Opini : Pemimpin Kita Tak Punya Rasa Malu Kepada Allah dan Rasulnya – Cintapekalongan.com - Media No.1 Referensi Pekalongan
Home Opini & Rubrik Opini : Pemimpin Kita Tak Punya Rasa Malu Kepada Allah dan Rasulnya
Tak Punya Rasa Malu Kepada Allah dan Rasulnya

Opini : Pemimpin Kita Tak Punya Rasa Malu Kepada Allah dan Rasulnya

Cintapekalongan.com – Umat islam sangat meneladani atas segala perilaku Rasulullah SAW, karena beliau adalah satu-satu nya panutan yang patut kita teladani, mulai dari tutur kata, sopan santun, sampai tata cara berkehidupan sosial lengkap sudah beliau ajarkan kepada umatnya. Rasulullah adalah kota nya ilmu, segala sesuatu dalam kehidupan yang kita jalani sudah seharusnya mengikuti jejak beliau.

Namun dewasa ini, banyak umat beliau yang ingkar dan melenceng jauh dari apa yang beliau ajarkan. Itulah sebabnya banyak kemerosotan nilai dan moral yang sangat turun drastis. Jangankan meneladani sifat-sifat Rasulullah, meneladani atau ngugemi warisan budaya leluhur saja sekarang menjadi hal yang aneh bagi kalangan manusia modern atau kaum milenial, sehingga mereka banyak yang bingung untuk menentukan arah tujuan hidup.

Kini dapat kita saksikan setiap individu tidak lagi berbicara soal akhlaq atau moral, masingmasing di sibukkan dengan urusan duniawi, urusan perut hingga urusan kekuasaan untuk saling membunuh dan menindas. Rakyat kecil di sibukkan dengan mengais sesuap nasi demi mempertahankan hidup. Rakyat dengan strata diatasnya berfikir bagaimana bisa menyimpan sebanyak-banyak nya harta atau tabungan untuk di peranakan agar semakin banyak kekayaannya. Sedangkan para pemimpinnya di sibukkan dengan segala cara manipulasi ataupun pencitraan bahkan mungkin sihir untuk memperdaya rakyatnya agar mau di tindas dan terus diperas dengan pajak yang kemudian bisa mereka nikmati bersama gerombolannya.

Baca juga : Catatan Wedangan – Kabar dari Gunung

Kita seakan lupa bahwa kita sebenarnya adalah perwakilan Tuhan yang dikirim ke bumi, “inni ja’ilun fil ardhi kholifah”, Setiap manusia adalah khalifah atas dirinya dan atas apa yang ia pimpin, dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia pimpin.

Dalam skala kecil seorang individu harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, karena ia memimpin seluruh anggota tubuhnya. Kemudian pada skala yang lebih luas, seorang lakilaki bertanggung jawab atas kepemimpinannya dalam rumah tangga, istri dan anakanaknya adalah umat yang harus ia pimpin dengan benar.

Lebih luas lagi mereka yang memimpin suatu daerah atau Negara, otomatis pertanggung jawaban nya semakin berlipat. Ia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, Istri dan anak-anaknya, serta umat atau rakyatnya. Jelas sangat berat dan tidak mudah, namun di akhir zaman ini, jabatan ini justru diperebutkan.

Sangatlah sulit menjadi pemimpin yang harus mengurusi umat dengan segala permasalahannya yang begitu kompleks, namun entah kenapa banyak yang menginginkan jabatan itu padahal nyata-nyata ia tak akan pernah mampu.

“laqad jā`akum ras lum min anfusikum ‘azīzun ‘alaihi mā ‘anittum arī un ‘alaikum bil- ụlum ḥarīṣun ‘alaikum bil- ṣun ‘alaikum bilmu`minīna ra` fur ra īm ụlum ḥarīṣun ‘alaikum bil- ” Allah dengan jelas memberi rambu-rambu atau percontohan untuk siapapun yang ingin menjadi pemimpin, Harus bermodalkan seperti apa yang Rasulullah berikan kepada umatnya.

Rasullullah sangat merasa berat akan penderitaan umatnya, beliau ikut merasakan apa yang umatnya rasakan. Beliau sangat menginginkan keimanan dan keselamatan untuk semua umatnya, Beliau sangat-sangat berbelas kasihan lagi penyayang kepada semua umatnya.

Allah telah memberikan kita pedoman agar mencari imam yang seperti KekasihNya itu, sekaligus Allah memberikan tuntunan bagi kita yang Allah percayai untuk menjadi khalifah di atas bumi ini lewat sifat-sifat RasulNya itu.
Tapi sekarang hampir-hampir tidak ada pemimpin yang bersifat ‘azīzun ‘alaihi mā ‘anittum ḥarīṣun ‘alaikum bil- ṣun ‘alaikum bil- ụlum ḥarīṣun ‘alaikum bil- arī un ‘alaikum bil-mu`minīna ra` fur ra īm. Pemimpin yang mau  erasakan
penderitaan rakyatnya, mau menjamin keselamatan rakyatnya serta mengasihi rakyatnya.

Itu semua hanya menjadi gombalan saat masa kampanye dan hilang bagai debu terbawa angin setelah terpilih menjadi pejabat. Apalagi pada saat seperti sekarang ini, saat dimana kita sedang dilanda wabah yang konon
sangat mengerikan, meskipun sebenarnya Allah sudah menyediakan penawar atau obat untuk wabah ini, justru pemimpin kita berlomba-lomba untuk mengamankan dirinya dan keluarganya, lupa akan keselamatan rakyatnya, dan malah mempertontokan kekonyolan lewat berbagai kebijakan yang pada akhirnya hanya menjadi ajang pencitraan agar kelak bisa menjadi pemimpin lagi.

Baca juga : Fitnah Zaman Milenial – Opini

Para pemimpin kita atau yang katanya wakil rakyat, mereka sibuk mencari perlindungan tanpa memikirkan keselamatan rakyatnya. Sungguh kemunafikan yang dipertontonkan dengan jelas tanpa ada rasa malu kepada Allah. Inilah potret keadaan saat ini, dimana para khalifahnya lupa kepada Allahnya dan bukan pada Muhammad mencontoh akhlaqnya.

Allahumaghfirlana…. Semoga kita semua mendapatkan ampunan dari Allah dan mendapatkan Syafaat dari KekasihNya, Sayyidina Muhammad SAW. Amin.

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan Platform media referensi tentang Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan menarikmu. Ayo kirim esai tulisanmu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap esai mu yang tayang.

donasi cintapekalongan.com
BANTU BERI DONASI
Untuk mengembangkan media ini agar tetap bermanfaat. Terima Kasih

About Rizqy Robbany

Rizqy Robbany
Dariku Untuk Pekalonganku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang