Home > Berita > Komunitas Guru Belajar Pekalongan Gelar Kegiatan Ramadan Semangat Belajar
Mall Cintapekalongan

Komunitas Guru Belajar Pekalongan Gelar Kegiatan Ramadan Semangat Belajar

Pekalongan – Ketika Guru dan Murid Berkarya dan Berdaya maka tidak akan ada yang bisa membatasi untuk berkreasi. “Anak adalah sekutu kita dalam proses belajar mengajar” begitulah kutipan dari tulisan praktisi pendidikan Indonesia dan pendiri Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab di Surat Kabar Guru Belajar edisi 13.

Hal itu pulalah yang mendasari Komunitas Guru Belajar Pekalongan (KGB Pekalongan) untuk merancang kegiatan Ransel (Ramadan Semangat Belajar) di Sekolah Islam AL Azhar Buaran Kota Pekalongan pada Minggu, 26 Mei 2019 beberapa waktu yang lalu.

Komunitas Guru Belajar Pekalongan

Dari keresahannya melihat banyak praktik pengajaran di lapangan yang kurang melibatkan murid. Murid seakan menjadi objek dalam dunia pendidikan, menerima apa yang dimau kurikulum, menerima apa yang dimau guru, menggunakan hukuman, penghargaan untuk mengajak murid belajar. Sehingga kemudian membuat murid tidak menjadi merdeka.

Murid belajar bukan karena kemauannya sendiri. “Iya, kami membuat kegiatan ini ya karena masih banyak praktik di dalam pengajaran yang tidak melibatkan murid. Apa-apa mau guru, murid sebagai objek saja. Apa-apa dikompetisikan, yang membuat murid belajar karena faktor luar, bukan karena memang ingin belajar.” ucap Niam yang kami wawancara saat berlangsungnya Ransel yang ke-3 ini.

Ransel yang sudah diadakan ketiga kali ini mengusung tema Guru, Murid Berdaya dan Berkarya. Mengajak guru dan murid menjadi berdaya dan memiliki karya. Untuk itulah Komunitas Guru Belajar Pekalongan merancang Ransel 3 ini menjadi beberapa kelas untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut.

Kelas Kolaborasi

Kelas kolaborasi merupakan kelas yang berbasis project. Di sini guru-guru dari Komunitas Guru Belajar menawarkan pembelajaran berbasis project yang mana menghasilkan sebuah karya dalam proses belajarnya. Ada kelas fotografi, videografi, bisnis, menari dan menyanyi, komik dan juga drama.

Murid mengikuti kelas berdasarkan minat dan bakat yang diketahui dari formulir yang mereka kirimkan. Sehingga ketika mengikuti kelas ini murid merasa apa yang ia sukai bisa tersalurkan.

Kelas Kolaborasi Ransel 3

“Biasanya kalau di sekolah itu fokusnya ke bidang akademik, guru-guru lupa kalau murid-muridnya punya bakat yang bisa dikembangkan. Di Ransel 3 akhirnya kita bisa belajar tentang apa yang kita minati. Ini pengalaman yang jarang kita dapat di sekolah kita.” ujar salah satu peserta yang mengikuti kegiatan.

Dalam Ransel 3 ini ada 7 kelas kolaborasi untuk jenjang SMP dan SMA yang diikuti 120-an murid jenjang tersebut dari berbagai sekolah di Pekalongan dan sekitarnya. Pembagian kelas sendiri berdasar minat dan bakat yang dituliskan melalui formulir pendaftaran, jadi satu kelas terdiri dari murid dari sekolah dan jenjang yang berbeda.

Misalnya di kelas fotografi, ada murid yang berasal dari SMP ada pula dari SMA, ada yang dari sekolah negeri, ada yang dari sekolah swasta. Murid-murid disatukan berdasar minat dan bakatnya masing-masing.

“Memang kelas kolaborasi dirancang untuk mengajak murid antarsekolah tidak berkompetisi, mengajak mereka berkolaborasi. Tidak ada pemenang dalam kegiatan ini. Namun bersama-sama berkolaborasi menghasilkan karya” ujar Guru Maman salah satu pengisi kelas kolaborasi.

Kelas Berbicara

“Saya memulai menyusun lego untuk membuat robot dari 3 tahun yang lalu. Awalnya robot-robot sederhana, kini robot yang dibuat lebih rumit lagi. Saya belajar ini dari menonton Youtube” ucap Zidan salah satu peserta SD di kelas berbicara.

Kelas berbicara ini mengajak murid saling berbagi cerita di depan, baik berupa minat/hobinya ataupun keresahan yang ia rasakan. Tidak diperlombakan, untuk mengapresiasi dan memberikan wadah murid untuk bersuara.

Kelas Berbicara Ransel 3

Tema yang disampaikan murid antarjenjang berbeda-beda. Murid-murid SD lebih banyak membicarakan mengenai kesukaanya seperti menyusun lego,memanah, membuat pizza, berenang dan sebagainya.

Untuk jenjang yang lebih tinggi yaitu murid SMP, kebanyakan murid membicarakan mengenai hal-hal yang disukai namun lebih kepada aktualisasi diri misalnya tentang asyiknya mengikuti organisasi sekolah, sosial media yang bisa berdampak, dll. Nah untuk murid SMA lebih banyak ke arah keresahan, seperti kritik kepada sekolah yang kurang memahami muridnya, apa yang perlu dilakukan anak-anak milenial, dll.

Salah satu yang paling menarik di kelas berbicara yaitu adanya murid penyandang disabilitas yang ikut menjadi pembicara di kelas ini. Dengan bahasa isyarat ia menceritakan tentang dirinya.

“Alasan dibuat kelas berbicara karena banyak murid yang hanya sekadar jadi objek pengajaran di kelas. Murid tidak dilibatkan, sulit bersuara, menyampaikan pendapatnya. Di kelas inilah kami mengajak murid untuk menyuarakan apa yang menjadi kesukaannya, apa yang menjadi keresahannya. Harapannya ya agar guru bisa melakukan ini juga ketika di kelas” ujar Rizqy ketua Ransel 3 ini.

Kelas Main

Setelah kelas Kolaborasi dan kelas Berbicara, sekitar pukul 16.00 WIB peserta diajak ke Aula Sekolah Islam Al Azhar. Di sana mereka sudah ditunggu fasilitator yang bersiap mengajak mereka bermain papan permainan ciptaan guru dari Komunitas Guru Belajar Pekalongan.

Ada sekitar 10 papan permainan yang telah dibuat dan diuji coba guru-guru tersebut.

“Sekitar sebulan yang lalu KGB Pekalongan mengadakan pelatihan pembuatan papan permainan untuk guru, dan hari ini guru-guru yang mengikuti pelatihan memamerkan hasil dari pelatihan tersebut.” Ujar Nunuk Riza Puji Guru SMAN 1 Petungkriyono yang juga pelatih papan permainan.

Kelas Main Ransel 3

Papan permainan dibuat karena keresahan yang dialami di kelas. Misalnya guru Wahyu yang kesulitan mengajarkan Trigonometri untuk tingkat SMA, murid lebih menyukai bermain game. Dari situlah ia menciptakan papan permainan Trigonometri Battle Field.

Beda guru Wahyu, Guru Musyafiah yang notabennya mengajar SMK kesulitan mengajarkan Bahasa Inggris karena murid-murid lebih suka mabar (main bareng) Mobile Legend. Oleh karena itu dibuatlah papan permainan yang diadaptasi dari Mobile Legend untuk membantu murid belajar Bahasa Inggris.

Untuk tingkat SD ada guru Dias yang menciptakan game karena banyak anak yang tidak mengetahui jenis-jenis makanan 4 sehat 5 sempurna, ia pun membuat game bernama Pejuang Sehat yang laris dimainkan murid-murid SD.

“Diperlukan guru-guru kreatif seperti ini untuk mengajak anak kasmaran dalam belajar. Guru-guru yang memahami murid” ujar Sumayah salah satu orangtua yang mendampingi anaknya dalam Ransel 3 tersebut.

Kegiatan Ransel 3 diakhiri dengan penampilan dan pameran hasil karya murid dari kelas kolaborasi antara lain pameran Komikstrip, fotografi, bisnis Canva, penampilan drama, pantun dan juga menari serta menyanyi.

“Harapannya dari Ransel 3 ini guru bisa mulai melibatkan murid dalam proses belajar mengajar. Sekolah bisa mulai menciptakan kegiatan kolaborasi antarmurid di setiap ada hari-hari tertentu. Bukan lagi kalau ada classmetting yang muncul lomba, kalau ada hari besar keagamaan lomba lagi, HUT sekolah lomba lagi.” Ujar Rizqy ketua Ransel 3.

Baca juga : Profile Komunitas Guru Belajar Pekalongan

Kegiatan ini ditutup dengan Buka Puasa bareng antara kawan-kawan Guru dan Murid yang mengikuti kegiatan ini dengan penuh kebersamaan dan kegembiraan.Buka Puasa Bersama Ransel 3

Komunitas Guru Belajar Pekalongan (Rizqy)

Editor : Angga


donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server, operasional kru dan kegiatan amal. Terima Kasih


About Admin

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor untuk kemajuan daerah dengan mengirimkan ulasan/esay/tulisan ke contact@cintapekalongan.com. Terima Kasih

TULIS KOMENTAR

.:[Klik 2x Tombol][Close]:.
Donasi Pekalongan