Menelisik Muasal Kata "Corona" - Bagian 6 – Cintapekalongan.com - Media No.1 Referensi Pekalongan
Home Opini & Rubrik Menelisik Muasal Kata “Corona” – Bagian 6

Menelisik Muasal Kata “Corona” – Bagian 6

Cintapekalongan.com – Catatan saya kali ini masih menyoal mitologi Corona Australis / Corona Australina. Sebab, mitologi mengenai rasi bintang kecil di belahan langit selatan ini memiliki beberapa versi. Sama seperti dengan Corona Borealis. Mungkin untuk versi lain mitologi Corona Borealis akan saya tuliskan di edisi mendatang. Semoga ada luang waktu untuk menguliknya.

Jika Anda menengadahkan wajah dan menatap bintang-bintang di langit, Corona Austalis ini tidak akan tampak secara jelas di langit selatan sana. Rasi bintang ini kecil dan terletak di antara rasi Scorpio dan Sagitarius.

Pada catatan saya sebelumnya, mitologi Corona Australis dikaitkan dengan kisah Dionysus yang menjemput arwah Semele, Ibunya dari Dunia Bawah dan mendudukkannya di altar kedewaan Olympus. Versi lain mengenai mitologi Corona Australis menyebutkan, jika nama rasi bintang kecil itu erat kaitannya dengan kisah Ixion. Siapa itu Ixion?

Ixion adalah raja Lapiths, suku paling kuno di Thessaly. Ia juga seorang putra Ares (Dewa Perang). Dikenal juga sebagai putra seorang penjahat terkenal, Phlegyas. Watak jahat sang ayah rupanya menurun pula pada diri Ixion. Ia juga dikenal sebagai ayah dari bangsa Centaur.

Kejahatan paling fatal yang dilakukannya adalah membunuh ayah mertuanya, Deioneus (Eioneus). Peristiwa itu bermula dari pernikahannya dengan Dia, putri Deioneus. Ia menjanjikan sebuah mas kawin yang amat mahal pada mertuanya. Namun, janji itu tak pernah ditepatinya.

Deioneus yang lama menunggu janji itu marah. Ia lantas merampas seluruh kuda milik Ixion. Melihat aksi kemarahan sang mertua, Ixion mula-mula bersikap biasa-biasa saja. Meski sebenarnya dalam hatinya berkecamuk kemarahan yang besar pula. Hingga pada suatu kesempatan, Ixion mengundang sang mertua untuk datang ke istananya di Larissa.

mitologi Corona Australi

Sebuah perjamuan mewah disiapkan. Sang mertua merasa sangat dihormati. Apalagi Ixion menerima kehadiran mertuanya dengan sikap manis. Sama sekali tak ada yang patut dicurigai dari sikap Ixion yang licik itu. Namun, diam-diam Ixion merencanakan sebuah aksi pembunuhan yang keji.

Sebuah dipan dengan bara api yang menyala-nyala disiapkan. Ia tinggal menunggu saat yang tepat untuk memasukkan tubuh Deioneus hingga terbakar. Rencana itu pun berjalan mulus. Ixion berhasil membunuh mertuanya sendiri. Sebuah tindakan yang sama sekali tak terpuji.

Kisah pembunuhan itu menjadi catatan tragedi pembunuhan antarkeluarga yang pertama kali terjadi dalam mitologi Yunani. Tak pelak, seluruh raja di wilayah sekitar marah besar. Mereka bahkan tak sudi melakukan ritual pensucian bagi Ixion. Singkatnya, Ixion dikucilkan atas dosa besarnya! Ixion, seketika itu menjadi gila.

Kemalangan Ixion itu rupanya mengetuk hati Zeus. Ia tak tega jika Ixion diperlakukan demikian. Maka, diambillah Ixion dan dibawanya menuju Olympus. Ia diperlakukan cukup baik di sana.

Pada suatu ketika, Ixion menyaksikan Hera, istri Zeus. Dan ia merasa jatuh hati pada Hera. Ia pun memberanikan diri mendekati Hera. Bahkan, ia mengutarakan keinginannya untuk bercinta dengan Hera. Zeus yang mendengar kabar itu tak langsung murka. Ia perlu menyelediki kebenaran kabar itu. Baru setelah Zeus mendapatkan kepastian kabar itu, ia mengatur strategi.

Ia menghimpun awan dan menciptakan seorang perempuan dari awan itu yang dimiripkan dengan Hera. Awan itu kemudian dikenal sebagai Nephele (dari kata Nephos/awan). Lantas memerintahkan pada Nephele untuk mendekati Ixion.

Benar saja, birahi Ixion tak terbendung. Terjadilah hubungan percintaan di antara mereka. Dari situlah kemudian terlahir Imbros atau Centaur (manusia setengah kuda).

Peristiwa itu membuat Zeus murka. Seketika itu, Zeus menghantamkan petirnya pada tubuh Ixion. Jatuhlah ia ke dalam Tartaros. Saat itu pula, Zeus memerintahkan pada Hermes agar mengikat Ixion pada roda api yang terus berputar di Tartaros. Tartaros adalah ruang penyiksaan yang berada di bawah tanah. Ruangan itu digunakan untuk menyiksa orang-orang jahat dan penjara bagi para Titan.

Nah, Corona Australis, dalam versi mitologi ini disebut pula sebagai roda Ixion, atau rota api yang menjadi tempat penyiksaan abadi bagi Ixion. Dalam catatan Pindaros (penyair Yunani Kuno asal Thebes) menyebutkan, sifat khusus roda Ixion adalah bersayap dan memiliki empat jari-jari. Sayap yang dimaksud adalah sayap burung, ‘iunx’, genus Jynx, atau wryneck. Yaitu, burung yang oleh orang Yunani Kuno diyakini memiliki daya magis sebagai pemikat birahi.

Burung hutan (genus Jynx) adalah sekelompok kecil pelatuk Dunia Lama kecil. Burung-burung ini memiliki kemampuan memutar kepala hampir 180 derajat. Ketika diganggu di sarang, mereka akan memutar kepala dan mendesis. Perilaku aneh ini membuat mereka kerap digunakan dalam sihir, untuk ‘kutukan’ pada seseorang.

Jadi, begitulah versi lain dari mitologi Corona Australis. Menjadi tempat hukuman bagi Ixion yang berlaku jahat. Tetapi, sekali lagi, itu hanyalah mitos. Soal kebenarannya, tentu layak untuk dipertanyakan. Cuma, masih memungkinkan bagi kita untuk mengambil pelajaran berharga dari mitos itu. Bahwa setiap kejahatan akan ada hukuman yang diterima dan setimpal. Maka, berbuat baik itu menjadi kebutuhan semua orang. Agar segala sesuatu yang mengancam tidak menjadi sebuah petaka. Baca Menelisik Muasal Kata “Corona” – Bagian 7

Bagikan ini :

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan Platform media referensi tentang Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan menarikmu. Ayo kirim esai tulisanmu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap esai mu yang tayang.

donasi cintapekalongan.com
BANTU BERI DONASI
Untuk mengembangkan media ini agar tetap bermanfaat. Terima Kasih

About Ribut Achwandi

Avatar
SING PENTING 'NGEDAN' NING ORA NGANGGO 'NGEDEN'

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang