasana pertemuan orang tuanya dengan Nurjanah beberapa jam yang lalu.

Pertemuan yang begitu akrab. Tidak ada rasa canggung di antara mereka. Nurjanah dapat segera menyesuaikan diri. Dan orang tua Raga begitu senang bertemu dengan Nurjanah. Seolah mereka sudah lama saling mengenal. Menyatu dan penuh familier. Tidak ada kendala apapun. Pertemuan berjalan normal dan lancar.
Mengingat pertemuan tadi, Raga tersenyum. Pembicaraan yang diawali memperkenalkan Nurjanah kepada orang tuanya oleh Raga terasa begitu hangat. Sampai pada pokok intinya, orang tua Raga menyampaikan rencananya yang dalam waktu dekat akan melamar Nurjanah. Dan Nurjanah yang sudah diberitahu Raga soal rencana acara lamaran ini, tidak merasa kaget. Ia tersenyum, menganggukan kepalanya dan mengiyakan. Rasa gembira nampak menghiasi rona Raga dan kedua orang tuanya.

Dan sinar bulan pun mulai meninggalkan mendung. Meskipun tidak begitu cerah, malam itu nampak tenang. Damai menebarkan mimpi di kamar tidur Raga. Hingga hari-hari yang dilalui Raga kemudian pun terasa begitu lapang, penuh dengan bunga-bunga. Masa kesendirian akan segera berakhir. Begitu yang ada dalam pikiran Raga.

Sejak saat itu pembicaraan tentang persiapan lamaran pun kerap mengisi malam-malam Raga dan orang tuanya. Dari masalah waktu lamaran sampai uborampe yang akan di bawa saat melamar nanti. Hingga malam itu di ruang tengah, sambil nonton acara TV pembicaraan mereka masuk pada season cincin pertunangan.
“Kapan kamu akan pesen cincin Nang…….?” Tanya Ibunya pada Raga. Nang adalah panggilan ibunya kepada Raga sejak kecil. “Nang” bisa diartikan anak lanang atau si nang.

“Sudah kok Bu. Malah hampir jadi.” Jawab Raga.
“Lho! Kapan kamu pesennya?! Kan si Nur masih di Jakarta?” Tanya Ibunya agak kaget.
“Iya sih……………. “ Jawab Raga sambil masuk kamarnya.
”Waktu pulang dari sini itu di rumahnya si Nur memberikan cincin ini pada Raga, Bu.” Lanjut Raga setelah keluar dari kamar dan mengulurkan cincin perak bermata berlian itu kepada Ibunya.
“Kata si Nur itu untuk contoh. Kalau Raga mau pesen cincin, nggak usah nunggu si Nur pulang…….. kelamaan katanya….” Lanjut Raga sambil duduk di samping Ibunya.

Sejenak Ibu Raga mengamati cincin itu. Tiba-tiba dadanya berdegub. Lalu diilihatnya mata cincin yang terbuat dari berlian itu dari bawah. Mata Ibu Raga terbelalak!. Kaget!. Di balik berlian itu terdapat garis yang membentuk hutuf R dan N. Hampir saja Ibu Raga berteriak. Untung ia masih bisa menguasai diri. Sambil menahan nafas di tatapnya kembali huruf yang ada dibalik cincin itu. Rasa tak percaya memenuhi benaknya. Lalu dipandangi wajah Raga. Raga tidak mempedulikan itu. Ia asik nonton acara tv.

“Pak ! Pak……………!” Panggil Ibu Raga pada Suaminya. “Lihat nih……….!” Lanjut Ibu Raga sambil mengulurkan cincin itu kepada suaminya yang baru keluar dari kamar. Setelah membolak-balik cincin itu, dipegangnya lengan kanan isterinya. Keduanya masuk kamar.

“Kok bisa?!” Kata Ayah Raga dengan nada heran, setelah keduanya duduk di tepi tempat tidur. Lalu Ibunya menyampaikan apa yang tadi di katakan Raga.
“Begini saja, tempat itu masih Ibu simpan kan?” Tanya Ayah Raga. Ibu Raga faham maksud pertanyaan suaminya lalu mengangguk. “Taruh cincin ini di tempat itu. Berikan pada Raga suruh nyimpen. Kalau Nurjanah pulang suruh segera mengembalikan.” Lanjut Ayah Raga.

Ibu Raga segera membuka lemari pakaian. Dari sels-sela pakaian diambilnya cepok kecil tempat cincin yang dilapisi kain beludru berwarna merah. Setelah memasukkan cincin itu kedalam cepuk, mereka keluar kamar. Ayah Raga menuju ke ruang belakang, Ibu Raga kembali duduk di sebelah Raga.
“Nih, simpen lagi.” Kata Ibu Raga sambil memberikan cepok merah itu dalam keadaan terbuka.

“Wah! Bagus banget tempat cincinnya Bu.” Ucap Raga sambil menutup cepuk itu.
“Udaaahhhhh….. simpen sana……… nanti kalo si Nur pulang kembalikan segera. Kalo hilang ketempuhan kamu……..” Kata Ibunya.

Raga masuk kamar. Dalam pikiran Ibu Raga berkelebat bayangan sebuah sungai dengan gemericik air yang mengalir di sela-sela bebatuan. Sepasang muda-mudi asyik bermain air. Tiba-tiba si cewek menjerit. Dipeluknya si cowok sambil kedua kakinya silih berganti dihentak-hentakkan ke air. Celana keduanya basah. Si cowok bingung. Si cewek masih menangis. Kini ganti tangan kirinya yang diulur-ulurkan kepada si cowok sambil sesekali berkata…………. cincin…. cincin…….! Si cowok baru tahu setelah dilihatnya jari manis si cewek………….. polos…………… tak ada cincin melingkar di sana…………………. lolos………..hilang………….. terbawa arus!

(Bersambung…)

Baca : Cerita Misteri : MELAMAR NURJANAH Episode 9

Ingin update informasi terbaru dari kami ? Invite akun official LINE kami dibawah ini. Thanks before

QR code CKP

Ide & Tulisan karya : Kang Slamet

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About Angga Panji W

Sebagai anak Pekalongan, Saya ingin memperkenalkan kota tercinta kepada dunia dengan konten kreatif. Mari bergabung dengan saya di cintapekalogan.com untuk bersama mempromosikan Pekalongan dan bisa bermanfaat untuk warganya. Terima kasih, Salam Cinta Pekalongan

Check Also

Hantu Nurjanah

Cerita Misteri : MELAMAR NURJANAH Episode 6

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...

Nurjanah

Cerita Misteri : MELAMAR NURJANAH Episode 5

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...