Ratu Sima dan Nama Panggilan "Ibu" Orang Pekalongan
Ratu Sima
Ilustrasi Ratu Sima | FOTO : twitter @Shima_KALINGGA

Ratu Sima dan Nama Panggilan “Ibu” Orang Pekalongan

Cintapekalongan.com – Ratu Sima merupakan nama penguasa yang tersohor pada zaman dahulu hingga nama itupun masih menjadi kebanggaan masyarakat Jawa karena dikenal sebagai Ratu yang adil ketika memimpin kerajaan Kalingga yang merupakan kerajaan tertua di Jawa Tengah.

Saking Adil dan sangat dihormati oleh semua orang, Konon, nama Sima dijadikan nama untuk memanggil ibu, “Simak” begitulah orang-orang Pekalongan menyebut ibu mereka. Bahkan di daerah Kajen ada sebuah desa yang bernama “Linggo” yang bisa jadi ini merupakan penggalan dari nama “Ka lingga”.

Peta Kerajaan Kalingga
Perkiraan Peta Kerajaan Kalingga | FOTO : wikipedia

Kisah Ratu Sima tercatat dalam berbagai sumber-sumber asal Tiongkok

Pada zaman dulu, hiduplah seorang ratu yang memerintah negerinya dengan tegas. Dia diingat dengan nama Ratu Sima. Saking tegasnya, barang yang tergeletak di jalan tak kan ada yang berani mengambilnya.

Penasaran dengan ketegasan sang ratu, Raja Da-zi mengirimkan sebuah tas yang berisi uang. Tas itu diletakkan di perbatasan negara sang ratu. Meski melihat tas itu, orang-orang hanya melewatinya. Tak ada yang berani menyentuhnya. Tas itu tetap di sana hingga tiga tahun lamanya.

Suatu hari, putra mahkota tanpa sengaja menyentuh tas itu. Ratu Sima pun marah besar sampai ingin membunuh putranya itu. Namun, dia keburu dicegah para menterinya. “Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu dipotong,” kata sang ratu.

Baca juga : Kisah Laksmini Si Penari Ronggeng dari Lebakbarang

Para menteri kembali menghalanginya. Akhirnya, Ratu Sima memotong ibu jari kaki sang pangeran. Dengan sikapnya, dia ingin memberi contoh kepada rakyatnya. Raja Da-zi pun takut dan tak berani menyerang negara sang ratu.

Begitulah kisah tentang Ratu Sima dalam Catatan Dinasti Tang. Dia merupakan penguasa Kerajaan Ho-ling yang terletak di Jawa bagian tengah. Menurut catatan itu, sang ratu naik takhta pada 674 M. Dengan demikian, Ho-ling menjadi kerajaan pertama di Jawa bagian tengah. Sayangnya, tak begitu banyak sumber sejarah yang menyebutkan soal keberadaannya.

Masa Keemasan Kerajaan Holing

Kerajaan Holing yakni nama lain dari Kerajaan Kalingga merupakan kerajaan bercorak Hindu yang terletak di Pesisir Utara Pulau Jawa. Tepatnya di daerah Jepara dan Pekalongan Jawa Tengah. Diperkirakan kerajaan ini menduduki masa kejayaan sekitar abad ketujuh hingga sembilan masehi.

Masa keemasan Kerajaan Holing berada di bawah pimpinan Ratu Maharani Shima, sekitar tahun 647 masehi. Ratu Shima dikenal sebagai pemimpin yang berwibawa dan tegas. Ia bahkan tak segan menghukum anaknya karena melanggar aturan kerajaan yang sudah ditetapkan.

Pada masa pemerintahan Ratu Shima, pertanian dan perdagangan berkembang pesat. Komoditas yang diperdagangkan antara lain emas, perak, kulit penyu, gading gajah, dan lain-lain. Sebagian penduduk juga mahir memproduksi minuman keras.

Selain pertanian dan perdagangan yang berkembang pesat, Kerajaan Holing juga disebut-sebut sebagai pusat kebudayaan Hindu. Hal ini dibuktikan dengan tiga candi peninggalannya, Candi Angin, Candi Bubrah, dan Candi Sanga Likur. Selain candi, ditemukan juga dua buah prasasti yaitu Prasasti Tukmas dan Prasasti Sojomerto.

Ilustrasi Ratu Sima | FOTO : twitter @Shima_KALINGGA

Mirip dengan penjelasan di Sejarah Lama Dinasti Tang, Ho-ling disebutkan terletak di sebuah pulau di samudra selatan. Posisinya di sebelah timur Sumatra dan di sebelah barat Bali. Jika ke utara menuju Kamboja dan jika ke selatan menuju lautan.

Penduduknya membuat pertahanan dengan kayu. Bahkan bangunan terbesar juga ditutupi oleh daun palem. Mereka punya balai-balai dari gading. Pun tikar yang terbuat dari kulit terluar bambu. Di bangunan ini raja bertakhta.

Baca juga : Kisah Misteri Dewi Rantamsari Yang Melegenda

Kalau makan, penduduknya tak menggunakan sendok atau sumpit. Mereka memasukkan makanan ke mulut dengan jari-jari mereka. Disebutkan juga masyarakat Ho-ling sudah mengenal aksara. Mereka pun telah mengetahui sedikit ilmu astronomi.

Negara itu disebut sangat kaya. Terdapat sebuah gua yang airnya mengandung garam dan keluar dengan sendirinya. Raja tinggal di kota Java (Ja-pa). Dia dibantu oleh 32 menteri tinggi.

Di sekeliling negara ini terdapat 28 negara kecil yang mengakui kekuasaan Java. Pendahulu sang raja, Ji-yan, tinggal di sebuah kota di sebelah timur yang bernama Bu-lu-ga-si. Sang raja seringkali memandangi lautan dari pegunungan di Distrik Lang-bi-ya. Catatan itu juga mengabarkan utusan dari Ho-ling rutin datang ke Tiongkok yang tercatat hingga abad ke-9 M.

Berakhirnya Masa Keemasan Kerajaan Holing

Lini perdagangan yang dikuasai Kerajaan Holing mulai goyah. Ambisi Kerajaan Sriwijaya menguasai perdagangan di seluruh pesisir utara Jawa menimbulkan persaingan sengit. Konon, Kerajaan Holing merupakan salah satu kerajaan yang ingin ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya. Ambisi itu pun berhasil. Sekitar tahun 725 masehi Kerajaan Holing runtuh karena kalah dalam perang dagang.

Kerajaan Holing di bawah kepemimpinan Ratu Maharani Shima dikenang sebagai kerajaan yang masyhur dan beradab. Seorang pemimpin perempuan yang tangkas dan penuh kepedulian terhadap rakyatnya. Pada masa kepemimpinannya, sistem pertanian berkembang baik karena ratu mengembangkan sistem irigasi. Perekonomian rakyat otomatis terjamin

Berita Lain Tentang Kerajaan Kalingga

Berita lain mengenai kerajaan besar Ho-ling menuturkan adanya aktivitas agama Buddha di She-po. Ini, kata Agus, mungkin juga terjadi dalam periode pemerintahan Ratu Sima.

Menurut Catatan Tripittaka, kitab suci Buddha berbahasa Tionghoa yang disusun sekira 720 M, ada seorang Biksu Buddha bernama Gunawarman. Sang Biksu datang dari Kashmir ke Kerajaan Jawa pada permulaan abad ke-5 M atas undangan ibu suri. Gunawarman tinggal di Jawa selama kurang dari 25 tahun (396-424 M).

Disebutkan pula, pada pertengahan abad ke-7 M, seorang pendeta Buddha bernama Hui-ning belajar di Ho-ling selama tiga tahun, sejak 664 sampai 667 M. Dia berguru kepada seorang biksu Jawa bernama Jnanabhadra.

I-Tsing, seorang biksu dari Tiongokok yang pernah bermukim di Sumatra (Sriwijaya) pada pertengahan abad ke-7 M, juga pernah menyebutkan keberadaan kerajaan itu. Dia mencatat adanya kerajaan Ho-ling sebagai negeri yang memiliki pusat pendidikan agama Buddha Hinayana.

Baca juga : Kisah Misteri Dewi Rantamsari Yang Melegenda

Setelah berita adanya utusan pada abad ke-9 M, kerajaan ini tak lagi diketahui beritanya. “Mungkin keluarga Kerajaan Ho-ling kemudian bersatu dengan Wangsa Sailendra. Atau malah mungkin saja Sailendrawangsa itu sebenarnya penerus Kerajaan Kalingan,” tulis Agus.

Bagaimanapun, seperti kata Groeneveldt, berkat Ho-ling dan Ratu Sima, Jawa memiliki reputasi sebagai negara yang kuat dan terorganisasi. Pun dia memiliki kebudayaan yang memadai. (Historia.id)

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan media referensi tentang info Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan mu. Submit esaimu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap esai mu yang tayang.

----------------------------------------------
donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server dan kegiatan amal. Terima Kasih

Mall Cinta Pekalongan

About Angga Panji W

Avatar
CEO @Cintapekalongan.com (JP Media Network) - Saya adalah Blogger paruh waktu dari Indonesia . Tujuan saya disini sebagai anak Pekalongan ingin memperkenalkan kota tercinta ini kepada dunia dengan konten digital. Mari bergabung dengan saya di cintapekalogan.com untuk bersama mempromosikan Pekalongan dan bisa bermanfaat untuk warganya. Terima kasih. Salam Cinta Pekalongan

2 comments

  1. Avatar
    H.Ch.Faurozi Drs..M.Si,

    Menambah wawasan lahirnya istilah “simak” untuk panggilan ibu yang sangat menyayangi dan cinta kasih, seperti yang aku alami memanggil ibuku ” simak”. Untuk Cinta Pekalongan kota kelahiranku di Tahun 1948.

    • Avatar

      Hanya di Pekalongan saja yang memanggil ibunya dengan sebutan “Simak”, tetapi banyak orang-orang pekalongan yg tidak mau tahu sejarah di daerah sendiri

TULIS KOMENTAR

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang