Home > PEKALONGAN > Sejarah > Cagar Budaya Pekalongan > Sejarah Monumen Juang Kota Pekalongan
beauty glowing

Sejarah Monumen Juang Kota Pekalongan

Cintapekalongan.com – Adakah anak muda Pekalongan yang mengetahui Peristiwa Berdarah 03 Oktober 1945 di Pekalongan ?

Peristiwa tersebut merupakan kisah heroik masyarakat Pekalongan dan sekitar yang ingin merdeka dari tangan penjajah asing. Bagaimana kisah sejarah 03 Oktober di Pekalongan ini berlangsung ? Mari simak sejarah Monumen Juang di Kota Pekalongan ini.

Peristiwa Sejarah Monumen Pekalongan

Kabar kekalahan Jepang pada Perang Dunia kedua dengan tentara sejutu terdengar pertama kali pada tanggal 14 Agustus 1945 pukul 9 malam. Beberapa anggota Barisan Pelopor di Tegal secara sembunyi-sembunyi mendengarkan siaran kekalahan Jepang melalui radio Saigon.

Monumen Juang Kota Pekalongan 2018
Halaman Monumen Juang Kota Pekalongan Tahun 2018

Radio Australia juga menyiarkan kabar kekalahan Jepang ini yang telah menyerah. Meskipun siaran pernyataan menyerah Jepang ini di ucapkan langsung oleh Kaisar dan sudah didengar oleh dunia, namun pemimpin dan tokoh indonesia baru mendengarnya pada petang hari berikutnya yakni pada tanggal 15 Agustus 1945. Pemuda di Jakarta mendengar berita Jepang menyerah tanpa syarat ini melalui siaran radio San Fransisco.

Baca juga : Sejarah Pembangunan Jembatan Loji

Kemudian setelah Bangsa Indonesia memproklamir kemerdekaannya, pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) melakukan sidang kembali dan memutuskan untuk membentuk Komite Nasional.

Di Jakarta kemudian dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai penjelmaan tujuan dan cita-cita Bangsa Indonesia dalam menyelenggarakan kemerdekaannya berlandaskan kedaulatan rakyat.

Pada tanggal 28 Agustus 1945, di Karisedenan Pekalongan dibentuklah KNID denga ketua dr. Sumbardji, wakil ketua dr. Ma’as. Pada 28 September 1945, atas usulan KNID Pekalongan, Mr. Besar Martokusumo dilantik menjadi Residen Pekalongan oleh Presiden Soekarno.

Pada akhir September atau awal Oktober, usaha pertama yang dilakukan KNID ini adalah pengambil-alihan kekuasaan dari tangan Jepang. KNID Pekalongan sudah mulai menghubungi Syuchokan Pekalongan, yaitu Tokonomi agar menyerahkan kekuasaannya kepada rakyat Pekalongan.

Ketua KNID Pekalongan, dr. Sumbardji mengusulkan dibentuk Badan Kontak untuk menyatukan rakyat Pekalongan serta mengumpulkan aspirasi masyarakat agar tindakan yang diambil bisa manunggal dan terkoordinasi.

Monumen Kota Pekalongan 2018
Monumen Kota Pekalongan Tahun 2018

Keesokan harinya pada tanggal 3 Oktober 1945, Masyarakat Pekalongan sudah berkumpul di Lapangan Kebon Rojo (Sekarang menjadi Monumen), depan gedung Kempetai sejak pukul 08.00 pagi.

Mereka berdatangan dari Batang, Buaran, Comal, dan Pekalongan dengan pakaian siap tempur dan membawa senjata seadanya seperti bambu runcing, parang, pentungan, potongan besi dan lain sebagainya.

Baca : Sejarah Stasiun Besar Kota Pekalongan

Pada saat yang sama, di tengah perundingan di Gedung Kempetai, terjadi penyanderaan orang-orang Jepang dari kelompok Pemerintah dan kelompok Sakura, yang disekap oleh massa di salah satu ruangan kantor Shu Choo.

Perundingan dimulai pukul 10.00 WIB tepat. Meja perundingan berbentuk huruf U. Pihak Jepang duduk dalam satu baris menghadap ke barat, mereka terdiri dari : Tokonomi (Suchokan), Kawabata (Kempetaidan), Hayashi (Staf Kempetai), Harizumi (Penerjemah).

Sedangkan pihak Pekalongan tersusun dalam dua baris yang terdiri dari baris sebelah utara dan selatan. Sebelah utara terdiri dari Mr. Besar, dr. Sumbardji, dr. Ma’as . Dan barisan selatan terdiri dari R. Suprapto, A. Kadir Bakri, Jauhan Arifin.

Dalam perundingan tersebut, Rakyat Pekalongan menuntut tiga hal yaitu :

1. Pemindahan kekuasaan dilakukan secara damai dan secepatnya
2. Semua senjata Jepang harus diserahkan kepada rakyat Pekalongan,
3. Memberikan jaminan kepada pihak Jepang bahwa mereka akan diperlakukan dengan baik dan dikumpulkan di markas Keibetei (Sekarang Museum Batik).

