Menelisik Muasal Kata "Corona" - Bagian 2

Menelisik Muasal Kata “Corona” – Bagian 2

Cintapekalongan.com – Melanjutkan catatan sebelumnya (Bagian 1), kali ini saya akan memulai dari peristiwa apa yang terjadi pada bahasa Latin di Abad Pertengahan. Kajian ini, saya rasa menjadi penting juga sebagai pelengkap bagi penelusuran pemakaian kata corona sebagai nama sebuah virus yang sedang ramai diperbincangkan.

Pada bagian pertama, telah saya singgung, kata corona mulai dipopulerkan pada Abad ke-16 Masehi. Kata ini berasal dari bahasa Latin, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (Oxford dictionary) menjadi “a ring of light seen around the sun or moon, especially during an eclipse”. Tapi, mari kita tengok sejenak, bagaimana dengan bahasa Latin pada abad-abad pertengahan?

Bahasa Latin merupakan bahasa kuno di Semenanjung Italia. Bahasa ini awalnya menjadi bahasa tuturan bangsa Latini Italia yang mendiami kawasan Latium—yaitu sebuah kawasan yang subur di Italia barat bagian tengah yang bersebelahan dengan sungai Tiber—pada zaman Romawi Kuno. Di daerah ini pula, kota Roma didirikan, hingga dinobatkan sebagai ibukota Kekaisaran Romawi. Dengan demikian, bangsa Latini merupakan penghuni pertama kota Roma. Sejatinya, mereka adalah orang-orang Indo-Eropa.

Bahasa Latin sendiri, sebenarnya merupakan bahasa Proto-Indo Eropa, yang diturunkan dari bahasa Italik. Bahasa ini lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa Eturska, yaitu bahasa yang digunakan oleh bangsa Eturska—bangsa yang ahli di bidang seni dan terampil dalam membuat seni patung dari logam. Hanya saja, penggunaan abjad pada bahasa Latin menggunakan aksara Yunani sebagai dasarnya.

Pada Abad Pertengahan, bahasa ini dijadikan bahasa resmi Eropa Barat Katolik Roma. Tersebab itu, ia menjadi bahasa tulis utama dalam hal pertukaran ilmiah, bahasa liturgi Gereja, dan sebagai bahasa sains, sastra, hukum, dan administrasi. Tidak heran jika bahasa ini kemudian diajarkan di seluruh tingkatan lembaga pendidikan. Bahkan, dalam perkembangannya, bahasa Latin digunakan sebagai bahasa keilmuan, terutama dalam bidang ilmu kealaman, menggantikan bahasa Sanskerta.

Penggeseran bahasa Sanskerta ini tidak lepas dari peran bangsa Romawi yang melakukan penaklukan di sejumlah bangsa di dunia, yang kemudian diwarisi oleh bangsa-bangsa Eropa—bangsa yang kejayaannya muncul paling akhir hingga menandai era baru yang disebut modern. Sebuah pertarungan seru antarbahasa yang pada gilirannya mengubah tatanan dunia.

Sebagaimana diakui oleh Sir William Jones:
“Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunaannya, memiliki struktur yang menakjubkan; lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, namun memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya, baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan; sangat eratlah keterkaitan ini, sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada.”

Jika demikian, sejarah persebaran bahasa Latin di seluruh muka bumi tidak lepas dari penaklukan demi penaklukan. Perang yang berakibat fatal bagi kemanusiaan. Bencana kemanusiaan. Semua itu dilakukan demi sebuah mahkota (bahasa Latin: corona).

Lantas, bagaimana dengan kata corona yang sedang ramai dibincangkan hari ini? Akan saya bahas pada Melinik Muasal Corona Bagian 3

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan media referensi tentang info Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan mu. Submit esaimu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap esai mu yang tayang.

----------------------------------------------
donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server dan kegiatan amal. Terima Kasih

About Ribut Achwandi

SING PENTING 'NGEDAN' NING ORA NGANGGO 'NGEDEN'

TULIS KOMENTAR

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang