Home > Sejarah > Asal - Usul > Penjelasan Sejarah Megono Aseli Pekalongan

Penjelasan Sejarah Megono Aseli Pekalongan

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Fakta Sejarah Sego Megono Makanan Khas Pekalongan
Wujud Sego Megono Pekalongan

Cintapekalongan.com – Setelah beberapa jam yang lalu admin post mengenai sejarah segomegono,banyak nitizen yang memberikan masukan-masukan berharga. Dan yang dipost itu Megono Khas Purworejo / Wonosobo sana.

Nah, Dengan kesempatan ini akan saya paparkan Sejarah Megono yang Aseli Pekalongan.

Bermula dari budaya Kraton Jogjakarta(Mataram Kuno) Jaman Hindu dahulu kala. Adat disana kerap mengadakan Sesaji untuk upacara bekakak. Apa itu Upacara Bekakak ? Simak penjelasnnya dibawah ini.

Sesaji Bekakak dibagi menjadi 3 kelompok,2 kelompok untuk dua jali yang masing-masing diletakkan bersama-sama dengan pengantin bekakak. 1 kelompok lagi diletakkan di dalam jodhang sebagai rangkaian pelengkap sesaji upacara. Macam-macam sesajen yang diletakkan bersama-sama pengantin bekakak antara lain nasi gurih (wuduk) ditempatkan dalam pengaron kecil: nasi liwet ditempatkan dalam kendhil kecil beserta rangkaiannya daun dhadhap, daun turi, daun kara yang direbus, telur mentah dan sambal gepeng: tumpeng urubing dhamar, kelak kencana, pecel pitik, jangan menir, urip-uripan lele, rindang antep, ayam panggang, ayam lembaran, wedang kopi pahit, wedang kopi manis, jenewer, rokok/cerutu, rujak degan, rujak dheplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupaan, candu (impling), nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jerohan, gereh mentah.

Baca : Legenda Dewi Lanjar Ratu Pantai Utara

Sesaji itu ditempatkan dalam sudhi, gelas, kemudian ditaruh di atas jodhang antara lain sekul wajar (nasi ambeng) dengan lauk pauk: sambel goreng waluh, tumis buncis, rempeyek, tempe garing, bergedel, entho-entho, dan sebagainya, sekul galang lutut, sekul galang biasa, tempe rombyong yang ditaruh dalam cething bambu, tumpeng megana, sanggan (pisang raja setangkep), sirih sepelengkap, jenang-jenangan, rasulan (nasi gurih), ingkung ayam, kolak, apem, randha kemul, roti kaleng, jadah bakar, emping, klepon (golong enten-enten), tukon pasar, sekar konyoh, kemenyan, jlupak baru, ayam hidup, kelapa, sajen-sajen tadi ditempatkan dalam sudhi lalu semuanya diletakkan dalam lima ancak, dua ancak diikutsertakan dalam jali dibagikan kepada mereka yang membuat kembang mayang, bekakak dan yang menjadikan tepung (ngglepung) sementara itu disiapkan pula burung merpati dalam sangkar.

Baca : Salah Satu Bukti Peradaban Besar Di Kabupaten Batang

Diatas adalah awal megono dengan bentuknya nasi tumpeng, pinggirnya diberi gudangan / urapan cecek / gori(Nangka Muda) . Dan bila caranya orang Pekalongan,saat itu cecek(Nangka Muda) dipotong-potong kecil dengan ditambahi dengan bumbu parutan kelapa dan bumbu rempah lainnya yang di dhang atau kukus,jadi tidak tercampur seperti yang sekarang ini.

Jaman dahulu cara bersaji ini dibawa ke daerah bawahan Mataram Kuno ,termasuk Pekalongan jaman dulu, karena Pekalongan konon termasuk 3 kota tertua di Pulau Jawa.

Di daerah Pantura khususnya Pekalongan, juga dipakai untuk sedekah pada Dewi Sri , sebagai penguasa Padi. Hal ini agar hasil Padi bisa melimpah dan makmur. Jadi saat itu Nasi tumpeng Megono itu diadakan untuk Sesajian kepada Dewa dewi , itu jaman Hindu dahulu.

Masuknya islam jaman Mataram , mengubah tampilan Megana , karena biasanya Megana diadakan untuk acara Tahlil, Tahmid di masjid-masjid. Setelah itu bukan sebagai sesajian tapi dibagikan untuk dimakan bersama-sama.Isinya pun masih sama seperti dijelaskan diatas. Malah ada “Sekul Wajar” itu adalah sego ambeng dengan lauk pauk dan sego liwet yang nasinya di kukus dengan santan ,ada ayam dan telor yang di gudeg.

Kalau sebelumnya semua dijadikan sebagai sesaji bahkan di larung ke laut,ketika Jaman islam Sego ambeng ini biasanya dibawa pulang dan Tumpeng megononya di bagi untuk makan bersama di masjid saat peringatan islam dilaksanakan. Budaya ini sampai sekarang masih ada , dimasjid-masjid kalau ada peringatan acara islam, ada makan2 di masjid dan ada yg dibawa pulang,serta acara tahlilan atau walimah sego ambengnya di tempatkan dalam wadah yang bisa dibawa pulang.

Inti bahannya masih sama seperti dulu, yakni cecek / Gori (Nangka Muda), tetapi bukan irisan besar lagi melainkan sudah di cacah kecil-kecil ditambah penyedap ala Pekalongan , sebagai masakan pesisir laut utara, ada irisan daun jeruk, ada combrang, tapi tetap dengan parutan kelapa dan bumbu yang di kukus.

Baca juga : Kisah Ki Bahurekso, Adipati Kendal Pertama dan Babat Pekalongan

Zaman sekarang ini,Megono tidak lagi dibuat untuk tumpeng di acara agama saja,melainkan sudah menjadi industri makanan yang menggiurkan. Karena Megono Pekalongan ini mudah dibuat dan rasanya yang khas,maka bentuknya tidak lagi Tumpeng,tetapi berubah menjadi bungkusan kecil dari daun pisang atau daun jati dengan Gereh (Ikan asin) serta tempe mendoan. Seperti di jalan Urip Sumoharjo,Pekalongan Barat. Sepanjang jalan itu banyak sekali ditemui para penjual Nasi Megono yang khas sekarang ini.

Sementara Di Jogja , Tumpeng megono ini berevolusi menjadi masakan Gudeg, tetap dengan Cecek (Nangka) dan ada krecek dan santan manisnya ,masakan ini sudah tidak memakai bumbu kukus lagi. Namun di daerah Bantul masih terdapat Tumpeng Nasi Megono yang dugunakan untuk acara sedekah Bumi.
Dan di Jakarta ada nasi Begana,nama ini mungkin diambil dari Jaman Pasukan Mataram yang menyerbu Batavia, tapi isinya sudah lain bukan nangka lagi.

Baca : Fort Peccalongan, Benteng Tua Milik Kota Pekalongan

Secara tradisi orang Pekalongan masih banyak mempertahankan hal-hal dari Jaman Kerajaan islam Demak sampai Mataram Jogjakarta. Jika makananya Megono,tauto ,Sate Kebo,pindang tetel,Garang asem,sampai dendeng empal itu semua masakan peninggalan jaman dulu.
Dan untuk Minumannya yang masih bertahan dari jaman Majapahit adalah Dawet, Bajigur , Bubur abang putih , Legen , klepon dan serta masakan santan seperti lodeh , bongkrek , putren dan lainnya.

Maka dari itu kita sebagai warga Pekalongan, Jangan malu jika harus sarapan dengan Nasi Megono dan Sayur Lodeh karena itu masakan dari zaman dahulu yang masih eksis sampai saat ini.
Jangan bangga jikalau makan di KFC,Hoka Bento,KEBAB,Burger dll , karena itu bukan kuliner aseli Pekalongan !!!

Baca juga : Bukti Pekalongan Poros Tengahnya Pulau Jawa

Begitulah kira-kira cerita asal-usul Sego Megono yang biasa dimakan oleh orang Pekalongan, Batang, dan Pemalang setiap harinya. Mungkin fakta diatas mengagetkan kawan-awan warga Pekalongan yang ternyata makanan ini bukan dari Pekalongan sendiri. Tetapi jika kawan punya cerita sejarah Sego Megono bisa dishare disini,kita berdiskusi bersama di komentar 🙂

 

Sumber dari : Unung Trusto Widodo .

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About administrator

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor kami dengan mengirimkan tulisan ke contact@cintapekalongan.com

Check Also

Mie Ayam Enak di Pekalongan - pict by Hendro Pramono

TOP 5 Warung Mie Ayam Enak di Pekalongan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...

Pindang Tetel

7 Kuliner Khas Pekalongan yang Lezat dan Populer

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...