Namun perundingan berjalan alot, pihak Jepang tidak setuju denga tiga tuntutan yang diajukan, karena mereka merasa masih berkewajiban menjaga status quo yang ada kepentingan,keamanan dan ketentraman rakyat.

Setelah 2 jam berunding, Mr. Besar keluar dan memberitakan hasil perundingan, yaitu pihak Jepang akan menyerahkan sebagian senjata kepada Polisi Pekalongan agar jumlah senjata Jepang dengan Polisi Pekalongan sama. Tetapi semua senjata harus disimpan di societet dan kuncinya dipegang oleh Mr. Besar dan Kempetai Jepang.

Baca : Sejarah Awal Mula Kampung Pecinan di Pekalongan

Menurut Anwar, warga Kandang Panjang yang salah seorang yang ikut dalam barisan KH. Syafi’i (Baca : Kisah KH. Syafi’i, Ulama dan Pahlawan Pekalongan) tentara Jepang diduga malah mempersiapkan diri dengan mengisi seluruh persenjataan mereka (metaliur / mechine gun dkk) dengan peluru tajam.

Daftar Nama Korban Tragedi 3 Oktober 1945 Pekalongan
Daftar Nama Korban Tragedi 3 Oktober 1945 Pekalongan

Pada saat Harizumi sedang menerjemahkan pernyataan dr. Sumbardji dan Mr. Besar akan kembali ke meja perundingan, ada sekelompok orang yang tiba-tiba bergerak menaiki pagar pemisah antara gedung Kempetai dan Kantor Residen.

Tentara Jepang yang berada di barisan keamanan gedung mendadak memberondongkan peluru ke kerumunan massa yang hadir.

Seketika itu banyak korban rakyat Pekalongan yang jatuh. Situasi yang tidak seimbang ini membuat puluhan orang tewas dan lainnya luka-luka. Sejumlah pemuda yang ingin mengganti bendera Jepang dengan Merah putih pun juga tak luput dari peluru yang ditembakkan tentara Jepang.

Saat itu belum dipastikan berapa jumlah korban yang meninggal atau luka. Namun, ruangan itu penuh dengan genangan darah yang menjadi saksi Korban Keganasan Jepang.

Usaha penyelamatan rakyat terus dilakukan dengan menunjuk H. Iskandar Idris, eks Daidancho PETA untuk menghubungi Butaicho di Purwokerto serta melaporkan situasi yang terjadi di Pekalongan.

Akhirnya pada tanggal 10 Oktober 1945, Jepang meninggalkan bumi Pekalongan menuju Purwokerto, mereka dievakuasi secara diam-diam pada pukul 04.30 WIB dari Pekalongan lewat Tegal.

Baca : Daftar Nama Korban Tragedi 3 Oktober 1945 Pekalongan

Hari itu Karesidenan Pekalongan mejadi wilayah pertama di tanah Jawa, bahka di Indonesia yang terbebas dari kekuasaan Jepang. Seluruh serdadu Jepang dari Garnisun Kota serta dari Kempetai bergerak meninggalkan Kota Pekalongan dengan kawalan BKR menuju Purwokerto sebelum dipulangkan melalui pelabuhan Cilacap.

Dari peristiwa berdarah tersebut, Lapangan Kebon Rojo sekarang diubah menjadi Taman Monumen Juang Pekalongan oleh Pemerintah. Dan Gedung Kempetai sekarang menjadi Masjid Syuhada.

Didepan masjid , dulunya terdapat patung berbentuk 4 bambu dengan 5 buah ruas. Namun sekarang diubah menjadi 3 buah bambu dengan 10 bilah ruas yang melambangkan peristiwa berdarah 03 Oktober 1945 di tempat tersebut.

Sudah sepatutnya kita anak Pekalongan untuk mengenali dan mempelajari apa saja yang berkaitan dengan peristiwa maupun sejarah kota tercinta ini. Silahkan Sebarkan tulisan ini supaya generasi muda pekalongan tidak buta dengan sejarahnya sendiri !!!

NOTE : Biasanya setiap tanggal 3 Oktober malam, diadakan upacara peringatan Peristiwa Monumen Juang Pekalongan. Ada teatrikal dan pertunjukan peledakan bom yang menarik.

Video Drama Kolosal Peristiwa 3 Oktober 2015 di Kebon Rojo :

(Dirhamsyah, M. (2015). Pekalongan Yang (Tak) Terlupakan. Pekalongan: KPAD Kota Pekalongan.)


donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server, operasional kru dan kegiatan amal. Terima Kasih


About Cintapekalongan.com

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor untuk kemajuan daerah dengan mengirimkan ulasan/esay/tulisan ke contact@cintapekalongan.com. Terima Kasih

TULIS KOMENTAR

.:[Klik 2x Tombol][Close]:.
Donasi Pekalongan