Home > PEKALONGAN > Sejarah > Asal - Usul > Sejarah Asal-usul Kelurahan Dekoro Kota Pekalongan

Sejarah Asal-usul Kelurahan Dekoro Kota Pekalongan

Cintapekalongan.com – Kelurahan Dekoro terletak di Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan terdiri dari dua dukuh yaitu Dukuh Dekoro dan Dukuh Setono, dengan batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Degayu, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Gamer, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Karang Malang dan sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Poncol Baru yang dibatasi dengan Kali Banger.

Sebelumnya wilayah Kelurahan Dekoro yang meliputi Dekoro dan Setono masih merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Batang, kemudian sekitar tahun 1991 Kelurahan Dekoro masuk dalam wilayah Kota Pekalongan tepatnya masuk dalam Kecamatan Pekalongan Timur.

Sejarah atau history Kelurahan Dekoro tidak bisa lepas dari dua kelurahan yaitu Kelurahan Karang Malang dan Kelurahan Dekoro serta Dukuh Setono itu sendiri. Kelurahan Dekoro merupakan kelurahan tertua di Kota Pekalongan bahkan jauh sebelum adanya babat Kota Pekalongan atau bisa dikatakan Dekoro lebih tua dari Pekalongan.

Peta Jadul Kelurahan Dekoro
Peta Jadul Kelurahan Dekoro

Babat Kota Pekalongan bermula ketika sebelum Mataram menyerang VOC di Batavia pada sekitar tahun 1610 an. Dalam rangka menyerang VOC di Batavia tersebut armada laut Mataram membutuhkan dukungan logistik dipesisir utara jawa.

Baca juga : Sejarah Asal-usul Kelurahan Poncol Kota Pekalongan

Sehingga Ki Ageng Cempaluk mendapat tugas dari kesultanan Mataram untuk membuka kawasan dipesisir utara Jawa tersebut. Kemudian Ki Ageng Cempaluk memerintahkan anaknya yaitu Joko Bahu atau yang lebih dikenal dengan Ki Bahu Rekso untuk membuka kawasan hutan gambiran di pesisir utara Jawa yang sekarang menjadi wilayah Kota Pekalongan.

Sebelum Mataram menyerang VOC di Batavia tersebut atau sebelum adanya Babat Kota Pekalongan, Dekoro sudah mempunyai wilayah lebih dulu yang di kuasai oleh Ki Madukoro. Ki Madukoro adalah seorang penguasa yang sakti dan mempunyai ilmu beladiri hebat.

Namun kesaktiannya sering digunakan untuk hal kejahatan seperti penjarahan dan perampasan. Sedangkan Karang Malang dikuasai oleh Ki Ageng Karang Malang. Ki Ageng Karang Malang juga seorang penguasa yang sakti dan kejam serta senang menjarah harta benda warga seperti layaknya Ki Madukoro. Suatu ketika terjadi perselisihan antara Ki Madukoro dan Ki Ageng Karang Malang dalam merebutkan luas dan batas wilayah kekuasaan masing masing.

Dalam perselisihan tersebut yang tidak kunjung usai, datanglah seorang pendakwah yang bernama Mbah Duk. Mbah Duk adalah seorang pendakwah yang bijaksana dan sering memberikan arahan/ nasihat kepada masyarakat sehingga mendapat julukan Mbah Dakwah. Dengan usahanya beliau berhasil menghentikan perselisihan antara Ki Madukoro dan Ki Ageng Karang Malang.

Setelah perselisihan antara Ki Madukoro dan Ki Ageng Karang Malang usai, ternyata keributan tidak berhenti sampai disitu. Kebijaksanaan Mbah Duk dalam berdakwah dan memberi nasihat membuat masyarakat tertarik untuk menjadi murid beliau termasuk anak buah Ki Madukoro juga ikut berpindah menjadi murid Mbah Duk.

Baca juga : Sejarah Asal-usul Kelurahan Keputran Kota Pekalongan

Hal ini membuat Ki Madukoro sangat murka terhadap Mbah Duk sehingga terjadi pertikaian antara Mbah Duk dengan Ki Madukoro. Tatkala pertikaian antara Mbah Duk dengan Ki Madukoro yang tak kunjung usai, datanglah seorang wali yang dikenal dengan Syekh Maulana Maghribi.

Peta Kelurahan Dekoro Sekarang
Peta Kelurahan Dekoro Sekarang

Wali tersebut dapat memahami pertikaian yang terjadi antara Mbah Duk dengan Ki Madukoro dan menyelesaikan pertikaian mereka berdua, kemudian beliau berkata :

“Ngger.. mandekko anggonmu luru perkoro, aku reti opo seng siro loron karepke. Siro loron bakal tak dadekake penguasa ing wilayah mriki”

dan jika diartikan kedalam bahasa Indonesia akan seperti ini

“Nak., berhentilah mencari masalah, saya tau apa yang kalian berdua inginkan. Kalian berdua akan saya jadikan penguasa di wilayah ini”

Sehingga pertikaian dapat dihentikan dengan pembagian wilayah sebelah selatan dikuasai Ki Madukoro dan wilayah sebelah utara dikuasai Mbah Duk/Dakwah.
Dari kata-kata “mandekko anngonmu luru perkoro” tersebut kemudian dimaknai dalam dua suku kata yaitu Dek dan Koro. Dek dari asal kata jawa Mandek yang artinya Berhenti, sedangkan Koro dari asal kata Jawa Perkoro yang artinya Masalah.

Baca juga : Sejarah Terbentuknya Kota Pekalongan

Sehingga digabung menjadi DEKORO (mandek perkoro/ berhenti bermasalah). Sedikit yang mungkin terlupakan bahwa dalam dialek Jawa huruf u yang berada diantara dua konsonan sering berubah menjadi e.

Sebagai contoh kata Sumbawan berubah menjadi sembawan, gumampang menjadi gemampang. Tidak menutup kemungkinan kata Dekoro sebenarnya berasal dari nama Ki Gede Madukoro atau Ki Dukoro itu sendiri.

 

Sumber :  Ribut Achwandi, Rusanti – Mengungkap Asal-Usul Nama Kelurahan di Kota Pekalongan – KPAD Kota Pekalongan.

▼ Bagikan ini ▼

donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya jika media ini dirasa bermanfaat. Donasi ini akan digunakan untuk perawatan, operasional dan kegiatan amal bersama cintapekalongan.com. Terima Kasih


About administrator

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor untuk kemajuan daerah dengan mengirimkan ulasan/esay/tulisan ke contact@cintapekalongan.com

TULIS KOMENTAR