Home > Sejarah > Asal - Usul > Sejarah dan Legenda Desa Kutorojo

Sejarah dan Legenda Desa Kutorojo

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Cintapekalongan.com – Siapa yang tinggal di Kecamatan Kajen ? Pasti kalian tak asing lagi dengan sebuah Desa yang bernama Kutorojo, Desa sangat eksotis sejuta cerita menarik. Setiap wilayah yang ada di Kota maupun Kabupaten Pekalongan mempunyai cerita asal-usulnya masing-masing. Tak terkecuali Desa Kutorojo ini.

Ini yang saya sebut dari menariknya sebuah trip atau perjalanan ke suatu tempat yakni bisa menulusuri dan mengetahui sejarah maupun asal – usul nya. Beruntung Tim Jendela Pekalongan yang terdiri dari Saya dan kawan saya bisa berkunjung ke sebuah wilayah tak jauh dari Ibukota Kabupaten Pekalongan yaitu Desa Kutorojo Kecamatan Kajen. Bagaimana sejarah asal – usul dan Legenda Desa Kutorojo ? Mari simak penjelasan berikut ini.

Desa Kutorojo Kajen

Asal – Usul Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan

Asal-usul desa Kutorojo tak terlepas dari seseorang yang bernama Ki Gede Kutomoyo. Asal kata Kutorojo diambil dari kata Kutomoyo (kata belakang dari nama Ki Gede Kutomoyo). Beliau lah yang menjadi pembuka desa tersebut. Kemudian oleh sesepuh desa, nama Kutomoyo disempurnakan menjadi Kutorojo (Kotaraja). Maka sampai saat sekarang desa ini disebut Desa Kutorojo yang mempunyai suatu harapan Desa Kutorojo ingin menjadi rojo (rajanya) Desa diantara desa-desa lain di wilayah Pekalongan. ( Atau dengan arti lain Kotaraja bermakna ibukota )

Konon ceritanya, Mbah Kutomoyo (panggilan Ki Gede Kutomoyo) merupakan seorang abdi dalem Putri Kerajaan Mataram yang bernama Putri Batavia. Siapa dia ? Akan saya bahas di lain kesempatan karena berhubungan dengan Gua Putri di Desa Kutorojo ini.

Kutorojo malam hari
Pemandangan Kutorojo malam hari dari belakang rumah Kadus Gunung 3 enak sambil ngopi

Kala itu, Mbah Kutomoyo / Ki Gede Kutomoyo sedang duduk termangu di pasiten Kutomoyo, ia kedatangan 3 orang yaitu Ki Gede Wongsorogo, Ki Gede Caturaga, dan Ki Gede Kertasari. Kedatangan mereka untuk mengajak Ki Gede Kutomoyo berembug (musyawarah), akhirnya ketiga orang tersebut sepakat dan disetujui untuk membuka Dusun. Ki Gede Wongsorogo membuka wilayah wetan (timur) di tengah-tengah 3 bukit yakni Bukit Simangli, Bukit Kruas dan Bukit Munggang Asem. Diantara ketiga Bukit tersebut, dibukalah Dusun yang dinamakan dengan Dusun Gunung Telu (Tiga Gunung).

Baca : Kopi Ronggeng, Kopi Khas Desa Kutorojo

Ki Gede Wongsorogo setelah menerima mandat dari Ki Gede Kutomoyo pergi ke tempat yang akan dijadikan Dusun Gunung Telu tersebut. Sesampainya di lokasi, Ki Gede Wongsorogo memanggil peliharaannya yaitu Ketek (Kera) Putih untuk membantu membuka Dusun Gunung Telu dan setelah selesai, Ketek (Kera) Putih tersebut diajak berjalan ke sebelah utara Dusun. Ternyata disana ada Curug (Air terjun) dan pohon-pohon besar, hal ini yang membuat Ketek (Kera) Putih betah untuk tinggal di dusun tersebut.

Para sesepuh menamai Curug itu dengan nama Curug Blanten. Belum ada literasi kenapa dinamakan demikian. Dan asal teman-teman tahu, di wilayah ini khususnya di curug ini masih terdapat keluarga kera (Owa, Lutung, Orang Utan, dll) yang berkeliaran dan jika kalian beruntung, maka kalian akan melihat Ketek (Kera) Putih penunggu Dusun dan curug ini. Wow fantastik

Curug Blanten Kutorojo
Penampakan Curug Blanten Kutorojo

Sementara Ki Gede Caturaga pergi ke arah barat membuka untuk membuka dusun yang dibantu ponokawan / pembantu yaitu Nyi Rantam sari. Setelah beberapa tahun berselang, datang seorang kecu (berandalan) yang sakti mandra guna yang bernama Ki Gede Singowongso untuk melindungi hal-hal yang bersifat jahat. Sama seperti Ki Gede lainnya, Ki Gede Singowongso mempunyai rewang (pembantu) yang bernama Nyi Cilik.

Kemudian Ki Gede Kertasari setelah menerima mandat pergi ke arah selatan untuk membuka dusun yang diberi nama Binangun. Ki Gede Kertasari mempunyai pelayan yang bernama Mayang Sari dan Macan Putih.

Setelah beberapa tahun wilayah ini banyak dihuni manusia, ada kejadian yang mistis. Yaitu pada suatu hari ada bintang jatuh (bisa dikatakan meteor) dari langit yang lokasinya di sebelah utara Dusun Binangun. Beberapa saat setelah bintang jatuh tersebut, selama 36 hari desa menjadi gelap alias tidak ada malam. Maka dari peristiwa itu Dusun ini dinamakan Siawan dan kemudian di sempurnakan menjadi Silawan oleh para seseput desa. Di dusun ini, teman-teman bisa melihat batu (bintang jatuh) tersebut berupa batu jamur yakni batu kecil yang menopang batu besar.

Demikianlah ringkasan cerita mengenai Sejarah Desa Kutorojo, mutiara yang terpendam di Ibukota Kajen. Next time akan saya post juga perihal Gua Putri dan Curug Blanten yang menjadi destinasi wisata Kutorojo.

Salam Cinta Pekalongan

 

Sumber : Kepala Dusun Gunung Telu Desa Kutorojo

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About Angga Panji W

Sebagai anak Pekalongan, Saya ingin memperkenalkan kota tercinta kepada dunia dengan konten kreatif. Mari bergabung dengan saya di cintapekalogan.com untuk bersama mempromosikan Pekalongan dan bisa bermanfaat untuk warganya. Terima kasih, Salam Cinta Pekalongan

Check Also

tubing-tapak-menjangan

Bermain Tubing Tapak Menjangan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...

Kajen Batik Karnival 2016 2

Uniknya Kajen Batik Carnival

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...