Sejarah Asal-usul Kelurahan Podosugih Kota Pekalongan
Peta Kelurahan Podosugih
Peta Kelurahan Podosugih

Sejarah Asal-usul Kelurahan Podosugih Kota Pekalongan

Cintapekalongan.com – Diceritakan secara turun temurun dan kakek buyut ke anak cucu mengenai sejarah asal-usul kelurahan Podosugih Pekalongan bahwa sebelum menjadi nama Podosugih dulunya adalah Desa Sengon. Kemudian disebut dengan Dukuh Sengon ketika wilayah ini menjadi Desa Pofosugih. Disebut Dukuh Sengon karena pada waktu itu terdapat dua pohon sengon kecil yang dulu terletak di Makam Sikembang dan sengon yang besar di sebelah kiri Gang Haji Palal.

Di sekitar Dukuh Sengon juga terdapat beberapa dukuh, di antaranya Dukuh Ponolawen, dan Kebon Terong. Warga yang hidup di luar Dukuh Sengon dalam kehidupan sehari-harinya biasa-biasa saja, bahkan banyak yang miskin serba kekurangan. Namun begitu mereka hidup senang karena berdampingan dengan warga Dukuh Sengon.

Kebetulan di Dukuh Sengon terdapat dua orang kaya yang sangat dermawan yaitu Bapak Haji Palal, Bapak Haji Syukur, dan beberapa orang kaya lain. Mereka adalah orang kaya yang sudah menunaikan ibadah baji. Di sekitar Dukuh Sengon juga ada beberapa orang kaya, seperti Haji Asikin, Haji Bawon, Haji Chamin, Haji Nuh dan Hajjah Sum.

Adapun profesinya kebanyakan juragan batik. Selain bidang batik, mereka juga mempunyai lahan pertanian yang ketika panen sawah (sabin/pari) atau padi mampu memberikan Pajak Hasil Bumi yang cukup besar ke Pemerintah Daerah pada waktu itu. Kebanyakan juragan batik di Dukuh Sengon ini terkenal baik hati, suka menolong, dan tidak sombong.

Baca juga : Sejarah Asal-usul Kelurahan Kebulen Kota Pekalongan

Hal ini dapat dilihat dari hubungan antara juragan dengan pengopeng/buruh sangat harmonis. Keharmonisan ini dapat dilihat dari tidak ada gap/jarak di antara mereka. Tidak ada masalah upah kurang bagi para buruh. Para buruh merasa hidup cukup dalam kesehariannya. Terlebih bila mendekati hari raya, pasti ada persenan atau tunjangan tambahan penghasilan dalam menyambut hari raya yang diberikan sehingga dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.

Kekayaan dan kedermawanan Haji Palal dan Haji Syukur ditambah haji-haji lainnya terkenal jauh sampai ke luar Dukuh Sengon. Selain dermawan juga gampangan (mudah) dalam memberikan bantuan pada orang lain yang rnembutuhkan. Sehingga banyak orang terutama dari dukuh tetangga sering meminta bantuan kepada mereka. Bentuk bantuan yang sering dilakukan kepada masyarakat adalah bantuan meminjamkan gerobak sapi/kerbau yang dimiliki kedua haji ini dan haji lainnya.

Bantuan gerobak ini di masa lalu memang sangat dibutuhkan warga sekitar karena merupakan alat transportasi yang sering dipakai dan tidak semua orang mampu memilikinya. Pada waktu itu, gerobak diperlukan sebagai sarana transportasi untuk membawa kayu dan bambu, barang dagangan, basil panen, punya gawe atau hajatan, bahkan pindahan rumah. Selain gerobak sapi/kerbau, juga memberikan bantuan meminjamkan dokar bagi warga yang sedang membutuhkan.

Legenda Bendera Merah Putih Tanpa Jahitan

Kedekatan antara juragan dengan buruhnya ternyata bukan hanya bidang ekonomi saja. Namun mereka juga kompak dalam mendukung Kemerdekaan Republik Indonesia. Ketika Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, orang-orang Dukuh Sengon sepakat membuat Bendera Sang Saka Merah Putih sebagai Lambang Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bendera Merah Putih Tanpa Jahitan

Dengan dipelopori juragan batik bernama Haji Palal dan Haji Sultan Makruf / SM, mereka membuat Bendera Merah Putih yang pertama di Pekalongan. Salah satu bukti peran serta juragan batik di sini terdapat pada Bendera Merah Putih yang proses pembuatannya sama sekali tanpa jahitan. Karena proses pembuatannya dengan mencelup sebagian bahan kain putih dengan warna merah.

Baca juga : Sejarah Monumen Juang Kota Pekalongan

Ukuran Bendera Merah Putih tersebut adalah panjang 2,4 cm dan lebar 1,2 cm. Bendera Merah Putih ini diarak ke pusat keramaian (sekarang Monumen Perjuangan – Masjid Syuhada). Ternyata penjajah Belanda pun tak tinggal diam memburu orang-orang yang membawa Bendera Merah Putih ini. Bendera ini beberapa kali pindah tangan dan pindah tempat agar tidak tertangkap penjajah Belanda karena kalau sampai tertangkap, penjajah Belanda tidak segan-segan menembak orang-orang yang membawanya.

Asal Mula Penyebutan Podosugih

Padamasa Presiden RI pertama Ir. Soekarno, Dukuh Sengon masih dipimpin Lurah Pak Gimin sekitar tahun 1945. Dilanjutkan sekitar tahun 1950 dijabat Lurah Pak Rambat. Kemudian pada masa kepemimpinan Lurah Pak Rambat, Dukuh Sengon mendapat bantuan dari Pemenintah Daerah. Bantuan itu berupa danauntuk kebutuhan masyarakat yang kurang mampu. Pada waktu itu dukuh-dukuh di Pekalongan semua mendapat bantuan dana karena hampir semua dukuh mengalami kekurangan akibat stabilitas negara yang terganggu sehingga berdampak pada masalah ekonomi yang diderita rakyat Indonesia.

Ketika Pemerintah Daerah akan memberikan bantuan dana ke Dukuh Sengon. Para juragan batik mengajak Pemerintah Daerah dan warga untuk berkumpul bermusyawarah membicarakan dana itu. Akhirnya para juragan dan warga sepakat untuk menolak bantuan dana itu dengan cara halus. Mereka mengatakan kepada wakil Pemerintah Daerah bahwa sebenarnya mereka tidak menolak aliran dana ini.

Namun karena banyak orang di luar Dukuh Sengon yang masih sangat membutuhkan dana itu maka lebih balk diberikan kepada yang lebih berhak menerima. Mendengar penuturan dari orang Dukuh Sengon yang menolak halus bantuan dana itu, Pemerintah Daerah dan orang-orang di luar Dukuh Sengon pun berdecak kagum.

Baca juga : Sejarah Asal-usul Kelurahan Noyontaan Kota Pekalongan

Utusan Pemerintah Daerah mengatakan, “Berarti orang-orang sini ajib, wonge podo sugih-sugih, sugih donya Ian sugih ati, jadi tidak memerlukan bantuan Pemerintah, bahkan menyarankan untuk memberikan bantuan danaini ke dukuh-dukuh lain yang lebih membutuhkan”.

Peta Kelurahan Podosugih
Peta Kelurahan Podosugih

Orang-orang Dukuh Sengon pun hanya tersenyum saja sambil mengamini. Setelah acara kumpul musyawarah warga dengan Pemerintah Daerah, entah awalnya dan siapa yang memulai, ada yang mengusulkan agar Dukuh Sengondiganti saja menjadi Desa Podosugih.

Karena arti Podosugih lebih bermakna daripada Sengon. Secara etimologi Podo berasal dari bahasa Jawa berarti sama atau ketika menjelaskan kata ikutannya berarti semua. Sugih berarti kaya sehingga Podosudih dapat diartikan sebagai semuanya kaya atau tempat orang-orang kaya. Kalau Podosugih berarti orang-orangnya kaya tapi kalau Sengon artinya hanya sekedar pohon sengon.

Lama-lama usulan ini meluas dan diketahui semua warga Dukuh Sengondan sekitarnya. Dulu sebelum menjadi Podosugih, Ponolawen adalah sebuah desa yang wilayahnya ada di sekitar perempatan Ponolawen Jalan Wilis. Demikian pula dengan Kebon Terong yang berada di sekitar MasjidMusholin. Hingga pada akhirnya masyarakat Dukuh Ponolawen dan Dukuh Kebon Terong dengansenang hati setuju bergabung dengan desa yang banyak juragan batiknya yakni Desa / kelurahan Podosugih sampai sekarang ini.

Bergabungnya Ponolawen ke Podosugih

Dulu masyarakat Dukuh Ponolawen dan Dukuh Kebon Terong butuh bantuan apapun selalu diberi bantuan dengan senang hati oleh para juragan terutama Bapak Haji Palal dan Bapak Haji Syukur dari Dukuh Sengon. Ketika Desa Sengon mengganti nama menjadi Podosugih maka merupakan kesempatan yang baik untuk bergabung menjadi satu.

Baca juga : Sejarah Pasar Sentiling (Banjarsari) Pekalongan

Mereka berharap dengan bergabung dan menganti namadesanya menjadi Desa Podosugih akan ikut menjadi sugih/kaya. Satu keinginan luhur adalah jika nanti sudahsugih/kaya masih tetap ringan tangan seperti yang telah dilakukan parajuragan batik dari Desa Podosugih an warganya. Mereka meneladani Bapak Haji Palal, Bapak Haji Syukur dan haji-haji lain yang Podo-podo/sama-sama Sugih/kaya.

Walaupun berlimpah harta mereka tidak lupa diri hingga menjadi sombong dan pelit tetapi justru baik hati dan suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuan. Kebaikan-kebaikan ini bahkan ditiru warganya dengan menolak bantuan dana dari Pemerintah Daerah. Warga Dukuh Ponolawen dan Dukuh Kebon Terong merasa segan terutama dengan kebaikan para haji ini dan warganya.

Pada periode sekitar tahun 1960-1975 Podo sugih dipimpin oleh Kepala Desa yang bernama Bapak Tasjid Rono. Pada tahun 1975-1980 dilanjutkan Kepala Desa Abdul Salam hingga terjadi pergantian Desa Otonom Podosugih menjadi Kelurahan Administrasi yakni Kelurahan Podosugih.

Sumber : Muh. Agus Arifuddin, S. Pd – Mengungkap Asal-Usul Nama Kelurahan di Kota Pekalongan – KPAD Kota Pekalongan.

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan media referensi tentang info Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan menarikmu. Ayo kirim esai tulisanmu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap esai mu yang tayang.

----------------------------------------------
donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server dan kegiatan amal. Terima Kasih

About Admin

Avatar
PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan.

TULIS KOMENTAR

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang