Home > Berita > Hasil Uji Lab, Sungai Loji Paling Parah Tercemar

Hasil Uji Lab, Sungai Loji Paling Parah Tercemar

Pekalongan – Menurut hasil uji dari laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan terhadap air di sejumlah sungai di Kota Pekalongan menunjukkan, tingkat pencemaran yang terjadi di Sungai Loji merupakan yang tertinggi dibandingkan sungai lain.

Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada DLH Kota Pekalongan, Endarwanto mengungkapkan, dalam pengujian oleh Lab DLH bulan ini diketahui bahwa kandungan BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) di sungai Kota Pekalongan tinggi. Artinya, tingkat pencemaran yang terjadi juga tinggi.

“Untuk hasil uji sampling di lima sungai, hasilnya Sungai Loji ini paling tercemar. Pencemarannya paling banyak. Kemudian diikuti Sungai Bremi dan Meduri. Sedangkan untuk sungai lainnya, Sungai Banger dan Sungai Asem Binatur masih relatif baik,” tutur Endarwanto.

Dominasi Pencemaran dari Kota Pekalongan

Pencemaran Sungai Loji

Fakta lain yang juga terungkap dari hasil pengujian adalah bahwa pencemaran yang terjadi pada sungai-sungai di Kota Pekalongan paling besar disuplai oleh pencemaran dari Kota Pekalongan sendiri. Sebab dari hasil uji menunjukkan bahwa tingkat pencemaran di hilir lebih tinggi dibandingkan di hulu.

Baca juga : Penataan Kawasan Kali Loji Akan Dimulai Tahun 2019

“Kalau di hulu ada pencemaran tapi sedikit. Kemudian semakin ke utara, semakin ke hilir ini pencemarannya meningkat. Sehingga kita lihat suplai air dari atas, dari wilayah tetangga kita itu ada sedikit pencemaran namun kemudian ditambah pencemaran dari kita sendiri dengan suplai yang cukup besar karena hasilnya semakin ke hilir semakin meningkat,” jelasnya lagi.

Dalam melakukan pengujian kualitas, lanjut Endarwanto, pihaknya memang mengambil sampel di tiga titik yakni titik hulu, tengah dan hilir. Di masing-masing titik tersebut, diambil sampel di tiga bagian yakni dua sampel bagian tepi sungai dan satu sampel bagian tengah sungai untuk kemudian disatukan.

“Dengan pencemaran yang demkian menunjukkan bahwa air sungai di Kota Pekalongan sudah tidak layak konsumsi karena mempunyai sifat karsinogenik yang tinggi. Karsinogenik ini jika dikonsumsi terus menerus maka bisa menimbulkan kanker,” katanya.

Selain menguji air sungai, DLH juga melakukan pengujian terhadap kualitas air yang dihasilkan dari IPAL. Ada empat IPAL yang diuji yakni IPAL Kauman, IPAL Jenggot, IPAL Banyurip dan IPAL Pringrejo. Dari pengujian yang dilakukan hasilnya masih memenuhi baku mutu. “Pengujian dilakukan untuk melihat apakah hasil pengolahan IPAL sudah memenuhi baku mutu atau tidak. Kalau melebihi baku mutu, maka akan dilakukan perbaikan,” tambah Endarwanto.

Baca juga : Riwayat Sejarah Sungai Kupang (Kali Loji)

Selanjutnya, lab DLH juga melakukan pengujian terhadap industri yang mengeluarkan limbah B3 seperti rumah sakit maupun perusahaan batik. Juga pengujian terhadap air yang digunakan warga dengan mengambil dua sampel per kelurahan. “Untuk lab DLH ini memang kegiatan utamanya adalah memonitoring kualitas air,” tandasnya.

Sumber : radarpekalongan

▼ Bagikan ini ▼

donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya jika media ini dirasa bermanfaat. Donasi ini akan digunakan untuk perawatan, operasional dan kegiatan amal bersama cintapekalongan.com. Terima Kasih


About Rofius Salim Khafidz

Hanya Anak singkong dari desa pegandon, kab.pekalongan :D Salam Cinta Pekalongan

TULIS KOMENTAR