Corona Dalam Tahap Ayat Allah Yang Bersifat Muqoththo’ah – Cintapekalongan.com - Media No.1 Referensi Pekalongan
Home Opini & Rubrik Corona Dalam Tahap Ayat Allah Yang Bersifat Muqoththo’ah
Corona Dalam Tahap Ayat Allah Yang Bersifat Muqoththo’ah
Ilustrasi

Corona Dalam Tahap Ayat Allah Yang Bersifat Muqoththo’ah

Pekalongan – Berkaitan dengan ihwal informasi, di dalam hidup ada hal-hal yang manusia boleh tahu, kalau bisa tahu, dan sebaiknya tidak tahu. Untuk yang lebih ketat serta detail, Islam sediakan lima matriks—yang sesungguhnya cakupan dimensinya tidak terbatas hanya sekadar pada informasi: wajib (harus tahu), sunnah (sebaiknya tahu), mubah (boleh tahu, boleh tidak tahu), makruh (sebaiknya tidak tahu), haram (tidak perlu tahu).

Anda berkenalan dengan seorang teman baru di kampus, di terminal, di angkringan, atau katakanlah di Tinder. Anda wajib untuk kenal namanya. Sunnah untuk tahu dari daerah mana dia berasal dan di mana dia tinggal. Mubah untuk tahu pekerjaannya apa. Makruh untuk tahu berapa nominal gajinya. Dan haram untuk tahu ukuran celana dalamnya.

Matriks lima tadi bisa menjadi acuan bagi manusia dalam menempuh banyak hal. Bisa diterapkan untuk sekadar masak telor, terjun di hutan medsos, berkeluarga, membangun persahabatan, sampai menjalankan pemerintahan suatu negara. Matriks wajib-haram adalah kunci. Goal-nya kehidupan yang harmoni. Kalau manusia salah meletakkan sesuatu di rentangan lima kolom tadi, yang terjadi adalah destruksi, disharmoni, distorsi, diskoneksi, whatever you named it.

Tetapi kalau mau lebih jujur dan rendah hati kepada kosmos hakikat kehidupan, sebenarnya ada satu pasal terakhir di luar matriks lima tadi, yakni sesuatu yang manusia tidak akan pernah tahu. Mungkin manusia bisa dan boleh tahu, tetapi mustahil akan benar-benar tahu. Itulah limitasi akal. Kepastian yang semua ilmuwan sampai hari ini berusaha amat keras untuk mengingkarinya. Tetapi tak usah belok ke sana, kapan-kapan saja.

Baca juga : Penataran P4 Untuk Corona – Ribut Achwandi

Di dalam ranah teologi, limitasi akal merupakan lubang yang kelak hanya bisa diisi oleh informasi dari Tuhan langsung. Artinya, manusia mustahil tahu kecuali Tuhan sendiri yang menginformasikannya. Siapa pencipta alam semesta, bagaimana jagat raya bekerja, dari apa manusia diciptakan, akan ada apa setelah kematian, itu semua adalah hal-hal yang manusia mustahil tahu kecuali Tuhan menginformasikannya. Informasi mengenai segala hal yang manusia mustahil tahu itu bernama agama. Medium aksentuasinya kitab suci Al-Qur’an.

Allah berfirman mengenai agama lewat Al-Qur’an. Manusia berupaya memahami Tuhan dan kehidupan lewat pembacaannya terhadap informasi-informasi di dalam Al-Qur’an. Di dalam proses pembacaan ayat-ayat Qur’an, ada jarak antara kebenaran Tuhan dan kebenaran manusia tentang Tuhan. Satu objektif, lainnya subjektif. Manusia boleh-boleh saja untuk berbeda dalam hal persepsinya terhadap kebenaran Tuhan, toh kebenaran Tuhan tetap berlangsung seberagam apapun manusia menciptakan perbedaan pendapat terhadapnya.

Di dalam firman-firman yang Allah hidangkan kepada manusia, ada firman dengan muatan informasi yang jelas sehingga manusia bisa langsung ‘menelannya’. Manusia harus begini, harus begitu, tidak boleh ini, tidak boleh itu, ke arah sini, dan jangan ke arah situ. Jelas, cespleng, sifatnya dogmatis. Manusia harus nurut, titik. Tidak ada negosiasi kecuali manusia bisa menciptakan sendiri organ-organ tubuhnya, atau setidaknya bisa mengatur sendiri schedule BAB dan pipisnya sepanjang jatah hidup di bumi. Sepanjang manusia tidak bisa merancang sendiri onderdil badannya, manusia wajib untuk taat kepada Si Perancang onderdil.

Baca juga : Fitnah Zaman Milenial

Ada lagi firman ‘setengah jadi’ di mana Allah berbagi tugas dengan manusia. Allah berfirman tentang satu hal, kemudian manusia berinisiatif dengan akalnya untuk menebak maksud-Nya. Allah ‘membebaskan’ manusia untuk bereksplorasi. Meskipun kebenaran tetap mutlak berada di genggaman-Nya. Ada beberapa ayat yang sampai hari ini para Ulama’ belum kelar mendiskusikannya, itulah firman yang saya maksud ‘setengah jadi’. Misalnya soal poligami dan waria. Sekian Ulama’ masih memperdebatkannya sampai hari ini.

Corona Dalam Tahap Ayat Allah Yang Bersifat Muqoththo’ah
Ilustrasi

Yang ketiga, ada firman-firman di dalam Al-Qur’an yang Allah tetapkan sebagai rahasia abadi. Namanya ayat muqoththo’ah atau lazim disebut fawatihus-suwar. Letaknya di awal surat, semisal “Yaa Sin“, “Tho Ha“, “Alif Lam Mim“, “Nuun“, atau “Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shod“. Arti ayatnya di dalam Qur’an tidak ada, atau paling mentok semua Ulama’ dan Mufassir menyepakati dengan “hanya Allah yang tahu“.

Allah memang Maha Misterius, di samping Maha Iseng dan Maha Jail. Lhaiya, mbok kalau gak ada artinya mending gak usah difirmankan sekalian lho, Gusti. Kami yang bodoh-bodoh ini kan jadi repot. Hitler mati di bunker atau melarikan diri ke sekitaran timur Surabaya saja masih jadi misteri, kok disuruh lagi untuk memecahkan kode-kode muqoththo’ah semacam itu. Hashhh.

Bercanda Gusti, hehe, i love You to the moon and back.

Saya memilih satu frame “baik sangka” untuk memotret fenomena muqoththo’ah itu. Bahwa kalau Allah ‘mengosongkan’ maknanya, itu berarti rangsangan kepada manusia untuk ‘mengisinya’. Untuk memberikan makna ke dalamnya. Pagarnya: silakan isi dengan proses penghayatan masing-masing tanpa perlu mempertengkarkan versi ‘isian’ mana yang paling benar. Hayati dan nikmati saja sebagai keasyikan personal untuk menambah kemesraan hubungan dengan Tuhan.

Baca juga : Pemimpin Kita Tak Punya Rasa Malu Kepada Allah dan Rasulnya

Pada dimensi ‘improvisasi’ semacam itulah agaknya fenomena muqoththo’ah dan virus Corona bersambung, bersimpul, atau boleh dibilang: tune in. Ada konektivitas pemahaman antar keduanya di situ. Ditinjau dari proses dialektika manusia yang sampai hari ini belum bisa memahami Corona secara utuh dan fixed, nampaknya SARS-CoV-2 memang versi paling kiwari dari ‘ayat muqoththo’ah‘ yang Allah rilis.

Pasalnya Corona ini memang masih indescribable thing bagi peradaban mutakhir manusia. Kalau kita bertanya, virus apa ini? Hanya Allah yang tahu. Datangnya dari mana? Hanya Allah yang tahu. Vaksinnya apa? Hanya Allah yang tahu. Kapan pandemi berakhir? Hanya Allah yang tahu.

Itu artinya Corona masih berada dalam tahap ayat Allah yang bersifat muqoththo’ah. Allah beri ruang manusia untuk mengeksplorasinya menjadi ilmu. Manusia yang berakal akan bergerak dengan daya kreatifitas untuk memberi makna terhadapnya. Dan saya kira peluang cukup terbuka lebar untuk manusia dengan berbagai ketersediaan pilihan tema yang melimpah ruah.

Salah satu teman saya pernah mengimprovisasi “Alif Lam Mim“. Dia bilang, Alif Lam Mim disingkat menjadi A, L, dan M. ALM dalam kebudayaan manusia Indonesia identik digunakan untuk ‘menggelari’ orang yang sudah mati: almarhum (alm). Kemudian dia berdiri pada logika itu untuk membangun satu konstruksi filsafat.

Bahwa “Alif Lam Mim” yang terletak di awal surat adalah semacam kode atau sandi dari Tuhan yang mungkin artinya adalah: sebelum manusia mulai membaca Qur’an, manusia terlebih dahulu mesti menjadi ‘alm.’, mesti ‘mati’, mesti ‘kosong’ terlebih dahulu isi kepala dan jiwanya, agar informasi Tuhan bisa dengan jernih masuk ke dalam dirinya. Manusia yang belum ‘mati’ dan ‘kosong’ akan sukar untuk mengakses informasi-informasi dari Tuhan secara jujur.

Baca juga : Uniknya Dialek Pekalongan yang Repot Kalau Dipraktikkan di Daerah Lain

Terutama karena di dalam dirinya masih terdapat timbunan ego, pamrih, prasangka, nafsu, amarah, dan hasrat, yang kesemuanya akan membuat pantulan cahaya firman Allah menjadi bias.

Ingin rasanya segera saya temui teman sufi itu dan bertanya: “apa makna ayat Qaf Ro Na?”

Sinangoh Prendeng, 14 Mei 2020.

Bagikan ini :

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan Platform media referensi tentang Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan menarikmu. Ayo kirim esai tulisanmu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap tulisanmu yang ditayangkan.

donasi cintapekalongan.com
BANTU BERI DONASI
Untuk mengembangkan media ini agar tetap bermanfaat. Terima Kasih

About Sobrun Jamil

Sobrun Jamil
Sesekali menulis, sisanya menjalankan kewajaran hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang