Home > Sejarah > Asal - Usul > Fakta Sejarah Sego Megono di Purworejo

Fakta Sejarah Sego Megono di Purworejo

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Nasi Megono Purworejo

Cintapekalongan.comMegono ini bukan Megono yang dari Pekalongan,Melainkan dari Purworejo. Sama-sama memiliki nama Megono namun beda bentuk. Yang Aseli Pekalongan Klik Disini

Nah, Lantas bagaimana ceritanya Asal-susul Sego Megono Purworejo ini ?

Dari segi bahasa, kata Sego artinya nasi sedangkan kata Megono jikalau ditelusuri lebih mendalam sama sekali tidak ada akar kata asli bahasa Jawa mengenai kata ” Megono” tersebut. Ada kemungkinan bahwa Megono berasal dari gabungan dua kata “Mego” dan “genono“,jika kata “Mego/Mega” (Huruf “a” dibaca “o” dalam bahasa jawa) yang berarti awan dan kata “gegono/gegana” yang berarti angkasa/langit. Jadi bila dua kata tersebut dirangkai akan menjadi kalimat yang mungkin akan berbunyi : Megono = Mego ing Gegono.

Kenapa bisa demikian ? 

Marilah kita amati sifat dan penampakan mega di angkasa. Mega berwarna putih bersih sampai kelam yang biasa disebut mendung, pertanda hujan. Ada juga warna mega yang merah terutama di sore atau pagi hari. Berdasarkan penampakan mega tersebut, Segomegono pun terdiferensiasi mulai dari yang berwarna putih bersih, kelam, jingga yang merah merona.

Beginilah Cerita penamaan ” Sego Megono “:

Segomegono, timbul pertama kali ketika dikenal ada gerilyawan yang memasuki wilayah Purworejo waktu itu. Seperti Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, Perang Kemerdekaan I dan II (atau Agresi Belanda I dan II). Keadaaan waktu itu dapat dibayangkan sebagai daerah yang subur tetapi dengan keadaan perang membuat hasil bumi sangat menurun tajam dan penghematan di segala bidang, termasuk dalam konsumsi. Bila kita menanak nasi dengan cara konvensional akan timbul kerak nasi (dalam bahasa Jawa “Intip”). Bagi kebanyakan orang, waktu itu, kerak nasi tersebut akan dijemur dan dikeringkan dan disimpan untuk dimasak lagi, menjadi nasi. Itulah cikal bakal Segomegono. Penyempurnaan terus dilakukan dengan menambahkan berbagai bumbu termasuk mencoba dipadukan dengan urap dan berbagai sayuran dan lauk lainnya.

Baca : Legenda Dewi Lanjar Ratu Pantai Utara

Kemajuan pesat terasa ketika gerilyawan masuk ke desa dengan cara yang sangat mendadak dengan muka yang lusuh, kelelahan dan tanpa dukungan logistik yang memadai. Penduduk desa yang melihat keadaan tersebut segera “cancut taliwondo” menghubungi tetangga-tetangga untuk membuat makanan yang dapat mengembalikan kesegaran pejuang-pejuang tersebut.

Tapi apa daya ? Dengan mengumpulkan beras yang sangat sulit didapat dan lebih banyak mendapatkan intip kering. Persoalan muncul ketika bahan terkumpul lauk atau sayurnya apa ? Atas inisiatif “sesorang” (Tokoh inilah sebenarnya penemu Segomegono, tetapi sayang keterbatasan data menyebabkan sulit untuk mengetahui siapa tokoh tersebut) pengumpulan bahan sayuran pun dikumpulkan, untuk sayuran tidak menemui hambatan sedikitpun, tetapi untuk lauk pada jaman itu yang banyak tersedia adalah ikan asin.

Begitu melihat bahan yang terkumpul, kondisi yang membutuhkan cara pemasakan yang cepat, makanan yang mengandung semua unsur pokok gizi, agar stamina para gerilyawan meningkat lagi, maka terpikirlah memasak makanan itu bersama-dan dijadikan satu sehingga menghemat waktu, tenaga dan tempat untuk menampung makanan yang sudah jadi. Dan seperti teriakan Archimedes “:Eureka” maka suatu nama perlu dimunculkan untuk makanan lengkap tesebut, akhirnya setelah melalui proses yang sangat-sangat spontan tiba-tiba terlintas “megono !!!!!!!!!”, ya megono, nama yang indah dan bernuansa lain serta kata itu menggambarkan semua segi filosofi, kedalaman rasa dan bentuk fisik dari makanan itu.

Pada saat perang kemerdekaan, ketika semakin banyak gerilyawan yang datang dan pergi, Sego megono menjadi sebuah nama yang menjadi impian harapan dan kesenangan yang sangat-sangat menghibur dan memberikan kelegaan, kebahagiaan yang akan terus dikenang oleh para gerilyawan tersebut. Sampai-sampai karena berita tersebut Sego megono menjadi sebuah pencarian yang kadang terasa agak magis dan melegenda diantara para gerilyawan. Ketika kemerdekaan RI telah dicapai dan pekik “merdeka !!!!” menjadi salam nasional, di Purworejo pekik tersebut oleh para gerilyawan diteriakkan dengan kata ” Mergono !!!! ”

Baca : Salah Satu Bukti Peradaban Besar Di Kabupaten Batang

Megono !!!!!!” yang berati mereka sangat menginginkan Sego Megono sebesar mereka menginginkan kemerdekaan . Itulah asal mula Sego Megono sehingga bentuk paripurnanya dapat kita lihat dan rasakan hingga sekarang.
Sego Megono yang asli berwarna agak “kotor” atau agak mendung yang menandakan dibuat dari kerak nasi, sedangkan yang putih bersih biasanya dibuat dari beras, disediakan untuk para “penikmat pemula”.

Bentuk Sego Megono adalah “nasi” dengan warna agak kecoklatan atau kemerahan untuk yang pedas berasa pedas. Sayuran yang terdapat Sego Megono adalah daun bayam, ketela, daun kacang pancang atau hijauan yang lain. Sayuran tersebut dicampurkan dengan “nasi” yang sudah matang dengan ditambah sambal “jenggot” yaitu sambal yang terbuat dari parutan kelapa. Sambal inilah yang menyebabkan warna kemerahan seperti senja hari. Satu bagian yang tidak dapat dilepaskan dari Sego Megono adalah ikan asin, yang ditumbuk dan dicampurkan bersama-sama dengan sambal dan sayuran. Segomegono yang asli menggunakan ikan asin bukan ikan segar, sehingga aromanya terasa tajam, khas paduan antara aroma “nasi”, sambal, sayuran dan ikan menjadi satu yang sangat membangkitkan selera dan imajinasi.

Perkembangan lebih lanjut dari Sego Megono adalah dengan ditambah ikan segar yang digoreng dan terpisah. “Nasi” berasal dari beras bukan kerak nasi, dan aksesories lainnya yang makin memperbanyak khasanah ke-Segomegono-an di Purworejo.Salah satu variasi yang menjadi legenda adalah hasil kerja bareng antara penjual Sego Megono dan penjual tempe legendaris mBok Pringgo. Variasi adalah yang terbaik dan tersisa hingga sekarang.
Untuk mendapatkan Segomegono yang asli dengan tempe legendaris mBok Pringgo, kita harus rela untuk bangun pagi minimal jam 06.00 pagi. Lokasinya di Pasar Pagi Purworejo, dekat dengan Buh Liwung (Jembatan Hanyut -red) sekitar 1 km Alun-Alun Purworejo ke arah Timur. Lebih baik lagi kalau kita sambil berjalan pagi menikmati suasana Pasar Pagi di pagi hari. Ketika jam 09.00 Pasar Pagi tersebut berakhir dan pindah ke Pasar Baledono.

 

Baca juga : Kisah Ki Bahurekso, Adipati Kendal Pertama dan Babat Pekalongan

Biasanya dijual oleh penduduk asli asal Pegunungan Menoreh, karena dari tangan merekalah kita akan mendapatkan rasa Segomegono yang masih asli dan tanpa bahan aditif. Mirip dengan yang dirasakan oleh Prajurit Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, atau para pejuang kita yang bergerilya.

 

Mohon maaf yang ini adalah sejarah Megono untuk daerah Purworejo dan Wonosobo, Untuk yang Aseli Pekalongan bisa klik disini.

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About administrator

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor kami dengan mengirimkan tulisan ke contact@cintapekalongan.com

Check Also

Onty Cake Pekalongan

Roti Enak di Onty Cake Pekalongan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...

Mie Ayam Enak di Pekalongan - pict by Hendro Pramono

TOP 5 Warung Mie Ayam Enak di Pekalongan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...