Home > Pekalongan > Mengenal Jenderal Hoegeng Imam Santoso

Mengenal Jenderal Hoegeng Imam Santoso

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Cintapekalongan.com – Tahukah kamu bahwa Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Imam Santoso yang merupakan Kapolri kelima Negara Indonesia itu berasal dari Pekalongan ? Beliau dikenal sangat disiplin, sangat tegas, sangat sederhana dan sangat jujur dalam hidupnya.

Dia adalah Bapak Polisi Hoegeng , anak bangsa aseli Pekalongan yang mempunyai segudang prestasi membanggakan dan sangat pas menjadi teladan bagi kita semua. Reputasi dan kredibilitasnya tak ada yang meragukan lagi. Menjabat sebagai pucuk pimpinan Kepolisian di Republik ini beliau tetap hidup sederhana tak ada lobi sana lobi sini untuk kemakmuran hidupnya.

Biografi Singkat Jenderal Polisi Hoegeng :

Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Imam Santoso, Lahir di Pekalongan pada tanggal 14 Oktober 1921. Bapak Hoegeng Iman Santoso berasal dari keluarga baik-baik, suatu keluarga yang terhormat. Ayahnya dapat dikatakan orang Tegal, sedangkan Ibu orang Pemalang.

Jenderal Hoegeng Imam Santoso
Biografi Jenderal Hoegeng

Beliau adalah salah satu tokoh kepolisian Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5 yang bertugas dari tanggal 9 Mei 1968 hingga 2 Oktober 1971. Jenderal Hoegeng juga merupakan salah satu penandatangan Petisi 50.

Baca : Peristiwa Berdarah 03 Oktober 1945 di Pekalongan

I. Masuk Pendidikan dan Menjadi Kapolri :

Pada tahun 1940, saat usianya menginjak 19 tahun, ia memilih melanjutkan kuliahnya di Recht Hoge School (RHS) di Batavia. Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat. Dari situ, dia menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952). Lalu menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminil Kantor Polisi Sumatera Utara (1956) di Medan. Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara (1960), Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri luran Negara (1965), dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966.

Setelah Hoegeng pindah ke markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak (1966), dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi juga masih dalam 1966. Terakhir, pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969, namanya kemudian berubah menjadi Kapolri), menggantikan Soetjipto Joedodihardjo.

Baca : Riwayat Sungai Kupang (Kali Loji) yang Legendaris

II. Penghargaan Didapat Jenderal Hoegeng :

Atas semua pengabdiannya kepada negara, Hoegeng Imam Santoso telah menerima sejumlah tanda jasa,

  • Bintang Gerilya
  • Bintang Dharma
  • Bintang Bhayangkara I
  • Bintang Kartika Eka Paksi I
  • Bintang Jalasena I
  • Bintang Swa Buana Paksa I
  • Satya Lencana Sapta Marga
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan (I dan II)
  • Satya Lencana Peringatan Kemerdekaan
  • Satya Lencana Prasetya Pancawarsa
  • Satya Lencana Dasa Warsa
  • Satya Lencana GOM I
  • Satya Lencana Yana Utama
  • Satya Lencana Penegak
  • Satya Lencana Ksatria Tamtama

III. Mengenang Kapolri Hoegeng Imam Santoso :

Ternyata masa menyenangkan itu tidak berlaku bagi Jendral Hoegeng yang anti disogok. Pria yang pernah dinobatkan sebagai The Man of the Year 1970 ini pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yang kemudian menjadi satu-satunya mobil yang ia miliki.Pengabdian yang penuh dari Pak Hoegeng tentu membawa konsekuensi bagi hidupnya sehari-hari. Pernah dituturkannya sekali waktu, setelah berhenti dari Kepala Polri dan pensiunnya masih diproses, suatu waktu dia tidak tahu apa yang masih dapat dimakan oleh keluarga karena di rumah sudah kehabisan beras.

Jenderal Hoegeng Imam Santoso memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri.

“Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun,” kata Merry.

Aditya, salah seorang putra Hoegeng bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang Didit.

Saking jujurnya, Hoegeng baru memiliki rumah saat memasuki masa pensiun. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun menjadi milik keluarga Hoegeng. Tentu saja, mereka mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor ia kembalikan semuanya.

Memasuki masa pensiun Pak Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber penghasilan Sang Jenderal untuk membiayai keluarga. Karena harus anda ketahui, pensiunan dari Pak Hoegeng hingga tahun 2001 hanya sebesar Rp.10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500! Dalam acara Kick Andy, Aditya menunjukkan sebuah SK tentang perubahan gaji ayahnya pada tahun 2001, yang menyatakan perubahan gaji pensiunan seorang Jendral Hoegeng dari Rp. 10.000 menjadi Rp.1.170.000. Pada 14 Juli 2004, Pak Hoegeng meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta dalam usia yang ke 83 tahun. Ia meninggal karena penyakit stroke dan jantung yang dideritanya. Pak Hoegeng selalu mengisi waktu luang dengan hobi melukisnya.

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Prof.Dr.Djoko Simbardjo, Seniman dan Guru Besar FK Universitas Indonesia Asal Pekalongan

Almarhum Gus Dur pernah berkata,

” Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. “

Itulah sekadar beberapa catatan kenangan untuk Pak Hoegeng yang sangat cocok untuk menjadi panutan anak – anak Pekalongan. Seorang yang hidupnya senantiasa jujur, seorang yang menjadi simbol bagi hidup jujur, dan simbol bagi kejujuran yang hidup.

Semoga di hari kelahiran Beliau (14 Oktober 2015 ), akan lahir banyak Hoegeng-Hoegeng di Pekalongan yang mampu membawa Kota Pekalongan menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Bangga jadi Anak Pekalongan.  Salam Cinta Pekalongan

 

Sumber referensi :

1. id.wikipedia.org/wiki/Hoegeng_Imam_Santoso
2. biografiku(dot)com/2012/05/biografi-hoegeng-polisi-paling-jujur-di.html

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About administrator

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor kami dengan mengirimkan tulisan ke contact@cintapekalongan.com