Home > Sejarah > Asal - Usul > Sejarah Asal-usul Kelurahan Bandengan Kota Pekalongan

Sejarah Asal-usul Kelurahan Bandengan Kota Pekalongan

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Cintapekalongan.com – Kelurahan Bandengan adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Pekalongan Utara. Pada awalnya Bandengan adalah sebuah desa yang menjadi Wilayah Kabupaten Pekalongan. Menjadi bagian dari Kota Pekalongan sejak tahun 1988 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1988 Tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pekalongan, Kabupaten Daerah Tingkat II Pekalongan, dan Kabupaten Daerah Tingkat II Batang.

Wilayah Kelurahan Bandengan berbatasan dengan desa Jeruksari Kabupaten Pekalongan di sebelah barat, di sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Dukuh dan Kelurahan Kandang Panjang. Di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Kandang Panjang dan Kelurahan Panjang Baru, sedangkan di sebelah utara berbatasan langsung dengan laut Jawa.

Peta Wilayah Kelurahan Bandengan

Wilayah pesisir menjadikan tanahnya cukup subur untuk pertanian, dan sangat produktif untuk perikanan. Hal ini menyebabkan sebagian besar wilayahnya adalah lahan pertanian dan perikanan pantai berupa tambak. Wilayah permukiman terkonsentrasi di sebelah selatan yang terbagi dalam dua dukuh yaitu Dukuh Seturi di bagian Timur dan Dukuh Bandengan di bagian Barat.

Baca juga : Sejarah Asal-usul Kelurahan Panjang Wetan Kota Pekalongan

Bandengan

Keberadaan Bandengan dimasa lalu cukup membanggakan. Masyarakatnya sebagian besar hidup berkecukupan dari mata pencaharian sebagai petani padi, petani tambak dan nelayan yang setiap hari berangkat melaut.

Orang-orang kaya banyak yang memiliki sawah, tambak dan binatang ternak terutama kerbau. Hal ini menyebabkan mereka mampu bekerja bahkan mempekerjakan masyarakat sekitarnya untuk secara terus menerus. Setelah bertanam padi, mereka mengurus tambak, mengurus ternak dan bagi yang tidak memiliki ternak dapat berangkat melaut.

Dipinggir laut terdapat lahan hutan bakau yang cukup lebat diantara tambak. Keberadaannya menjadi tempat pemijahan yang baik untuk perkembangbiakan bandeng. Perkembangan selanjtunya masyarakat memelihara bandeng dalam tambak.

Panen bandeng hampir selalu berlimpah dan mutu serta rasa bandengnya enak sehingga disukai banyak orang Terkenalnya bandeng tersebut mengakibatkan konsumen bandeng Pekalongan dan daerah yang mendapatkan suplai berusaha menanyakan dari daerah mana bandeng tersebut berasal. Konsumen mendapatkan jawaban bahwa bahwa bandeng tersebut berasal dari daerah yang memiliki banyak bandeng di sebelah barat Panjang.

Daerah bandeng itulah yang akhirnya disebut dengan bandengan. Secara tata bahasa Jawa, bandengan berarti nggon (tempat) bandeng, atau nggon sing akeh (Tempat yang banyak) bandeng.

Kantor Kelurahan Bandengan

Seturi

Secara bahasa terutama bahasa Jawa sebagai bahasa ibu masyarakat setempat kata seturi tidak memiliki arti. Apabila di runut dalam tata bahasa jawa kata yang paling dekat dengan seturi adalah kata TURI. Turi (Sesbania grandiflora) adalah nama tumbuhan yang berdaun kecil sejenis alba yang termasuk keluarga leguminocaae.

Baca juga : Sejarah Kuliner Tauto Pekalongan

Diceritakan oleh Bapak Slamet Abidin dan Bapak Karibkin bahwa di masa lalu sepanjang pematang, jalan dan kebun yang tidak termanfaatkan di wilayah tersebut banyak ditumbuhi pohon turi.

Masyarakat setempat meyakini bahwa menanam pohon turi dapat menjaga kesuburan tanah. Secara teori tumbuhan yang kacang-kacangan atau berbunga kupu-kupu, memiliki akar yang berbintil-bintil serta mampu menambat nitrogen dari udara.

Hal inilah yang menyebabkan tanah menjadi subur. Selain itu bunga turi dapat dimanfaatkan untuk sayuran, dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Tak jarang turi dipergunakan pula untuk pengobatan.

Lambang Sari

Lambang sari adalah nama resmi Kelurahan sebelum diubah menjadi Bandengan. Pada masa kolonial maupun awal kemerdekaan nama desa masih Lambang Sari. Bapak Karibkin menuturkan bahwa Lambang Sari bermakna tanda atau simbol atau penanda dari inti, indah atau hakikat sebuah kesempurnaan.

Hal ini disebabkan kesejahteraan masyarakat setempat yang mendapatkan karunia tanah yang subur sehingga panen padi selalu melimpah, hasil tambak yang senantiasa bagus dan bandengnya pun sangat enak masih ditambah di tanah Lambang Sari hasil bunga melatinya berkualitas sangat bagus dan dipesan oleh pabrik teh terbesar di Pekalongan dengan harga yang lebih tinggi dibanding daerah lain.

Baca juga : Sejarah Gedung Bakorwil Pekalongan

Kemasyhuran melati dari desa ini menjadikan masyarakatnya menamai desa mereka dengan kata sari bermakna tenteram, indah atau sempurna. Dinamika pemerintahan dan perekonomian yang senantiasa berubah akhirnya mempengaruhi pola pikir dan pola hidup masyarakat.

Usaha bandeng yang sangat dominan dan menjadikan tetenger (ikon) dirasa lebih “menjual” dibandingkan dengan Lambang Sari sebagai nama desanya maka diubah menjadi Bandengan.

Kali Betingan

Kali Betingan adalah sebuah saluran irigasi yang melintas di Bandengan. Dituturkan oleh Bapak Slamet Abidin bahwa saluran ini dimasa lalu banyak hidup ikan keting (sejenis ikan lele yang hidup di air payau). Ikan keting ini banyak diambil oleh masyarakat setempat untuk dikonsumsi. Dari kata Keting inilah masyarakat menamakan sungai tersebut dengan nama kali betingan.

Kali Segrabyag

Hampir sama dengan kali Betingan, Segrabyag adalah nama saluran irigasi besar yang melintasi wilayah utara Bandengan. Saluran ini banyak dihuni oleh ikan-ikan sehingga banyak orang yang mencari ikan.

Di samping tempat itu banyak pula masyarakat petani mengalirkan air ke sawah mereka. Di masa lalu masyarakat bergotong royong bersama-sama memelihara irigasi, bertanam padi, maupun memanen ikan. Ketika melewati sungai mereka mendengar suara grabyag-grubyug kaki melewati sungai.

Baca juga : Sejarah Brug Lengkung Pekalongan

Disamping itu istilah grabyag-grubyug juga menggambarkan adanya rasa susah dan senang dipikul secara bersama-sama. Identik dengan seturi, kata grabyak mendapatkan tambahan kata “se” sehingga menjadi segrabyag.

Kisah Mbah Saringin Bandengan

Salah satu cerita yang berkembang di Bandengan adalah Mbah Saringin yang merupakan Lurah Desa Setempat pada masa pemerintahan Belanda. Diceritakan bahwa beliau adalah seorang preman yang sakti, kejam, namun disegani pihak Belanda sehingga diangkat menjadi pimpinan desa. Dia suka mengambil wanita cantik untuk diperistri walaupun sudah menjadi istri orang.

Namun demikian terhadap setiap wanita yang dinikahinya selalu diberikan nafkah dan rumah sebagai wujud tanggung jawabnya. Walaupun sebagai seorang bandit, akan tetapi Mbah Saringin sangat hormat pada ulama. Salah satu ulama yang disegani adalah Kyai Yusuf. Dituturkan oleh Bapak Karibkin bahwa Kyai Yusuf Sirodj pernah berujar kalau jadi bandit jangan tanggung, jadilah seperti Saringin, bandit besar tetapi tetap hormat pada ulama.

Bandengan yang dulu dikenal sangat asri dan subur kini sedang menghadapi masalah sebagai akibat dari fenomena alam yang sangat sulit untuk ditangani. Sebagian besar wilayahnya digenangi oleh rob atau air pasang yang masuk ke daratan sehingga kehidupan masyarakatnya menjadi tidak sesejahtera dulu.

Baca juga : Sejarah dan Legenda Desa Kutorojo

Namun semua kearifan diharapkan untuk tetap hidup dan terus menjadi karakter masyarakatnya.


Sumber : Agung Tjahjana – Mengungkap Asal-Usul Nama Kelurahan di Kota Pekalongan – KPAD Kota Pekalongan.

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About administrator

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor kami dengan mengirimkan tulisan ke contact@cintapekalongan.com