Kisah KH. Abdul Gaffar Ismail di Pekalongan – Cintapekalongan.com - Media No.1 Referensi Pekalongan
Home INFO PEKALONGAN Tokoh Pekalongan Kisah KH. Abdul Gaffar Ismail di Pekalongan
KH Abdul Gaffar

Kisah KH. Abdul Gaffar Ismail di Pekalongan

PekalonganKyai Haji Abdul Gaffar Ismail mulai mengajar di Pekalongan pada tahun 1935-1941 (6 tahun). Kemudian disambung pada tahun 1953-1997 (44 tahun) sehingga total 50 tahun lamanya ia mengajar. Penyampaian ilmu dilaksanakan dalam bentuk pengajian umum, di beranda rumah Djalan Kedjaksan 52 (belakangan menjadi Jalan Bandung 60), dengan jamaah duduk di teras rumah, meluas ke pekarangan.

Di seberang jalan, di rumah dr.Fatimah Nitiprodjo (yang berjasa besar menjaga kesehatan Pak Gaffar dan Bu Tinur) banyak juga jamaah ikut duduk mendengarkan pengajian, seperti juga di sebelah timur, yaitu di pekarangan dan beranda Hotel Sederhana.

Biasanya jamaah melimpah ke ruas Djalan Kedjaksan (sekarang Jalan Bandung), Dokrian, Sorogenen, dan lapangan Bong Cina (dulu), yang kini dipenuhi kios-kios pedagang. Pengajian yang dilakukan setiap malam Selasa itu (Pemasa) dimulai sesudah salat Isya, sekitar pukul 7 malam,dan berakhir sekitar 2 jam lamanya.

Jamaah yang juga banyak datang dari luar kota itu diperkirakan tak akan kurang dari 1.000 orang. Sistem pengeras suara relatif bagus sehingga jamaah dapat mendengar dengan baik. Dari arahtimur peserta pengajian terjauh datang dari Batang danSemarang, dari barat Tegal, Cirebon sampai Linggarjati, danbiasanya mereka menyewa bus beramai-ramai.

Baca juga : Kisah Pak Dhe Dele, Sang Penjahit Jenius Dari Pekalongan

Dalam Pengajian Malam Selasa Kyai Abdul Gaffar Ismail mengajarkan Tafsir Quran dan Tasawuf. Sistematikanya adalah pembahasan Surah-surah, misalnya Al-Baqarah, Al-Kahf, Yaasin, Ar-Rahman, Waqi’ah, Mulkdan seterusnya. Pengajian Malam Selasa disampaikan secara populer, bahasanya indah, diksinya puitis, logatnya Padang.

Bu Tinur mengajar Tafsir Quran pula di kelas khusus untuk pengajian ibu-ibu dan anak-anak gadis. Peserta kedua pengajian ini terdiri atas tiga generasi, yaitu kakek-nenek, terus ke anak-menantu, dan bersambung ke cucu-cucu. Dalam 10 tahun terakhir (1987-1997) ketika ia banyak menyampaikan tema dzikml-maut, mengingat mati, jamaah banyak yang menangis menitikkan air mata.

“Mbok kowe lungo ngrungokke pengajian Kyai Ghoffar, ben iso nangis (Pergilah kamu dengarkan pengajian Kyai Gaffar supaya bisa menangis),” kata jamaah pada kawannya yang tidak rajin mengunjungi Pemasa.

Dalam pengajian tidak ada tanya-jawab. Barulah dalam forum diskusi atau menerima tamu di rumah yang tak putus-putusnya jamaah berdatangan setiap hari, biasanya tanpa janji, baru ada acara tanya-jawab itu. Untuk menyiapkan bahan pengajian ia setiap hari berjam-jam memerlukan membaca kitab dan membuat catatan.

Koleksi kitab yang dimulainya sejak masa santri diperpustakaan pribadinya besar, yang dibeli di dalam dan diluar negeri, ada yang dipesan dari Kairo (Mesir) dan Beirut (Libanon). Yang mengganggu jadwal membaca kitabnya adalah tamu-tamu yang banyak datang, dari dalam kota dan luar kota, kebanyakan minta nasihat.

Pengajian Malam Selasa ini dikelola oleh Badan Wakaf Andalas, yang terdiri atas tokoh-tokoh perantau Minang-Mandailing dan masyarakat Pekalongan, di mulai pada pertengahan tahun 1950-an.

Baca juga : Penemu Teknik Lukis WPAP Adalah Putra Daerah Aseli Pekalongan

Sesudah Kyai Gaffar wafat, Pemasa tetap dilanjutkan. Kini pengelolanya adalah Yayasan Abdul Gaffar Ismail (YAGIS), dengan pimpinan murid beliau H. Ali Sidky Zarkasy.

Ketika orde demokrasi terpimpin dan demokrasi pembangunan peran Masyumi sangat besar. Pada masa kedua orde tersebut, peran umat Islam dalam kenegaraan dikecilkan dan beberepa pihak secara berencana melontarkan macam-macam fitnah kepada umat Islam. Pada masa itu posisi da’i dan alim ulama sulit sekali. Begitu pula serupa dengan yang dialami Kyai Gaffar, yang dahulu adalah aktivis pergerakan politik Islam dan akhirnya mengabdikan diri dalam da’wah dan pendidikan di Pekalongan.

Antara 1959-1965, di masa demokrasi terpimpin atau orde lama, kritik sosial-politik Pengajian Malam Selasa sering ditegur oleh petugas DPKN, yaitu intel kepolisian. Akan tetapi, petugas keamanan itu menjadi tidak enak hati setelah tahu bahwa Kyai Gaffar di zaman kolonial dekat dengan Bung Karno, yang di masa itu menjadi Presiden RI.

Biografi Kyai Abdul Ghaffar

Abdul Gaffar Ismail lahir di Jambu Air, Bukittinggi, 11 Agustus 1911. Tinur Muhammad Nur (isteri) lahir di Pandai Sikek, Padang Panjang, 29 Juni 1914. Di mana dulu Kiyai A. Gaffar menuntut ilmu agama.

Beliau alumnus Sumatera Thawalib, Parabek, Bukit tinggi. Salah seorang kawan sekolahnya Abdul Malik, anak Maninjau, yang belakangan dikenal dengan nama singkatan Hamka. Mereka murid Syekh Ibrahim Musa, yang dulu berguru di Masjidil Haram pada Syekh Ahmad Chatib (dari Koto Gadang). Murid-murid Syekh Ahmad Chatib dari Indonesia yang sama-sama belajar di Masjidil Haram antara lain Syekh Hasyim Asy’ari (kelak pendiri NU) dan Syekh Ahmad Dahlan (kelak pendiri Muhammadiyah).

FYI, Syekh Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), pendiri dan guru Sumatera Thawalib Padang Panjang dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Al Azhar, Cairo pada tahun 1926.

KH Abdul Gaffar

Beliau lebih dikenal dengan julukan Haji Rasul, Inyik Dotor atau Inyik DR. Buya Hamka merupakan orang ketiga dari Indonesia yang mendapat penghargaan yang serupa 35 tahun kemudian pada tahun 196. Sebagai ayah dan anak, mereka pasangan pertama yang mendapat kehormatan tinggi tersebut. Sedangkan Ibu Siti Nur Muhammad Nur, sehari-hari disebut Ibu Tinur, adalah alumnus angkatan pertama Diniyah Puteri, Padang Panjang.

Ia adalah murid dari Syaikhah Rahmah el-Yunusiah. Etek Rahmah adalah perempuan pertama yang mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar, Cairo pada tahun 1957. Ia adalah orang kedua dari Indonesia sesudah Haji Rasul yang mendapatkan gelar tersebut.

Perjuangan Kyai Ghaffar

Menjelang Belanda dikalahkan Jepang, Kyai Gaffar secara rutin pergi bolak-balik Pekalongan-Bandung, berguru kepada Bung Karno dan menginap di rumah beliau, bersama-sama dengan kelompok anak muda yang aktif dalam politik.

Riwayat kehidupan Kyai Gaffar diketahui Bung Karno sebagai tamatan Sumatera Thawalib dan diusir Belanda dari Minangkabau. Oleh karena hal itulah Bung Karno meminta sesuatu dari Kyai Gaffar, “Dik Gaffar, ajari saya tentang Islam. Kamu saya ajari Marxisme.”

Pada waktu itu Bung Karno berusia lebih tua 10 tahun dari Kyai Gaffar. Di zaman demokrasi pembangunan atau orde baru, intel militer Pekalongan agak sungkan pula terhadap Kyai Gaffar, yang adalah Imam Besar Rohani Islam Pusat TNI-AD. Pada waktu itu Kyai Gaffar senantiasa kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Ia akrab dengan Kolonel Sarbini dan Kolonel Sudirman.

Baca juga : Mengenal Jenderal Hoegeng Imam Santoso

Waktu Pak Dirman Panglima TNI di Sulawesi Selatan, Kyai Gaffar mendapat tugas membujuk Kahar Muzakkar, dulu muridnya di Solo, agar turun gunung dan kembali masuk kota Makassar.

PKI meluncurkan Gerakan 30 September / Kudeta Dewan Revolusi pada tanggal 1 Oktober 1965. Ternyata diam-diam PKI ingin mengulangi lagi pembantaian terhadap kyai-kyai seperti yang mereka lakukan dalam Pemberontakan Madiun 18 September 1948.

PKI Pekalongan ternyata juga merencanakan hal yang sama. Dalam penggrebekan yang cepat dilakukan oleh demonstran pemuda Islam dan KAPPI Pekalongan di markas PKI Pekalongan, ditemukan dokumen daftar tokoh-tokoh anti-PKI yang akan mereka bantai.

Deretan nama-nama para kyai di Pekalongan dan sekitarnya tertulis paling atas didaftar itu, termasuk antara lain nama Kyai Syafi’i dan Kyai A. Gaffar. Alhamdulillah itu tidak terjadi.

Kisah Pembuangan Kyai Gaffar Oleh Belanda

Sebagai Generasi muda tamatan perguruan agama di Bukit tinggi dan Padang Panjang ini aktif dalam gerakan kebangsaan di tahun 30-an dalam partai PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia). Partai ini mengampanyekan tuntutan kemerdekaan Indonesia dengan berkeliling di Sumatera Barat.

Baca juga : Kisah KH. Syafi’i, Ulama dan Pahlawan Pekalongan

Kepemimpinan Mochtar Luthfi menonjol dan sebagai orator beliau terkenal sebagai “Sukarno Sumatera.” Buya Muda A. Gaffar Ismail juga memukau di depan public. Ia mendapat predikat sebagai “macan mimbar.” Orator perempuan yang sangat populer adalah Rasuna Said dan Rasimah Ismail dari Diniyah Puteri Padang Panjang.

Pemerintah kolonial Belanda sangat tidak nyaman dengan kegiatan politik PERMI. Akibatnya, pimpinan partai itu dibuang pemerintah kolonial Belanda. Mochtar Luthfi, Iljas Ja’coub (kedua-duanya dari Universitas Al Azhar,Kairo) dan H. Djalaluddin Thaib dibuang ke Digul, Papua, selama 18 tahun. Rasuna Said dan Rasimah Ismail dipenjarakan di Semarang selama 6 bulan (1934).

Mereka adalah perempuan pertama yang masuk penjara Kolonial Belanda karena kegiatan politik. Ketiga tokoh PERMI senior itu dibuang ke Digul sedangkan pemimpin PERMI termuda, A. Gaffar Ismail, diusir ke luar Minangkabau untuk menjalani hukuman passen-stehel.

Kyai Gaffar yang baru menikah dengan Bu Tinur memilih Pekalongan sebagai tempat pembuangan mereka. Pasangan suami isteri muda ini diterima dengan sangat baik oleh masyarakat Pekalongan sejak kedatangan mereka pada tahun 1934.

Baca juga : Mengenal Eliza Van Zuylen Maestro Seniman Batik Indo-Eropa

Tentu mereka diawasi terus oleh intel kolonial PID (Politiek Inlichtingsche Dienst), bagian dari polisi Belanda. Namun, masyarakat muslim Pekalongan melindungi ustadz dan ustadzah muda ini. Apalagi masyarakat Pekalongan mandiri dan berekonomi kuat.

Sebagian besar masyarakat Pekalongan pada masa itu berprofesi sebagai produsen dan pedagang kain tenun dan batik. Baik pengusaha yang asli Pekalongan maupun perantau dari Minang dan Mandailing mendukung kedatangan pasangan suami istri tersebut.

Tokoh-tokoh mahasiswa di Jakarta tahun 1930-andan 1940-an bergantian datang ke kota batik ini karena pebisnis Pekalongan dikenal dermawan dan suka membantu gerakan mereka dengan dana.

Untuk membujuk, Kyai Gaffar ditawari pemerintah kolonial menjadi Qadhi di Masjid Besar Pekalongan, artinya jadi pegawai yang digaji pemerintah. Kyai Gaffar menolak. Ia malah bercita-cita ingin mendirikan pesantren. Ketika mengajukan keinginan kepada pemerintah kolonial, tentu saja ditolak, izin tak diberikan.

Akhirnya penyampaian ilmu dilakukan lewat pengajian rutin dirumah. Pengajian ini berlangsung 6 tahun sejak 1935 sampai1941. Ustadzah Tinur, yang mengajar dalam kelompok ibu-ibu dan anak-anak perempuan. Sebagian besar muridnya dari kalangan Al-Irsyad. Ia adalah salah seorang pendiri organisasi Wanita Al-Irsyad di Pekalongan.

Antara 1942 sampai 1953 Kyai Gaffar sekeluarga pindah ke Solo, Semarang, Yogya, Bukit tinggi, dan Jakarta, serta aktif dalam pers dan politik. Di Solo dan Semarang, disamping mengajar, Kyai Gaffar mulai masuk ke dunia pers. Guru pertama yang membimbingnya menulis adalah Pak Sayuti Melik. Memasuki masa pendudukan Jepang, di Semarang Kyai Gaffar ikut dalam harian Sinar Baroe yang dipimpin oleh Oom Parada Harahap.

Kyai Gaffar menjadi wakil pemimpin redaksi. Sesudah masa kemerdekaan, Sinar Baroe menjelma menjadi Koran Suara Merdeka dipimpin oleh Oom Heitami.

Peran Kyai Ghaffar di Zaman Revolusi

Di zaman revolusi itu Pak Sjafruddin Prawiranegara, adalah sahabatnya. Waktu itu Menteri Kemakmuran RI menugaskan Kyai Gaffar memimpin penyelundupan hasil bumi ke Singapura dan membeli senjata dan ban mobil untuk tentara. Instruksinya berasal dari Wakil Presiden Bung Hatta.

Bersama Hasan Aidid yang merupakan tokoh ALRI waktu itu, asal dari Sulawesi Selatan, mereka mengorganisir 7 kapal layar Bugis-Makasar jenis Lambok dan Pinisi. Bobot tiap-tiap kapal adalah 30 ton. Mereka mengatur penyediaan vanila, gula, dan karet sebanyak 210 ton yang berangkat dari Juwana menuju Singapura.

Baca juga : Riwayat Sejarah Gedung Gevangenis te Pekalongan (LAPAS Kelas IIA)

Konvoi ini berangkat dari pelabuhan Juwana pada 1 Syawal tahun 1948. Kyai Gaffar memberi khotbah Idul Fitri dulu pagi-pagi, lalu konvoi 7 kapal layar itu berlayar satu per satu menembus blokade Belanda.

Tangan kanan kepercayaan Kyai Gaffar dalam aktivitas ini adalah seorang anak muda dari Kudus, Subchan ZE (belakangan jadi Ketua MPRS). Operasi rahasia ini berhasil baik. Senjata dan ban mobil dikirim dari Singapura ke Juwana, diterima oleh Mayor Kemal Idris dari Divisi Siliwangi, yang waktu itu sibuk dalam operasi menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Kegiatan Kyai Gaffar selanjutnya adalah terpilihnya beliau dalam Kongres Ummat Islam se-Indonesia di Yogya (1950), memegang jabatan Sekretaris Jenderal BKMI (Badan Kongres Muslimin se-Indonesia). Adapun wakilnya adalah Sekjen Pak Anwar Haryono. Dalam badan federatif itu tidak ada ketua.

Memenuhi undangan pengajian di Bandung tanggal19 April 1953, Kyai Gaffar berangkat dengan mobil dari Pekalongan. Setiba di Cimahi, di depan sebuah rumah sakit terlihat keramaian orang-orang. Rupanya mereka ta’ziyah, karena ada yang meninggal. Kyai Gaffar terkejut sekali karena yang wafat adalah teman lamanya, K.H. Wahid Hasjim.

Kyai Gaffar lalu bercerita bahwa dari tiga orang penumpang mobil yang kecelakaan itu, dua meninggal,yaitu Pak Wahid Hasyim dan sekretarisnya. Satu penumpangselamat, yaitu seorang anak laki-laki berumur 13 tahun. Tidak ada yang akan menduga bahwa anak yang selamat itu 46 tahun kemudian akan menjadi Presiden Republik Indonesia.

Di tahun 1956 Kyai Gaffar mendapat tugas dari Perdana Menteri M. Natsir untuk membujuk Kahar Muzakkar. Kahar Muzakkar bersama pasukannya naik ke gunung di pedalaman Sulawesi Selatan karena tidak setuju dengan politik Pemerintah. Tokoh revolusi yang memberontak ini 13 tahun sebelumnya di zaman pendudukan Jepang adalah murid pengajian Kyai Gaffar di Solo.

Baca juga : Masjid Aulia Sapuro dan Alquran Raksasa Pekalongan

Tugas berbahaya ini beresiko besar karena Kyai Gaffar nekat naik kuda bersama seorang pendamping tanpa pengawalan bersenjata. Mereka harus melalui daerah tak bertuan yang luas. Sebelum mencapai markas Kahar digunung, menjelang matahari terbenam, Kyai Gaffar nyaris saja ditembak.

Kahar terperanjat melihat kedatangan gurunya. Saat keduanya bertemu, Kahar memeluk Kyai Gaffar erat-erat. “Pak Kiyai, ini pekerjaan berbahaya sekali,” kata Kahar. Tokoh revolusi ini setuju turun gunung setelah dibujuk gurunya untuk masuk kota kembali. Akan tetapi dalam teknis pelaksanaan masuk Makassar selanjutnya,kesediaan Kahar Muzakkar turun gunung itu dikhianati oleh pihak yang tidak suka.

Kyai Gaffar “pulang kandang” ke Pekalongan

Kyai Gaffar aktif dalam pers dan politik melewati 11 tahun zaman pendudukan Jepang dan revolusi. Hal itu membuat Kyai Gaffar jenuh dan ingin kembali ke bidang pendidikan lagi. Oleh karena itulah, pada tahun 1953 utusan dari masyarakat Pekalongan yaitu rombongan dipimpin oleh Pak A. Djunaid (belakangan jadi ketua Gabungan Koperasi Batik Indonesia, ayah dari Noorbasha dan Zaki) mendatangi Kyai Gaffar di Jakarta dan mengundangnya “pulang kandang” ke Pekalongan.

Undangan tersebut dengan senang hati dipenuhi Kyai Gaffar dan Bu Tinur. Demikianlah, sepanjang 45 tahun berikutnya Pengajian Malam Selasa di Djalan Kedjaksan 52 menjadi bagian kegiatan da’wah dan pendidikan masyarakat yang khas di kota batik.

Total 50 tahun lamanya pengabdianKyai Gaffar dengan dukungan dari seluruh umat Islam Pekalongan dan sekitarnya. Pengajian Malam Selasa yang bertahan sedemikian lama itu berhasil menyatukan umat secara menyeluruh.

Persatuan itu antara lain berasal dari jamaah Al-Irsyad, ‘Alawiyyin, Ma’had Islamiyah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PITI, generasi tua dan generasi mudanya.

Walaupun bertempat tinggal di Pekalongan, Pak Gaffar secara teratur memenuhi pula undangan bertahun-tahun memberikan pengajian ke Surabaya, Makassar, Jakarta, Denpasar dan seterusnya.

Barulah berhenti, ketika ia tidak kuat lagi bepergian jauh-jauh. Sewaktu memasuki usia tua mencapai umur 70-an, bahkan awal 80-an tahun, Pak Gaffar tetap tegar terus menyampaikan ilmu melalui Pengajian Malam Selasa. Ia bertekad sampai “mati di atas mimbar,” begitu ucapnya yang sangat mencintai dan dicintai jamaahnya.

Baca juga : Jejak Perjuangan Otto Iskandardinata di Pekalongan (1924 – 1928)

Di tahun 1982, Bu Tinur wafat pada usia 68 tahun, setelah 29 tahun mengajar Tafsir Quran pada pengajian ibu-ibu. Setelah menduda lima tahun, memenuhi desakan anak-anak, Pak Gaffar menikah dengan Istis’adah, murid pengajian, yang dengan setia merawat sampai beliau wafat pada tahun 1998.

Sesudah mulai uzur dan kekuatan fisik menyusut,pelan-pelan frekuensi dikurangi dan pengajian digantikan murid-murid beliau, yaitu Ustadz Tajudin, Ustadz Dhamir,dan Ustadz Shalahuddin. Pak Gaffar wafat di Pekalongan pada 16 Agustus 1998 dalam usia 87 tahun 5 hari.

(Ensiklopedia Tokoh Pekalongan – TaufiqIsmail, 2011)

Bagikan ini :

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan Platform media referensi tentang Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan menarikmu. Ayo kirim esai tulisanmu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap esai mu yang tayang.

donasi cintapekalongan.com
BANTU BERI DONASI
Untuk mengembangkan media ini agar tetap bermanfaat. Terima Kasih

About Admin

Avatar
PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang