Home > Pekalongan > Tentang Pagelaran Perdana Tutur Batik “Kawung”

Tentang Pagelaran Perdana Tutur Batik “Kawung”

Content Protection by DMCA.com Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA

Snack Capret

●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan●

Snack Capret - kriuke pok! untuk ngemil santai bisa, untuk oleh-oleh Khas dari Pekalongan juga bisa banget. dimakan sendiri atau bareng teman & bersama keluarga biar makin erat. Rasa renyah dengan bumbu nikmat disetiap gigitan selalu bikin ketagihan. Free Deliv untuk Pekalongan Kota. ORDER via WA Klik DISINI

Cintapekalongan.com – Di awal tahun 2017 ini, Kabupaten Pekalongan bersama Komunitas Tutur Batik menggelar acara Pagelaran Seni dan Budaya yang spektakuler di Pendopo Rumah Dinas Jabatan Bupati Pekalongan. Kemeriahan bisa dirasakan ketika lampu taman di Pendopo dimatikan. Kemudian disusul dengan iringan Tari Kuda Kepang, Atraksi Gunungan, dan Obor yang menyala bagaikan semangat anak-anak dalam menyuguhkan penampilan terbaik mereka.
Acara pagelaran ini merupakan bentuk pelestarian Seni Budaya yang ada di Pekalongan.

Batik yang menjadi jati diri orang Pekalongan ingin dikreasikan dalam bentuk pentas seni sekaligus memberi edukasi kepada kawan-kawan warga Pekalongan. Al hasil, pertunjukan ini sangat mengagumkan dan membuat merinding, bagaimana bisa pentas seni dari tarian dan musik tradisional bisa mengangkat dan menyampaikan pengetahuan tentang batik yang kini terus merosot dari hari ke hari.

Lewat pagelaran perdana ini, adalah sebuah langkah awal untuk kebangkitan para pelaku, pecinta Seni dan Budaya di Pekalongan yang tergabung kedalam Komunitas Tutur Batik yang memilih Seni Pertunjukan sebagai media dakwah mereka.

Komunitas Tutur Batik adalah sebuah wadah untuk membangun komunikasi, ruang dialog dan diskusi dalam rangka menggali potensi naratif yang terdapat didalam sebuah desain batik. Agar pengetahuan tentang Batik yang merupakan warisan leluhur Nusantara akan tetap lestari. Penggunaan sarana Teknologi untuk merekam agar dapat diakses dan diketahui oleh generasi-generasi yang akan datang.

Baca : Sarung Batik, Budaya Jati Diri Orang Pekalongan

Begitu spektakulernya pagelaran yang dilaksanakan pada 26 Januari lalu memukau dan memanjakan ratusan pasang mata yang hadir. Merekalah saksi akan bakat talenta muda Pekalongan yang cinta akan budaya Nusantara yang indah ini. Tidak sedikit pula dari mereka yang kagum dan memberikan tepuk tangan meriah.

Pagelaran Tutur Batik

Acara Pagelaran Tutur Batik ini di prakarsai oleh Bapak Bambang Sutejo sebagai Produsernya, Bapak Rizaldi Siagian sebagai konseptor, dan masih banyak lagi guru-guru lainnya yang semuanya orang-orang hebat dari berbagai kota yang secara khusus ingin menggerakan dan berbagi ilmu kepada para warga masyarakat Pekalongan yang terlibat di Pagelaran ini.

Tentu Pagelaran yang hebat yang spektakuler ini didukung oleh Pemkab Pekalongan dan jajarannya. Meski Kabupaten Pekalongan bukan berjuluk Kota Batik maupun Kota Kreatif Dunia, tetapi justru minat akan sebuah kegiatan pelestarian Kreatifitas Kesenian Rakyat ada disini. Untuk itu Bapak Bupati mencanangkan kalau Kabupaten Pekalongan menjadi “The Legend Of Batik“nya Indonesia.

Maksud dan Tujuan Pagelaran Tutur Batik

Seperti visi dan misi dibentuknya Komunitas Tutur Batik, pada pagelaran ini jelas mempunyai maksud dan tujuan yang ingin disasar. Yaitu adalah Mendorong peningkatan kemampuan dan keahlian bertutur generasi muda terkait batik sebagai warisan budaya yang unik. Selain itu jelas dengan adanya Pagelaran Tutur Batik akan menghidupkan dan memberi ruang kepada pelaku seni tari dan musik tradisional untuk terus tampil berkarya. Juga untuk menumbuhkan minat dan kecintaan terhadap kekayaan budaya Nusantara kepada kawula muda yang menonton.

Mengangkat Tema Motif Kawung

Pada acara perdana ini, Tutur Batik memilih motif Kawung sebagai tema untuk dinarasikan lewat sajian tari musikal. Kawung sendiri merupakan motif yang mengadopsi dari bentuk belahan cangkang buah kolang-kaling. Motif ini merupakan salah satu motif pakem yang paling disegani di Nagari Ngayogjakarto Hadiningrat.

“Kau boleh menyebutku semacam isi buah kelapa.
Kau juga boleh mengatakan bahwa aku serupa kolang kaling yang terbelah.
Barangkali juga aku mengingatkanmu pada bunga lotus atau kembang teratai yang mekar di telaga kenanganmu”

itu lah sebait puisi yang ditampilkan pada acara Pagelaran Perdana Tutur Batik dengan tema Kawung.

Dalam kebudayaan masyarakat Jawa, Motif Kawung mempunyai makna yang lebih kompleks. Motif yang berbentuk empat buah lingkaran elips dengan titik di tengah dimaknai sangat beragam. Mulai dari sekular hingga yang sakral seperti Hubungan manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan dengan sang Pencipta dan dikaitkan dengan tatanan hirarkis rakyat jelata dan Rajanya, sang Raja dianggap sebagai jelmaan penguasa alam di dunia nyata. Sedangkan Titik di tengah lingkaran diartikan sebagai simbol dari sistem pemerintahan kerajaan dimana Raja yang dibantu oleh empat orang pembantunya, para bupati, sehingga dikaitkan dengan ungkapan “sedulur papat limo pancer.”

Baca juga : Kisah Asal-usul Kesenian Sintren Pekalongan

Motif Kawung ini hanya sebagai pembuka bagi pagelaran-pagelaran narasi Tutur Batik selanjutnya yang insyaallah akan berlanjut sepanjang tahun. Bisa jadi selanjutnya akan mengangkat tema Motif Jlamprang khas Pekalongan kota untuk dipresentasikan lewat pagelaran seni pertunjukan yang sangat diminati banyak masyarakat.

Sinopsis Pertunjukan Tutur Batik Kawung

Dari motif Kawung inilah dirangkai menjadi sebuah drama yang cantik. Setiap adegan mempunyai jalan cerita yang saling berkesinambungan dan memiliki cerita yang ingin disampaikan.

Pagelaran Tutur Batik di Pekalongan

Adegan yang Pertama, menceritakan bahwa di masa lampau ketika kerajaan-kerajaan kecil tumbuh dan berkembang pesat di pulau Jawa. Para saudagar atau orang kaya silih berganti datang bertandang. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menetap tinggal disini. Kehadiran Tarian Kuda Kepang dengan busana bernuansa keemasan di antara kibaran umbul-umbul dan nyala obor menjadi cermin kemegahan dan kebesaran Kerajaan di Jawa masa lalu.

Adegan yang Kedua, ketika kelompok penari pertama masuk menceritakan bahwa pada kehidupan masyarakat Pekalongan, kegiatan seperti dagang dan membatik nampak menonjol di antara kegiatan lainnya. kesederhanaan dan keramahan khalayak tersusun dalam komposisi gerak dan laku serta celetukan keseharian mereka.

Adegan yang Ketiga, Sebermula adalah Suwung atau Keheningan. Suasana yang menggiring pada ruang renung. Kegelisahan terhadap warisan dari leluhur yang sering kita abaikan. Batik tidak sekadar hiasan di helai kain. Dalam motif batik terselip makna-makna mendalam. Seperti motif Kawung yang berangkat dari kesucian hati kemudian menjalar dan menjadi kebaikan yang lain.

Adegan yang Keempat, Kegelisahan yang bertambah ketika masyarakat kekinian dihadapkan pada kenyataan harus bersaing dalam keterbukaan dunia. Perlu daya juang untuk tetap bertahan dari segala gempuran. Gerak dan musik bertenaga menjadi simbol semangat dan perlawanan terhadap semua keengganan dan kemalasan.

Baca juga : Kesenian Tari Batik Jlamprang Pekalongan

Adegan yang Kelima, Adalah tentang Ketetapan Hati. Tanpa keteguhan hati segalanya mudah runtuh. Gerak perlahan penuh konsentrasi pada Tari Bedayan Tebu diiringi tembang mewakili sikap tidak tergoyahkan yang tetap disampaikan dengan kelembutan.

Pertunjukan Tutur Batik Kawung

Adegan yang Keenam, dari Tarian Sufi menceritakan Sebuah persembahan doa. Putaran kepasrahan menuju ketiadaan. Ketiadaan sebagai bagian dari kesadaran dan pencerahan bahwa segala sesuatu berasal dariNya dan akan kembali pada-Nya. Tutur secara bergantian oleh para pelaku di atas pentas bertolak dari beragam makna motif batik Kawung yang ada. Buah Kolang-Kaling yang dibawa para penari menjadi pijakan yang melambangkan Kesucian Hati. Karena doa tanpa kesucian hati apalah gunanya.

Dan Adegan Ketujuh, adalah bernyanyi bersama lagu Kucuran Cinta adalah komposisi nyanyian sederhana yang dibuat dengan pendekatan populer untuk kegiatan Tutur Batik. Dengan dengan harapan lagu ini bisa mensosialisaikan konsep-konsep pertunjukan Tutur Batik sekaligus merangsang generasi muda untuk terlibat dan aktif berkreasi memperkaya warisan budaya takbenda yang sangat berharga. Lirik dan lagu diciptakan oleh Rizaldi Siagian dan di dalam pertunjukan kali ini akan dinyanyikan oleh Iga Mawarni sebagai salah seorang diva jazz singer di Indonesia.

Begitu dalamnya makna atau sinopsis pertunjukan ini, yang jika disimak dengan sepenuh hati akan terasa merinding karena begitu luar biasanya narasi cerita yang ingin diungkapkan.

Artis atau Para Pendukung Tutur Batik Kawung

Perlu perencanaan yang kreatif dan cerdas agar talent-talent yang berbakat ini mampu menyuguhkan pertunjukan Tutur Batik sampai spektakuler. Terbukti dari pengunjung, tamu undangan maupun artis yang terlibat dalam Pagelaran Tutur Batik ini sangat gembira. Begitu juga para panitia, kru, musisi dan penari dari dalam kota maupun luar kota, bisa saling berbagi ilmu dan menjalin tali persaudaraan.

Berikut ini Daftar Para Pendukung dalam Pagelaran Perdana Tutur Batik Kawung :

  • PemKab Pekalongan & Dekranasda Kab. Pekalongan
  • Deddy Luthan Dance Company (DLDC), Jakarta
  • Suma Budhaya managed by Seroja Entertainment, Pekalongan
  • Sanggar Tari Surya Budhaya, Wiradesa – Kab. Pekalongan
  • Paguyuban Genjring Kuda Lumping Sokoaji
  • Sanggar Tari Sari Sekar Arum
  • Gemah Sumilir-Wiradesa, Kab. Pekalongan
  • Sanggar Tari Mekar Budaya, Bojong
  • Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Pekalongan
  • Darvishe Pekalongan (Penari Sufi), Pekalongan

*Mohon maaf tidak bisa menuliskan satu per satu para peronilnya karna akan terlalu panjang

Pertunjukan Seni dan Budaya Pekalongan

Nah dengan terbentuknya tali silahturahmi di Pagelaran Tutur Batik ini, saya sebagai masyarakat biasa berharap agar kegiatan positif semacam ini terus maju dan berkembang hingga taraf Nasional bahkan bisa Go Internasional. Karena jika kita bisa menghidupi Budaya, maka Budaya akan menghidupi kita. Kedepannya sangat cocok juga bagi sektor Pariwisata dimana orang datang ke Pekalongan bukan untuk transit saja, melainkan ada sesuatu yang dituju yakni dari sektor Kebudayaannya. Seperti di Dieng, Bali, Jogja, Solo dll yang setiap tahunnya didatangi orang untuk melihat pertunjukan budayanya.

Sekian paparan mengenai Pagelaran Perdana Tutur Batik Kawung ini saya sampaikan, semoga ini menjadi langkah awal kebangkitan seni pertunjukan Pekalongan untuk dikenal Dunia. Tetap semangat untuk seniman-seniman, musisi dan penari di Pekalongan. Mari kita perkenalkan Pekalongan lewat Berbudaya.

Baca juga : 3 Ciri Khas Bahasa Wong Pekalongan yang Wajib Anda Ketahui

NB : Info lebih lengkap Seputar Pagelaran Tutur Batik silahkan bisa download Buku Programnya disini

 

Salam Cinta Pekalongan
Sumber :
– Buku Program Tutur Batik
– Foto Kredit by Official Komunitas Tutur Batik

▼ Tulisan ini Bisa Dibagikan Lur ▼

About Angga Panji W

Sebagai anak Pekalongan, Saya ingin memperkenalkan kota tercinta kepada dunia dengan konten kreatif. Mari bergabung dengan saya di cintapekalogan.com untuk bersama mempromosikan Pekalongan dan bisa bermanfaat untuk warganya. Terima kasih, Salam Cinta Pekalongan

Check Also

Musik Rampak Papringan Bersaudara

Kearifan Lokal Kesenian Musik Rampak Pekalongan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...

Sarung Batik Pekalongan

Sarung Batik, Budaya Jati Diri Orang Pekalongan

Artikel blog ini dilindungi Hak cipta DMCA dan UU HAK CIPTA ●Jual Snack/Oleh-oleh Khas Pekalongan● ...