Mubarak Kelip, Si Cabe Rawit Andalan Timnas Indonesia

Kisah pemain Timnas pertama dari Pekalongan

Pekalongan – Orang Pekalongan patut bangga karena punya pesepakbola yang masuk ke Timnas. Salah satunya, Muhammad Ridho. Tapi, tahukah kamu kalau ternyata nggak cuman Ridho yang masuk ke Timnas? Nah, siapa dia? Siapa lagi kalau bukan Mubarak Kelip!

Nah, makanya jangan melulu sentimen sama daerah sendiri. Pekalongan nggak kalah keren sama daerah lain, bro! Sejak dulu, Pekalongan sudah jadi inceran persepakbolaan nasional. Ketika masih dijajah Belanda, klub-klub sepakbola asal Pekalongan sempat bikin gempar persepakbolaan nasional.

Tercatat, ada tiga klub asal Pekalongan yang populer kala itu. Thor, THH, dan Al Hilal. Sayang, pemainnya bukan orang Pekalongan. Tapi, mereka adalah dari etnis Tionghoa, Eropa, dan Arab. Jadi, orang-orang Tionghoa, Eropa, dan Arab juga pernah ikut berjasa bagi dunia sepak bola Pekalongan.

Ada juga tim sepak bola asal Pekalongan yang dinobatkan sebagai tim sepak bola tertua di Jawa Tengah. Namanya, Voetball Bond Pekalongan (VBP).

Sekarang kita ke sosok pesepakbola yang kece asal Pekalongan ini. Mubarak Kelip. Dia mulai gabung di Timnas di era 1960-an. Sejak itu, namanya melejit dan mengharumkan nama Pekalongan di kancah nasional dan internasional.

Tapi bentar, gaes… untuk mewujudkan cita-citanya itu, Mubarak Kelip kudu berusaha keras. Ya, seperti kebanyakan anak-anak muda lainnya, keinginan Mubarak Kelip ini bertentangan sama keinginan orang tua. Sang ayah, Sulaiman Kelip, pengin dia kuliah. Maklum, pandangan orang tentang olahragawan atau atlet biasanya miring. Dianggap nggak punya masa depanlah. Nggak njamin hidup layaklah. Dan, seabrek pandangan miring lainnya. Apalagi kala itu honor pemain bola nggak seberapa. Nggak bisa buat berkeluarga.

Menyiasati kerasnya keinginan ayahnya itu, Mubarak punya cara lain. Seperti dituturkan Farid Kelip, pamannya itu diam-diam suka mbolos sekolah. Cuma biar bisa ikut main bola di luar kota. Pantesan, absennya ada bolong-bolongnya. He he he! Tapi, itu mbolos yang baik, karena mbolos buat meraih prestasi! Bukan mbolos buat yang nggak-nggak. Ya kan?

Memang, dari rumah sih pamitnya berangkat sekolah. Tapi, ujung-ujungnya, pihak sekolah datang ke rumah sambil bawa kabar, kalau Mubarak sudah di Jakarta atau di kota-kota lainnya. Hmm… bandel juga rupanya. Bahkan, saat ikutan TC di Timnas, Mubarak nggak izin sama ortunya! Wah wah waaaah… tambeng tapi berkelas!

Baca juga : Oey Soe Tjoen, Legenda Batik Tionghoa Dari Pekalongan

Nah, apa sih yang bikin sang ayah pingin Mubarak kuliah? Rupanya, sang ayah menginginkan agar Mubarak mencontoh kakaknya, Abdullah Kelip. Sang kakak yang seorang terpelajar itu, pada puncak kariernya pernah menduduki kursi empuk Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang. Oalaaah jebul gitu ya?

Kalau begitu, sudah tentu, Mubarak Kelip ini tergolong anak muda yang dilahirkan di tengah keluarga terpandang ya gaes? Boleh dibilang, Mubarak Kelip itu orangnya supel. Mudah bergaul dengan siapa saja. Soalnya, kalau nggak gitu mana mungkin dia berani melakukan itu?

Awal dia berkarier di sepak bola dimulai dari ia ikut latihan bolah klub di lapangan Sorogenen. Lapangan legendaris yang sekarang jadi pasar burung dan pasar darurat. Di situ, dia digembleng sama pelatih pentolan, Muhammad Al Atas dan Abdullah Bandjari.

Nggak dipungkiri, gemblengan duo senior ini telah membuat klub-klub sepak bola Pekalongan diincar klub-klub nasional. Makanya, nggak jarang klub-klub Pekalongan dijadiin ajang uji coba sebelum tampil di kejuaraan resmi yang digelar PSSI. Beberapa klub itu seperti Pardedeteks Medan dan Persija sebelum mereka menghadapi pertandingan internasional di Jepang.

Tim-tim lainnya, Putra Priangan Bandung, Persebaya, PSM Makassar, PSIS Semarang, UMS80, Jayakarta, dan Maesa Jakarta juga pernah menguji klub-klub Pekalongan. Pertandingan, kala itu, biasanya dilangsungkan tiap hari Jumat di Stadion Kraton (sekarang Stadion Hoegeng).

Gara-gara itu, pelatih asal Yugoslavia Tony Pogacnik memaksakan diri untuk mampir ke Pekalongan. Dia sempet nongkrongin lapangan Sorogenen untuk ngamati pemain-pemain bola asal Pekalongan. Dan alangkah terkejutnya Tony. Matanya sampai membelalak. Geleng-geleng kepala, saat melihat Mubarak Sulaiman Kelip merumput di lapangan Sorogenen.

Seperti menemukan mutiara yang terpendam di dasar samudra yang paling dalam, Tony merasa sangat beruntung ketemu Mubarak Kelip. Penyerang dari klub Al-Hilal pun diciduk Tony. Lalu, dimasukan tim junior yang kala itu dilatih Beno Hartman, pelatih berkebangsaan Jerman.

Baca juga : Sosok Adipati Djayadiningrat (Tan Kwee Djan)

Sebelumnya, pada tahun 1961, Mubarak yang awalnya memperkuat klub Al Hilal, akhirnya naik kelas. Dia bergabung ke Tim PSSI JawaTengah. Malah, ia dan tim barunya itu disiapin buat menghadapi pertandingan PON V di Bandung. Di tim ini, Mubarak nggak sendirian. Ada dua pemain asal Pekalongan yang juga masuk ke Tim PSSI Jateng. Yaitu Ahmad Ba’bud dan Barki.

Sayang, saat pertandingan PON itu berlangsung, Tim PON Jawa Tengah ini hanya bisa menyumbangkan medali perunggu. Mungkin, itu debut prestasi yang baik. Semacam pertanda baik untuk Mubarak. Apalagi nama Mubarak banyak dibicarakan orang setelah itu.

Nama Mubarak benar-benar mencuri hati para pemandu bakat binaan Tony Poganik. Tak pelak, Mubarak Kelip ditarik masuk ke Tim Nasional Junior asuhan Benno Hartman dari Jerman. Saat itu, Timnas sedang siap-siap menghadapi Kejuaran Junior Asia III di Bangkok, Thailand. Mubarak bisa masuk tim inti dan Indonesia berada di grup A bersama Korea Utara,Vietnam , Singapura, dan Jepang.

Nggak sia-sia, gabungnya Mubarak ke dalam Tim Nasional Junior sempat mencetak prestasi gemilang. Timnas sempat melibas Vietnam 2-0, menang 2-1 atas Jepang, di tahan Korea Selatan 2-2, dan bermain imbang melawan Singapura 1-1. Di Final grup A, Indonesia yang merupakan juara grup A berhadapan dengan Burma (Myanmar). Kedua kesebelasan tersebut tampil sebagai juara bersama setelah keduanya bermain imbang.

Mubarak Kelip, Pemain Timnas Dari Pekalongan
Mubarak Kelip Masuk Koran Atas Kebehasilannya Menggasak Singapura 4-1

Tahun berikutnya, Mubarak kembali terpilih sebagai  bagian Timnas Junior. Dia juga kembali diterbangkan ke Kejuaran Junior Asia Keempat di Bangkok. Saat itu, Indonesia masuk dalam grup B bersama Korea Selatan, Pakistan, Hongkong, dan Singapura. Pada pertandingan awal, Tim Junior Indonesia sempat mengalahkan Singapura dengan sekor telak 4-1.

Baca juga : Mengenal Eliza Van Zuylen Maestro Seniman Batik Indo-Eropa

Tendangan Mubarak memborong semua gol ke gawang Singapura. Di babak pertama ia mencetak 3 gol, di menit 19, 26, dan 23. Sedangkan gol keempat dicetak melaui dribbling yang cantik dengan mengelabui beberapa pemain Singapura di menit ke-50 babak kedua.

Sedangkan pada pertandingan kedua Indonesia ditahan imbang Korea Selatan 0-0. Adapun pertandinagn kedua, Indonesia masih bisa menang 2-0 atas Hongkong tetapi kalah dari Pakistan 3-0. Di grup B ini, Indonesia yang menempati urutan kedua dan harus puas meraih tempat ketiga setelah dalam pertandingan terakhir mengalahkan Malaysia 3-0. Thailand sebagai tuan rumah akhirnya meraih juara setelah mengalahkan Korea Selatan 2-1.

Tampil cemerlang dalam laga Timnas Junior Asia, membuat Tony memasukkan Mubarak ke Tim Nasional Senior, setelah 10 pemain Timnas senior kena hukuman gara-gara kasus pengaturan skor. Mereka yang terciduk adalah Iljas Hadede, PietjeTimisela, Omo Suratmo, Rukma Sudjana (kapten), Sunarto,Wowo Sunaryo (Persib), John Simon, Manan, Rasjid Dahlan (PSM Makassar), dan Andjiek Ali Nurdin (Persebaya).

Mubarak sendiri bilang, kalau dia masuk Timnas Junior itu di tahun 1962. Latihannya di lapangan Ikada. Senayan ketika itu baru mulai dibangun. Sempat juga ia diujicobakan denganTim Senior asuhan Tony. Maka, nggak heranlah kalau Tony menariknya ke Tim Senior.

Baca juga : Mengenal Jenderal Hoegeng Imam Santoso

Ada cerita menarik lain, gaes. Saat Mubarak masuk Tim Nasional Junior. Dia sempat menyaksikan aksi rencana pembunuhan terhadap Presiden Sukarno, saat melaksanakan salat Idul Adha tanggal 14 Mei 1962.

“Pada waktu itu salat baru di mulai. Semua jamaah sedang rukuk demikian juga dengan presiden Soekarno. Tiba-tiba ada yang menyerang dengan tembakan senjata api pada saf bagian depan. Alhamdulilalh saya yang berada di saf kedua bisa terhindar dari serangan itu,” ungkap Mubarak.

Pada tahun 1962, Tim Nasional melakukan pertandingan internasional. Ada tiga belas kali, diantaranya: 5 kali dalam rangka kejuaraan Yunior Asia di Bangkok, 3 kali dalam Asian Games IV di Jakarta, dan 5 kali di Merdeka Games Kuala Lumpur.

(disarikan dari Ensiklopedia Tokoh Pekalongan – Dirhamsyah, 2011)

Penyunting: Ribut Achwandi


Tulis Artikelmu Sendiri !

Bagikan cerita, pengalaman, opini, karya sastra dan jurnalistik kamu disini. Kiriman Artikel Kamu berkesempatan untuk dibaca oleh jutaan orang di Indonesia. Buruan gabung yuk, Begini caranya


Angga Panji W

Angga Panji W

FOUNDER
Seseorang yang ingin berkarya lewat konten digital.

Related Posts