Sejarah Terbentuknya Kota Pekalongan
Mall Cintapekalongan
Peta Kota Pekalongan Tahun 1892
Peta Kota Pekalongan Tahun 1892

Sejarah Terbentuknya Kota Pekalongan

Cintapekalongan.com – Sejarah berdirinya Kota Pekalongan tidak terlepas dari cerita perjalanan Babad alas yang dilakukan Bahurekso. Diawali dengan Babad Kendal, Babad Alas Roban dan kemudian Babad Alas Gambiran. Sejarah Lahirnya Kota Pekalongan memang masih ada benang merahnya dengan kisah Bahurekso yang menurut cerita rakyat, beliau membuka Alas Gambiran dengan cara bertapa “Ngalong” (menyerupai Kekelawar Besar).

Mulainya perjalanan Babad yang dilakukan Bahurekso ini diawali dengan keberhasilan Ki Ageng Cempaluk menjadikan Hutan Kendalsari sebagai Kadipaten Kendal. Kemudian diteruskan oleh puteranya yang bernama Kyai Sundana atau Joko Bahu (Bahurekso Muda) yang pada tahun 1614 Masehi mendapatkan kepercayaan dari Raja Mataram yang ke-3 yaitu Sultan Agung Hanyakrakusumo untuk memperluas kekuasaan Mataram di wilayah Pesisir Kilen (Pesisir Barat).

Dengan membuka Alas Roban kemudian dilanjutkan dengan Alas Gambiran yang diperuntukan menjadi daerah penyuplai pangan (lumbung padi) bagi Kerajaan Mataram, kemudian Alas Gambiran diresmikan menjadi Kadipaten Pekalongan pada tanggal 12 Robiul Awal 1042 Hijriyah atau 25 Agustus tahun 1622 Masehi. Atas kegemilangan prestasi ini, kemudian Bahurekso diangkat menjadi Tumenggung di Kadipaten Kendal.

Baca juga : Kisah Ki Bahurekso Adipati Kendal Pertama dan Babad Pekalongan

Pada tahun 1622 tersebut, Sultan Agung mengangkat Pangeran Manduraraja sebagai Adipati Pekalongan. Dan pada tahun yang sama, Sultan Agung memerintahkan dan mengangkat Tumenggung Bahurekso sebagai Laksamana Armada Laut Kerajaan Mataram setelah Tumenggung Bahurekso berhasil menakhlukan Kadipaten Sukadana di Kalimantan Selatan (H.J De Graff : Puncak Kekuasaan Mataram).

Riwayat Gedung Penpada Pekalongan
Salah Seorang Adipati Pekalongan bersama Pejabat Belanda di Pendapa

Penamaan wilayah yang kita kenal sebagai Pekalongan ini tercatat dalam kisah perjalanan Bujangga Manik (Pangeran dari Kerajaan Sunda Pakuan) yang menulis seluruh perjalanannya di Pulau Jawa dan Bali. Ia menyebut nama Pekalongan dan Sungai Kupang. Sedangkan dalam buku Babad Mataram era Sultan Agung nama Pekalongan disebut dengan nama Pengangsalan.

Penyebutan nama Pekalongan dengan nama Pengangsalan, menurut Raden Mas Aryo P’orwo Lelono (Seorang Pangeran Mataram) yang datang ke wilayah Pekalongan sekitar tahun 1865 menyebut bahwa nama PEKALONGAN merupakan nama turunan dari kata “Along” yakni suatu kata yang dekat dengan dunia Nelayan, dengan arti memperoleh hasil tangkapan ikan.

Seperti kata Pengangsalan yang hampir mirip dengan arti “Pendapatan”. Kemudian berdasarkan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Besar Pekalongan, pada tanggal 29 Januari 1957, nama PEKALONGAN berasal dari Kata “A-PEK-HALONG-AN” yang berarti Pengangsalan atau Pendapatan (dari laut).

Baca juga : Tinjauan Sejarah Asal-Usul Nama Kelurahan di Kota Pekalongan

Pekalongan sebagai daerah penting di Pesisir Utara Jawa, sejak dikuasai oleh VOC tahun 1753 dengan mendirikan Benteng di pinggir kali Kupang (Kali Loji) yang kemudian kita kenal sebagai Fort Peccalongan. Dan kemudian pada tahun 1800, Pekalongan menjadi posisi sentral sebagai Ibukota 2 wilayah Pemerintahan yaitu Kabupaten Pekalongan itu sendiri dan Karesidenan Pekalongan (Pemalang, Pekalongan, Batang, Tegal dan Brebes).

Fort Peccalongan
Lukisan Fort Peccalongan dengan Sketsa Pencil

Kabupaten Pekalongan sendiri terbagi menjadi 3 wilayah Kadipaten yakni Pekalongan, Wiradesa dan Batang. Tetapi pada era pemerintahan Daendels, Kabupaten Wiradesa dihapuskan disatukan dengan Pekalongan. Kemudian Kabupaten Pekalongan dan Batang dipecah menjadi 5 devisi dan 14 distrik.

Pembangunan Jalan Raya Pos oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hermen William Daendels pada tahun 1808 yang menghubungkan kota-kota penting di Jawa yang dimulai dari Anyer sampai Panarukan melalui Pesisir Utara Jawa melintasi wilayah Kabupaten Pekalongan. Hal ini bisa ditunjukan dengan adanya tonggak penanda jarak nol kilometer atau Mylpaal yang masih ada di sebelah selatan Lapangan Jetayu.

Dengan kedudukan ganda (sebagai Kabupaten dan Ibukota Karesidenan) serta dilewati oleh Jalan Raya Pos Daendels, membuat Pekalongan semakin berkembang secara ekonomi dan politik, serta menduduki posisi strategis di bidang pemerintahan Kolomial Hindia Belanda.

Baca juga : Daftar Bangunan Bersejarah di Kawasan Budaya Jetayu Pekalongan

Pada awal abad 19, dilakukan pembaharuan sistem pemerintahan dengan dikeluarkannya Undang-undang yang membagi Jawa menjadi beberapa Gewest atau Residensi. Setiap Gewest mencangkup beberapa afdelling atau setingkat Kabupaten yang dipimpin oleh asisten Residen, Distrik atau Kawedenan dipimpin oleh Controleur, dan Onderdistrict (setingkat Kecamatan) dipimpin oleh Aspiran Controleur. Gewest atau Karesidenan Pekalongan ini terdiri dari wilayah Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Batang, Tegal, dan Brebes.

Pada awal abad 20, terjadi perubahan haluan politik Hindia Belanda, dari Kolonial Liberal menjadi Politik Etnis yaitu dengan lahirnya Undang-undang tentang Desentraliasi Pemerintahan atau Decentralisatier Wet pada tahun 1903 tetapi pelaksanaannya baru dilakukan tahun 1905. Kemudian Pemerintah Hindia Belanda membentuk sistim Administrasi Pemerintahan Gameenten atau Kota Praja , yang semula dipimpin oleh Assisten Residen menjadi Walikota.

Peta Kota Pekalongan Tahun 1892
Peta Kota Pekalongan Tahun 1892

Kota Praja itu sendiri mempunyai tingkat otonomi yang terbatas (Eksekutif) dan dewan kota praja (Legislatif). Penetapan Pekalongan sebagai daerah administrasi pemerintahan Kota Praja (memisahkan Kabupaten dan Kota tersendiri) oleh Pemerintah Pusat Hindia Belanda dengan mengeluarkan Staatblads van Nederlands Indie Nomor 124 tahun 1906 yang ditandatangani oleh Sekretaris Gubernur Jenderal Hindia Belanda De Groot di Bogor pada tanggal 21 Februari 1906.

Baca juga : Festival Sarung Batik Meriahkan Hari Jadi Kota Pekalongan

Kemudian Pemerintah Kota Pekalongan sejak 6 April 2007 telah menetapkan Hari Jadi Kota Pekalongan pada tangal 1 April 1906 melalui peraturan daerah nomor 2 tahun 2007. Tanggal tersebut merupakan saat diumumkannya Staatblads nomo 124 tentang desentraliasi dengan pemisahan keuangan untuk Ibukota Pekalongan dari keuangan pemerintah Hindia Belanda.

Nah itulah ulasan tentang Sejarah Lahirnya Kota Pekalongan, semoga penjelasan tersebut juga bisa menjawab pertanyaan “mengapa tanggal hari jadi tidak pada tanggal 12 Robiul Awal 1042 Hijriyah atau 25 Agustus tahun 1622 Masehi ?” karena kalau 25 Agustus 1906 adalah hari lahirnya Kabupaten Pekalongan, sementara pembentukan “Kota” Pekalongan ada setelah pengumuman Staatblads nomor 124 tahun 1906.

 

Salam Cinta Pekalongan

Sumber : humaspemkot Pekalongan


donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server, operasional kru dan kegiatan amal. Terima Kasih


About Admin

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor untuk kemajuan daerah dengan mengirimkan ulasan/esay/tulisan ke contact@cintapekalongan.com. Terima Kasih

TULIS KOMENTAR

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang