Home > Sejarah > Cagar Budaya Pekalongan > Sejarah Stasiun Kereta Api Pekalongan

Sejarah Stasiun Kereta Api Pekalongan

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Cintapekalongan.comStasiun Besar Kota Pekalongan (PK) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Gajah Mada, Bendan, Pekalongan Barat, Pekalongan. Stasiun ini berada di tempat yang sangat strategis karena persis berada di Jalan Pantura.Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 m dpl ini berada di di Daerah Operasi 4 Semarang. Dulu, pernah ada jalur kereta api ke Kedungwuni hingga Wonopringgo namun jalur itu dibongkar oleh para pasukan Jepang saat Perang Dunia II. Selain itu juga, ada jalur kereta api ke Pelabuhan Pekalongan yang juga sudah tidak aktif. Stasiun ini juga mempunyai Sub Dipo lokomotif dan Gudang Logistik. Stasiun Pekalongan termasuk stasiun kelas 1. (wikimapia.org)

Baca juga : Museum Batik Pekalongan

Stasiun Kereta Api Kota Pekalongan
Stasiun Besar Kota Pekalongan

Sejarah Stasiun Pekalongan

Stasiun Pekalongan mulai dibuka untuk umum sejak 1 Febuari 1899. Pembukaan itu sekaligus peresmian lintas seksi terakhir Pekalongan – Pemalang sejauh 33,8 Kilometer dari total keseluruhan pembangunan jalur trem uap Cirebon – Pekalongan – Semarang.

Sama seperti stasiun-stasiun lain pada lintas yang sama,awalnya perusahaan trem partikelir Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) membangun stasiun Pekalongan dengan bentuk cukup sederhana. Desain stasiun lama (1899 – 1919) saat itu lebih mengutamakan fungsi bangungan tanpa adanya ukiran-ukiran atau ornamen unik lainnya.

Sepanjang tahun-tahun awal operasional stasiun,penggunaannya lebih banyak ditujukan untuk tempat mengumpulkan hasil panen tanaman ekspor sebelum dikirim ke pelabuhan Semarang. Sebelum direnovasi,stasiun Pekalongan lama hanya terdiri dari bangunan utama,yaitu ruang administrasi stasiun yan gterbuat dari bangunan bata sederhana dengan atap genteng dan kanopi tang kayu untuk tempat penumpang dan bongkar barang.

Stasiun Kota Pekalongan
Stasiun Kota Pekalongan

Sementara,seiring pergantian abad,kritikan kaum liberal terhadap sistem tanam paksa (1830 – 1870) mengubah pola pikir sebagian orang Belanda tentang tanggung jawan moral mereka terhadap kesejahteraan bangsa pribumi di Indonesia. Puncaknya ditandai dengan pidato Wilhemina saat pelantikannya menjadi Ratu Belanda apda 17 September 1901. Pidato tersebut membuahkan kebijakan politis etis,salah satunya mengenai pendidikan kepada kaum pribumi. Walaupun masih terbatas,sekolah-sekolah untuk pribumi dibuka di kota-kota besar pulau jawa seperti Batavia,Bandung,Semarang dan Surabaya di sepanjang awal abad ke-20 .

Baca juga : Sejarah Kantor POS Kota Pekalongan

Tak terkecuali di Pekalongan,cukup banyak kaum keluarga priyayi yang menyekolahkan anak-anak mereka ke Semarang. Selain kaum terpelajar, banyak orang dari pedesaan yang mendaftar kerja ke kontraktor-kontraktor BOW (Kementrian PU Belanda) dan dikirim ke daerah lain di pulau jawa untuk mengerjakan berbagai proyek pemerintahan.Dengan demikian lalulintas penumpang antar kora di stasiun Pekalongan menjadi lebih ramai.

Pada proyek peningkatan jalan Trem Cirebon – Pekalongan – Semarang menjadi jalur kereta api (1912-1921),stasiun Pekalongan turut direnovasi besar. SCS membongkar stasiun lama dan membangun stasiun baru yang lebih megah. Peresmian stasiun baru Pekalongan diselengggarakan pada tahun 1919. Arsitekturnya pun dibuat untuk menyambut lebih ramah kepada penumpang, Kanopi yang menaungi peron penumpang dibuat berbahan genteng merah. Tutupan samping kanopi tidak berubah bentuknya ,tetapi ditambah delapan belas jendela kotak kaca selain menimbulkan kesan modern juga sebagai ventilasi cahaya agar suasana dibawah kanopi lebih terang.

Gedung Depo Lokomotif Pekalongan
Gedung Depo Lokomotif alias Gedung Stasiun Lawas Pekalongan

Hal itu penting,karena di bawah kanopi terdapat beberapa bangunan batu bata yang digunakan sebagai kantor administrasi lokal dan urusan pelayanan kereta api. Adapun desain bangunan-bangunan di bawah kanopi itu masih ada pengaruh gaya yunani kuno,tetapi lebih banyak bernuansa “Art Nouveau” yaitu sederhana dan sedikit ornamen. Campuran kesederhanaan bangunan bawah kanopi dan pemandangan kerumitan balok-balok kayu saling tersambung pada bagian bawah atap kanopi justru memberikan kesan megah kepada orang yang melihatnya.

Baca : Ulasan Masjid Agung Al-Jami’ Kauman Pekalongan

Selain untuk penumpang, Stasiun Pekalongan juga tetap melayani angkutan barang termasuk kereta api lintas cabang dari daerah gula Wonopringgo yang dikirim langsung ke Semarang. Sedangkan jalur-jalur angkutan lori barang sepur sempit (600 mm) dari pelosok karesidenan terpisah dari peron penumpang.

(Gagah)

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About administrator

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor kami dengan mengirimkan tulisan ke contact@cintapekalongan.com

Check Also

Tugu Mylpaal

Cagar Budaya : Tugu Mylpaal Pekalongan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...

Tugu Perjuangan Petungkriyono

Tugu Monumen Perjuangan Petungkriyono

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...