Sejarah Asal-usul Kelurahan Pringlangu Kota Pekalongan

Sejarah Asal-usul Kelurahan Pringlangu Kota Pekalongan

Cintapekalongan.com – Pringlangu adalah salah satu kelurahan yang menjadi wilayah dari Kota Pekalongan sejak adanya pemekaran tahun 1987. Wilayahnya tidak terlalu luas, di selatan berbatasan dengan Kelurahan Kradenan dan Kelurahan Buaran.

Di sebelah timur dan utara berbatasan dengan kelurahan Medono, di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Tegalrejo dan Bumi Rejo. Kini ketiga kelurahan ini telah menjadi satu dengan nama Pringrejo.

Pringlangu dahulu memiliki dua dusun yang cukup besar yaitu dusun Papringan dan dusun Boyolangu. Wilayah Papringan wilayahnya meliputi sebelah masjid besar ke selatan sampai dengan Pringlangu Gang 8 kearah barat sampai dengan Perbatasan Bumirejo dan ke timur sampai dengan Kradenan. Adapun dusun Boyolangu berada di sebelah utara masjid dari gang 1 ke arah barat sampai dengan Bumirejo dan Tegalrejo serta ke arah timur sampai dengan perbatasan Medono.

Boyolangu berasal dari dua kata boyo yang berarti buaya dan langu yang berarti anyir atau berbau busuk. Sehingga apabila dipersatukan dapat diartikan dengan buaya yang berbau langu atau anyir. Beberapa narasumber yang rata-rata usianya telah sepuh menceritakan bahwa di masa lalu di sebelah selatan pabrik Pringgading (sekarang pabrik Perban), ada tanah cekungan seperti rawa yang cukup luas.

Rawa tersebut ditinggali oleh buaya. Sebagai hewan pemakan daging, setiap kali memakan mangsanya seringkali tidak sampai habis. Akibatnya rawa dan sekitarnya timbul bau langu, seperti busuk bangkai yang tak kunjung hilang. Dikisahkan bahwa dulu masyarakat sekitar pada awalnya tidak mengetahui bahwa dalam rawa tersebut ada buayanya. Suatu saat ada penggembala binatang yang setiap pulang binatangnya hilang namun tidak ada yang mencuri.

Peta Kelurahan Pringlangu

Lama-kelamaan semakin jarang orang menggembala di sekitar rawa tersebut. Ada yang bercerita bahwa karena tidak ada lagi makanan, maka buaya tersebut pergi ke darat dan memangsa seorang anak yang sedang bermain sehingga akhirnya diketahui adanya buaya ganas didalam rawa. Seiring dengan berjalannya waktu ada beberapa versi tentang hilangnya buaya tersebut.

Ada yang menyebutkan bahwa buaya yang ada di rawa adalah buaya siluman yang bermaksud untuk menyerang masjid di dekatnya. Masjid ini mungkin adalah Masjid Jami Pringlangu tetapi karena ketaatan dan ketulusan para santri dan kyai dalam beribadah maka buaya tersebut akhirnya hilang dengan sendirinya karena tidak kuat melawan kekhusyukan orang beribadah.

Versi lain menyebut bahwa setelah memangsa manusia maka diadakan perburuan untuk membunuh buaya. Ada pula yang menyebut tidak ada yang tahu mengapa rawa tersebut mengering dan Di sebelah selatan dari rawa berbuaya, ada perkampungan yang dikelilingi dengan rumpun bambu yang lebat. Bahkan di waktu itu rumpun bambu yang ada membuat tempat dibawahnya gelap seperti di dalam ruangan.

Banyaknya rumpun bambu yang hampir satu kampung luasnya itulah yang akhirnya menjadi penanda. Setiap orang menyebutnya dengan papringan atau tempat yang ditumbuhi banyak bambu. Oleh karena itulah maka desa itu disebut dengan Papringan. Pada tahun 1920 sampai dengan 1930 pemerintah kolonial menyederhanakan pemerintahan desa.

Masjid Asy Syafii Pringlangu

Antara tahun tersebut desa Papringan dilebur dengan desa Boyolangu menjadi Pringlangu yang merupakan distrik Buaran. Di Desa Pringlangu ada sebuah Masjid Jami yang sangat dikenal oleh masyarakat Pekalongan. Masjid ini didirikan oleh K.H. Abdul Majid yang merupakan orang tua dari Bapak K.H. Syafii.
Dulu masjid ini hanya berukuran 11 x 11 meter. Para keturunannya memberi nama masjid tersebut dengan nama masjid Asy Syafii katena banyak yang tidak mengenal K.H. Abdul Majid, akan tetapi lebih mengenal K.H. Syafii walaupun keduanya adalah pengasuh masjid Tersebut.

Baca juga : Kisah KH. Syafi’i, Ulama dan Pahlawan Pekalongan

Keduanya pula yang memberi nama Pabrik Pringgading karena letaknya di Pringlangu dan didepannya ditanami bambu ampil gading atau yang disebut pring gading. Pada waktu itu pabrik tersebut miliki Koperasi Pembatikan Buaran (KPB) kini setelah usahanya menurun telah beralih tangan menjadi milik perorangan.

Sumber : Mengungkap Asal-Usul Nama Kelurahan di Kota Pekalongan – KPAD Kota Pekalongan.

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan media referensi tentang info Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan mu. Submit esaimu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap esai mu yang tayang.

----------------------------------------------
donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server dan kegiatan amal. Terima Kasih

About Admin

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan.

TULIS KOMENTAR

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang