Home > Wisata Jawa Tengah > Mengenal Potensi Banjarnegara Dengan Famtrip Keren

Mengenal Potensi Banjarnegara Dengan Famtrip Keren

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Cintapekalongan.com – Wisata di Banjarnegara, meskipun tergolong tetangga dari Pekalongan rupanya saya masih belum banyak mengenal potensi-potensi wisata Banjarnegara. Yang ku tahu hanyalah daerah Kali Bening dan Karang Kobar saja, untuk wisatanya hanya Rafting Kali Serayu itupun belum tahu persis bagaimana keadaanya.

Pada kesempatan yang langka, saya berkesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang Banjarnegara melalui acara Famtrip Blogger dan Media pada 10-12 Nopember 2017 silam. Para peserta berdatangan dari berbagai penjuru Jawa Tengah dan DIY, nah kebetulan perwakilan Pekalongan ada 3 peserta. Ada apa saja pada acara Famtrip Banjarnegara kali ini ? yuk mari simak cerita singkat perjalanan saya dan kawan-kawan Genpi Pekalongan.

Berangkat bertiga naik Kerta Api Kamandaka menuju Purwokerto pada 9 Nopember atau kamis sore pukul 18:36 tepat kereta berjalan dan sampai jam kira-kira jam 10 malam. Meski acara baru dimulai pada esok hari di Banjarnegara namun telah disepakati untuk meet point berada di Purwokerto untuk itu kita bertiga telah sepakat agar berangkat lebih awal dengan harapan agar tidak tergesa-gesa, dan beruntungnya ada kawan yang welcome dan baik hati mau memberikan tempat beristirahat untuk kita bertiga disana yakni Mbak Olipe yang rumahnya tak jauh dari Stasiun Purwokerto.

Keesokan hari masih di tempat yang sama kita dijemput Bus Mikro yang menjadi kendaraan angkut selama Famtrip berlangsung. Setelah kawan-kawan dari daerah yang lain berkumpul, perjalanan menuju Banjarnegara pun dimulai.

Perjalanan cukup jauh nan melelahkan karena dari Purwokerto menuju Banjarnegara memakan waktu hampir 2 jam lebih perjalanan darat melewati Purbalingga. Tujuan pertama dari pertama yakni menuju Hotel Surya Yudha Park yang menjadi penginapan dan tempat pembukaan Famtrip pada malam harinya.

Surya Yudha Park - byyugo
Surya Yudha Park – by yugo

Sesampainya di SYP, rombongan langsung berbegas menuju kamar masing-masing yang telah dibagi oleh panitia dan disuruh menyiapkan diri untuk melakukan Rafting di Sungai Serayu, Hmmm… ini yang saya tunggu-tunggu akhirnya bisa terlaksana melihat dan merasakan aliran sungai serayu yang cukup terkenal itu, namun itu tinggal angan-angan saja, hujan deras mengguyur Banjarnegara ketika hendak berjalan menuju titik Start rafting yakni di Basecamp The Pikas, debit air meninggi membuat arus sungai menjadi ganas sehingga demi keselamatan kegiatan Rafting urung dilaksanakan pada siang itu. Namun sebagai pelipur lara, pihak The Pikas memberikan voucher jaminan kepada setiap peserta untuk bermain Rafting gratis kapan pun ketika mereka datang kembali.

Untuk mengisi waktu, penitia dan pengelola Basecamp The Pikas mengajak untuk berkeliling melihat-lihat sarana dan fasilitas yang ada disana. Dan menajubkan fasilitas disini cukup komplit yakni terdapat Restoran dengan manu Tradisional, Penginapan ala pedesaan lengkap dengan sawah-sawahnya, hingga arena outbond yang cukup luas. Sang pengelola pun sempat bercerita bagaimana awalnya The Pikas yang mempunyai kepanjangan kata “PInggir Kali Serayu” berdiri hingga menjadi sekarang ini.

Peninapan-di-The-Pikas
Salah Satu Wujud Penginapan di The Pikas,

Sepulang dari The Pikas, kami pun bergegas membersihkan diri dan sesegera ingin istirahat merasakan nyamannya kamar di Hotel Surya Yudha. Dan malam harinya ada acara pembukaan dan Pengukuhan GenPI Banyumasan yang terdiri dari Banyumas, Banjarnegara,Cilacap, dan Purbalingga.

Keesokan harinya pada Sabtu, 11 Nopember 2017 yang merupakan hari ke-2 kegiatan Famtrip Banjarnegara pun dimulai. Spot pertama yang akan dikunjungi adalah Menilik sentra pembuatan Kerampik Klampok yang sudah tersohor membuat berbagai Kerajinan Keramik di Indonesia. Tak hanya itu, fakta mengejutkan saya dapatkan disini yakni Poci-poci yang terkenal untuk Teh Poci yang ada di Tegal ternyata dibuat dan dipasok dari sini.

Fakta ini saya dapatkan ketika mengunjungi Galery Keramik Usaha Karya milik Ibu Yanti. Menurut penuturan sang owner, usaha keramiknya telah dirintis sejak tahun 1969 oleh alm Bp. Masrun Hadi Suwarno, dan sejak tahun 1994 diteruskan oleh generasi kedua di bawah pimpinan Ibu Yanti. Beliau juga menuturkan dan menjelaskan mengenai Ciri khas Keramik Klampok yakni media dasar berwarna gelap, ukiran tegas, cenderung berlubang-lubang ( krawang ) dan glossy.

Produksi-Keramik-Klampok
Keramik Khas Produksi Klampok

Dan keunggulan lain yang dimiliki produk keramik dari Klampok adalah merupakan jenis ‘gerabah keras’ yang dihasilkan dari proses pengendapan bahan dasar dan pemanasan dengan temperatur tinggi (900-1100 derajat Celcius) dengan lama pemanasan kurang lebih 15 jam. Sementara untuk pasokan bahan baku tidak sembarangan, Tanah harus mempunyai kandungan Kaolin, Silikat dan Besi yang tinggi karena sangat memperngaruhi mutu dan kualitas pembuatan keramik Klampok. Adalah Kebumen, Wonosobo dan Ajibarang yang merupakan Tiga daerah pemasok bahan baku keramik disini.

Prosesi Pembuatan Poci – By Mechtadeera

Setelah selesai explorasi Keramik, kini rombongan diajak untuk menengok Batik Banjarnegara. Lah kok Batik ? Hmm… penasaran bagaimana Batik di Banjarnegara ini berkembang layaknya Batik di Pekalongan.

Sama seperti daerah-daerah Jawa lainnya yang mengembangkan batik, karya seni leluhur bernama batik telah lama mengakar di Banjarnegara, terlebih di Desa Gumelem yang menjadi sentranya batik Banjarnegara. Yang membedakan Batik daerah satu dengan daerah yang lainnya ialah terletak pada Motifnya. Batik Gumelem klasik mempunyai motif khas yang mereka ambil dari kekayaan alam dan budaya lokal setempat, dengan warna cenderung gelap. Aneka motif yang khas ialah Gadjah Uling, Sungai Serayu, Jahe serimpang, Godhong Lumbu, Pring Sedhapur, Udan Liris, Sidomukti, Sidoluhur, Sekar Jagad, Kopi Wutah, dll.

Rombongan juga diajak untuk berkunjung ke SMP N 2 Susukan, di mana para siswanya diwajibkan untuk mempelajari Batik sebagai muatan lokal disini. Yang mencengangkan ialah peralatan membatik yang digunakan, yakni ada kompor khusus yang dipakai untuk melelehkan lilin bertenaga listrik. Hal ini terbilang lebih modern ketimbang kompor minyak maupun gas yang umum digunakan untuk membatik di Pekalongan.

Batik Gumelem - By Mecthadeera
Motif Batik Gumelem – By Mecthadeera

Puas melihat-lihat proses batik Banjarnegara, kegiatan selanjutnya menuju ke Desa Pagak Kecamatan Purworejo Klampok untuk menikmati kekayaan budaya Banjarnegara lainnya yaitu di bidang Kuliner dan Seni Musik. Ada Soto khas desa setempat dengan bumbu kacang yang pas dilidah dan kesenian musik Gumbeng.

Gumbeng merupakan nama alat musik tradisional yang terbuat dari bambu mirip dengan 1 set gamelan. Konon, pada awal pembuatan alat musik Gumbeng adalah kebutuhan bagi para petani yang ingin hiburan dalam rangka merayakan hasil panen mereka, sekaligus sebagai persembahan rasa syukur kepada Dewi Sri yang dipercayai memberikan kelimpahan panen padi mereka. Dikarenakan daerah tersebut tidak dijangkau dengan alat musik berbahan logam bak gamelan, dengan memanfaatkan kearifan lokal yang ada yakni ketersediaan bambu yang banyak di sekitar mereka, akhirnya para petani itupun berkreasi menciptakan suatu alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian pengganti alat musik logam untuk mengiringi kidungan mereka.

Alat Musik Gumbeng
Alat Musik Gumbeng

Memainkan Gumbeng juga dalam rangka ritual budaya sebagai tolak balak / penolak malapetaka antara lain melalui tembang Dandang Gula .

Kesenian Gumbeng dihidupkan kembali dan diperkenalkan lagi ke masyarakat. Dalam suatu kelompok penampilan Gumbeng, diperlukan minimal 12 orang pemain, yaitu 4 orang memainkan alat musik Gumbeng, 2 orang memainkan Dendem, 2 orang menabuh Gong dan melodi, 2 orang memainkan kecruk dan 2 orang lagi memainkan keprak. Disamping itu dibutuhkan pula 1-2 orang sinden untuk melantunkan kidung / macapat.

Puas dipukau dengan alat musik Gumbeng, rombongan Famtrip harus melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya yang berada di Dieng.

Banyak Tempat Wisata Dieng yang bisa anda jumpai, menyuguhkan keindahan alam dengan obyek-obyek Wisata yang menarik lainnya dapat jumpai di Negeri Para Dewa ini. Sebagai informasi saja bahwa Dieng sebenarnya masih ikut kedalam wilayah Banjarnegara, namun karna suatu hal menjadikan Dieng identik dengan Wonosobo.

Dari sekian banyak spot wisata yang ada di Dieng seperti yang pernah saya tulis di 10 Wisata Alam Dieng Yang Kekinian Instagramable Abis, ada dua spot yang menjadi tujuan dalam perjalanan Famtrip kali ini.

1. Bukit Scotter

View-Bukit-Skoter-Dieng
View Bukit Skoter Dieng

Selepas bermalam di penginepan, sehabis subuh rombongan peserta langsung bergegas menuju sebuah bukit yang kekinian di Dieng Banjarnegara yakni Bukit Scotter. Bukit Scotter atau skoter adalah nama yang diberikan masyarakat setempat pada sebuah bukit yang terletak di kawasan Dieng kulon, tepatnya sebelah utara dari kawasan Candi Arjuna.

Dengan view landscape yang menajubkan yakni gunung, bukit-bukit hijau serta perumahan dan perkebunan warga yang cantik. Untuk mencapai puncak bukit ini, kalian harus menyusuri jalan setapak yang cukup berkelok dan sedikit menajak, sekitar 15-20 menitan saja.

Suasana Puncak bukit skoter berupa tanah lapang yang dilapisi rumput hijau dan dihiasi dengan bunga bermekaran disana-sini. Pemandangan gunung di kejauhan menjadi latar belakang yang apik dan gumpalan asap putih mengepul membumbung tinggi, dari ‘pabrik’ gas alam yang ada di Dieng itu.

Bukit-Skoter-Dieng

Jika kalian sampai di puncak Bukit Skoter waktu subuh, maka sunrise cantik akan kalian dapatkan, dan bila kau datang pada sore senja hari maka sunset indah pun akan tersaji untukmu, ditambah lagi dengan kerlap-kerlip bintang di langit kala malam hari.

2. Telaga Merdada

Dari sekaian banyak Telaga yang ada di kawasan Dieng, Telaga Merdada adalah salah satunya yang wajib kalian sambangi ketika wisata ke Dieng. Kenapa ? karena Telaga Merdada merupakan telaga terluas . Dengan luasnya kurang lebih 20 Ha ini dikelilingi perbukitan, tebing dan juga dataran landai yang sebagian berupa areal pertanian. Nama Merdada, konon berasal dari kata ‘dada’ yang berkonotasi luas / lapang.

Selain view yang cantik, wahana lain di Telaga Merdada yang musti kalian coba adalah bermain Kayak yang merupakan salah satu di antara banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sana selain memberi makan burung bangau.

Bermain Kayak di Telaga Merdada by Mecthadeera
Bermain Kayak di Telaga Merdada by Mecthadeera

Dengan uang Rp. 50.000 kalian dapat bermain Kayak di Telaga terluas di kawasan Dieng. Terkadang Kabut datang menutupi perairan namun inilah yang menjadi sensasi pengalaman tersendiri. Apalagi bermain Kayak di Telaga Merdada yang di Shoot pakai Drone, jadi lebih kece dah pokoknya !!

Dan kemudian sebagai penutup perjalanan Famtrip yang luar biasa ini adalah dengan mengunjungi ke pusat pengolahan Carica sekalian mencari oleh-oleh yang berada di Dieng Kulon. Dari Dieng rombongan langsung bergegas menuju kembali ke Purwokerto dikarenakan sebagian besar peserta pulang menggunakan kereta api dengan jadwal sore.

Demikian ringkasan perjalanan Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kab Banjarnegara . Terima kasih saya ucapkan kepada segenap jajaran Dinas Pariwisata Kab Banjarnegara, GenPI Jawa Tengah dan GenPI Banyumasan juga rekan-rekan seperjalanan.

Baca juga : 30 Destinasi Wisata Pekalongan yang Keren untuk Liburan

Salam

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About Angga Panji W

Sebagai anak Pekalongan, Saya ingin memperkenalkan kota tercinta kepada dunia dengan konten kreatif. Mari bergabung dengan saya di cintapekalogan.com untuk bersama mempromosikan Pekalongan dan bisa bermanfaat untuk warganya. Terima kasih, Salam Cinta Pekalongan