Mengenal Patung Dwarapala "Baron Sekeber" Rogoselo – Cintapekalongan.com - Media No.1 Referensi Pekalongan
Home INFO PEKALONGAN Sejarah Cagar Budaya Pekalongan Mengenal Patung Dwarapala “Baron Sekeber” Rogoselo
Baron Sceber Rogoselo
Arca di Dukuh Kaum, Desa Rogoselo Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan

Mengenal Patung Dwarapala “Baron Sekeber” Rogoselo

Cintapekalongan.com – Pastilah kalian sudah tidak asing lagi dengan Legenda dari Cerita Baron Sekeber yang dipercayai sebagai “sosok” di balik sebuah arca batu yang berada di Rogoselo Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan. Banyak versi cerita rakyat yang melekat dan beradar luas di Pekalongan, termasuk di sebagian besar masyarakat Jawa pada umumnya.

Namun bila di telisik lebih mendalam, ternyata Patung Baron Sekeber ini ialah Patung yang biasa ada di pintu masuk tempat pemujaan zaman Hindu-Buddha silam. Dengan kata lain Patung Baron Sekeber ini aslinya adalah (Arca) Dwarapala.

Apa itu Arca Dwarapala ?

Meruntut dari istilah kata Dwarapala itu sendiri berasal dari kata di bahasa sansakerta “dvar“, yang berarti pintu masuk atau gerbang dan sedangkan Pala artinya penjaga sehingga arti secara keseluruhan adalah penjaga pintu gerbang atau pintu masuk. Dan dalam hal ini bisa dikatakan Penjaga pintu masuk menuju Candi / Kuil Pemujaan.

Arca Dwarapala Baron Sekeber Rogoselo
FOTO: Resnu Bachar

Dwarapala bisa ditemukan dalam beberapa posisi seperti berdiri, duduk atau jongkok dan mereka diletakkan sebagai penjaga pintu bangunan / tempat yang bersifat sakral, biasanya tempat pemujaan dewa atau kuil. Keberadaan Dwarapala di dalam komplek candi terkait dengan pandangan bahwa candi sebagai replika Gunung Meru, tempat tinggal para dewa, demi-dewa, dan para penjaganya. Dan Dwarapala lah yang menjadi pelindung tempat tinggal dewa, posisinya berada di antara wilayah sakral dan profane, atau berada di batas daerah suci dan biasa.

Tokoh lain yang ditemukan memiliki fungsi yang sama seperti Dwarapala pada agama Hindu di Jawa adalah tokoh yang kita kenal dalam dunia pewayangan sebagai Bima. Tokoh Bima sebagai penjaga pintu masuk biasanya mulai digunakan pada sekitar abad ke 14-15 M seperti yang ditemukan pada arca Bima di Candi Sukuh dan Penanggungan.

Keberadaan patung Arca Dwarapala “Baron Sekeber” di Rogoselo seringkali disalah artikan sebagai benda yang berasal dari masa pra-sejarah. Namun pembuatan Patung ini sudah umum pada kesenian Hindu-Buddha yang tersebar di Jawa.

Arca Dwarapala Rogoselo dibuat dari batuan breksi vukanik yang teksturnya sangat kasar. Arca tersebut digambarkan dengan bola mata bulat dan gigi sangat besar, bertaring, dan umumnya memegang alat (gada) yang diletakan di bagian dada sebelah kanan.

Arca Dwarapala Candi Singhasari
Arca Dwarapala Candi Singhasari

Untuk teknik pengarcaannya itu sendiri memiliki kemiripan dengan teknik pembuatan Arca Dwarapala yang ditemukan pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13-14 M). Arca paling besar setinggi 1.4 meter sedangkan satu lainnya memilik tinggi 95 cm dengan sebagian badannya masih tertimbun tanah.

Keunikan yang ditemukan pada Arca Dwarapala Rogoselo ialah tidak ditempatkannya untuk menjaga candi atau petirtaan atau tempat bangunan suci yang biasa dikenal di dalam agama Hindu-Buddha.

Sebaliknya, arca ini malah ditempatkan untuk menjaga sebuah punden berundak. Punden berundak ini biasanya dijadikan tempat untuk menggelar upacara keagamaan. Kondisi ini jelas belum ditemukan di tempat lain karena biasanya punden berundak digunakan untuk sarana pemujaan pada masa prasejarah atau setidaknya merupakan tradisi berlanjut pemujaan nenek moyang.

Patung Dwarapala PT Pagilaran Batang
Patung Dwarapala Di PT Pagilaran Batang

Situs punden berundak Rogoselo ini berada di sebuah bukit kecil di tepian Sungai Rogoselo, dibuat dengan bentuk yang berundak-undak. Masing masing undak diperkuat dengan susunan batu kali berukuran 10-20 cm.

Di bagian puncak punden berundak ini tidak ditemukan menhir tetapi sebuah yoni. Jelas bahwa punden berundak ini telah digunakan oleh para penganut Hindu di Pekalongan sebagai tempat pemujaan.

Baca juga : Situs Gumuk Sigit Desa Rejosari Bojong Kabupaten Pekalongan

Disinilah letak sisi menariknya dari Arca Dwarapala Rogoselo, Bisa dikatakan bahwa ada kemungkinan pada masa lalu, masyarakat Hindu kuno mempersepsikan punden berundak ini sebagai sebuah gunung yang merupakan rumah para dewa sehingga pada bagian bawah diletakan dua Arca Dwarapala sebagai arca penjaga gunung suci dan bagian paling atas diberi lingga-yoni sebagai personifikasi dewa tertinggi Siva.

Sangat menarik bila diteliti lebih lanjut tentang Arca Dwarapala “Baron Sekeber” Rogoselo dengan adat masyarakat masa lalu yang “memodifikasi” sesuatu yang datang dari luar (Hindu-Buddha) menjadi sesuai dengan budaya mereka saat itu.

Salam Cinta Pekalongan

 

Ref : Agustijanto Indrajaya – Kompasiana 2017

Bagikan ini :

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan Platform media referensi tentang Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan menarikmu. Ayo kirim esai tulisanmu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap esai mu yang tayang.

donasi cintapekalongan.com
BANTU BERI DONASI
Untuk mengembangkan media ini agar tetap bermanfaat. Terima Kasih

About Angga Panji W

Avatar
Sebagai anak Pekalongan ingin memperkenalkan potensi kota tercinta ini kepada dunia lewat konten digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang