Tradisi Pasar Malam dan Kliwonan Masyarakat Batang – Cintapekalongan.com - Media No.1 Referensi Pekalongan
Home INFO BATANG Kebudayaan Tradisi Batang Tradisi Pasar Malam dan Kliwonan Masyarakat Batang
Pasar Malam Kliwonan Batang

Tradisi Pasar Malam dan Kliwonan Masyarakat Batang

Batang – Bagi masyarakat Batang, malam Jumat Kliwon sangat dinanti dan dianggap malam yang penuh kegembiraaan. Karena pada malam tersebut ada Tradisi Kliwonan dengan diadakannya Pasar Malam yang di datangi oleh masyarakat dari penjuru Batang.

Tradisi ini diadakan tiap hari Kamis Wage atau malam Jumat Kliwon yang dimulai pada sore hari yang berloksi di alun-alun Batang. Pada malam itu akan digelar pasar malam yang menampilkan beragam produk, wahana permainan anak hingga jajanan tradisional Batang.

Secara garis besar, Pelaksanaan (upacara) tradisi yang terdapat di Kabupaten Batang sendiri dibagi menjadi beberapa tipologi, yakni yang pertama adalah tradisi yang terkait dengan makam dan orang suci, yang dikenal dengan khol. Tradisi khol ini yang terbesar di Batang terdapat di makam Wonobodro.

Yang Kedua adalah tradisi yang terkait dengan daur hidup, yang difokuskan pada upacara kelahiran dan perkawinan. Ketiga yaitu tradisi sebagai penghormatan terhadap lingkungan yang di Batang ini misalnya tradisi lumban praon (lomba balap perahu) yang ada di Klidang Lor.

Baca juga : 30 Daftar Tempat Wisata Batang Favorit 2020

Terakhir adalah tradisi yang berkaitan dengan cerita sejarah tokoh yang berjasa di Kabupaten Batang, tradisi ini misalnya adalah Kliwonan yang diadakan setiap malam Jumat Kliwon di Alun-alun Batang.
Tradisi ini telah berjalan turun-temurun pada malam Jumat Kliwon di Alun-alun kota Batang. Pada mulanya tradisi ini diadakan untuk mengenang jasa leluhur dan nenek moyang masyarakat setempat yang merupakan tokoh yang membangun kota Batang.

Sejarah Tradisi Kliwonan Batang

Tradisi Kliwonan Batang dulunya dilaksanan dalam rangka untuk mengenang Bahurekso yang telah membabad atau membuka daerah Batang. Dan salah satu alasan mengapa dilaksanakannya tradisi ini pada hari Jumat Kliwon, karena pada hari tersebut Bahurekso melakukan tapa (bertapa) untuk mendapatkan kekuatan, sehingga dipercaya oleh para keturunannya bahwa pada hari itu merupakan hari yang keramat.

 

Ceritanya Bahurekso dahulu pernah bersemedi di sungai Lojahan atau Kramat. Kemudian terdapat kebiasaan di makam Sunan Sendang atau Sayid Nur, yakni setiap malam Jumat Kliwon banyak orang-orang datang ke sana untuk berziarah, kemudian ditiru oleh masyarakat Batang. Dan sebagian masyarakat Batang khususnya para orang dewasa sering bersemedi di sungai Kramat.

Baca juga : Inilah 10 Tempat Kuliner di Batang Paling Direkomendasikan untuk Wisatawan

Dalam Kliwonan Batang ini, masyarakat melakukan tradisi ngalap berkah (mencari berkah) dan juga dalam rangka penyembuhan dan kesehatan untuk anak-anak kecil dengan melakukan beberapa ritual yaitu ritual gulingan, dimandikan oleh Tetua Adat atau Kyai, mandi dan membuang pakaian bekas yang dipakainya sewaktu ritual gulingan dan membagi-bagikan uang logam serta makanan khas pasar (jajan pasar).

Air yang digunakan untuk mandi atau membasuh muka dalam ritual tersebut terletak di tempat wudhu Masjid Agung Batang dan konon air tersebut berasal dari mata air yang terdapat di dekat makam Sunan Sendang yang dibawa Raden Joko Cilik ke Batang. Air itu dipercaya dapat menyembuhkan penyakit atau menghindari dari segala penyakit.

Sekitar dekade 1980-an hingga 1990-an, ritual tersebut masih sering dilakukan oleh masyarakat Batang setiap Kliwonan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki anak kecil. Ritual tersebut dilakukan dengan harapan agar si anak bisa tumbuh sehat dan terhindar dari semua marabahaya dan penyakit.

Baca juga : 30 Tempat Destinasi Wisata di Pekalongan Terbaru 2020

Ritual guling dimulai dengan mengguling-gulingkan anak yang sakit-sakitan di Alun-alun Batang. Setelah itu, baju kotor yang dipakainya harus dibuang di Alun-alun sebagai tanda membuang sial.

Selanjutnya, anak dimandikan dengan air dari sumur yang ada di Masjid Agung Batang, yang terletak di sisi barat Alun-alun. Usai dimandikan, si anak diberi pakaian baru dan diajak kembali ke Alun-alun untuk melakukan ritual sawuran, yaitu melempar (membuang) sejumlah uang di Alun-alun sebagai ungkapan rasa syukur. Ironisnya, ritual tersebut sekarang makin jarang dilakukan warga Batang saat Kliwonan.

Selain untuk mengenang jasa leluhur masyarakat batang, tradisi Kliwonan juga digunakan untuk upacara ruwatan bagi anak balita dengan tujuan membersihkan dan menjauhkan anak dari mara bahaya yang mengancam, segala malapetaka, bencana dan kejahatan. Sehingga anak akan memperoleh keselamatan kesehatan dan kebahagiaan.

Baca juga : Mengenal Tradisi Udik-udikan Masyarakat Pekalongan

Peserta dari upacara ruwatan ini terdiri dari orang tua, anak yang akan diruwat, tetua adat, kyai, sanak saudara, dan masyarakat sekitar (Widyatwati, 2013). Selain itu masyarakat melakukan Kliwonan zaman dulu untuk mencari jodoh dan dakwah serta pengajian atau sering disebut tirakatan (Wasino, Iswari, R., Setyono, & Pardini, 2008).

Perkembangan Tradisi Kliwonan Batang

Seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman, tradisi Kliwonan ini pun mulai berkembang dan kemudian berbentuk seperti pasar malam. Sehingga maksud dan tujuan dilaksanakannya Tradisi Kliwonan pun bertambah yakni mencari rejeki bagi para pedagang di tengah keramaian dan pengunjung yang sekedar berjalan-jalan untuk mencari kesenangan di tengah kota (Kustiani, 2008).

Pasar Malam Kliwonan Batang

Fungsi dasar dari Kliwonan saat ini memang sudah mengalami pergeseran dari tradisi yang bersifat ritual pengobatan menjadi aktivitas perdagangan yang bersifat modern. Proses pergeseran pada ritual Kliwonan menjadi pasar malam ini pun berlangsung secara perlahan, namun begitu secara substansial nilai-nilai tradisi seperti ngalap berkah atau mencari berkah tetap ada meski pada zaman sekarang konteks berkah tersebut lebih di artikan sebagai rezeki atau pemasukan secara finansial yang didapatkan melalui aktivitas-aktivitas ekonomi para pedagang kaki lima, sehingga meskipun di era modern tradisi ini masih dijaga oleh masyarakat (Dipdo, 2015).

Baca juga : Tradisi Rebo Pungkasan Masyarakat Pekalongan

Tradisi Kliwonan ini dulunya digunakan masyarakat untuk tolak balak, mempercepat jodoh dan mendapatkan keberkahan dengan tujuan dari prosesi ritual Kliwonan ini adalah untuk membuang segala bencana, kejahatan dan malapetaka sehingga anak memperoleh keselamatan dan kebahagiaan, sekaligus untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi warga masyarakat.

Jika dahulu ritual ini dipimpin oleh seorang tokoh adat / kyai dalam pelaksanaannya di tengah-tengah alun-alun, kini ritual ini dilakukan secara individu dan hanya ada ritual sederhana yakni orangtua yang memandikan anaknya di tempat wudhu Masjid tepat disebelah barat alun-alun Batang.

Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat kurang setuju karena dikhawatirkan dapat menimbulkan pro-kontra atau dianggap syirik lantaran seperti mengagungkan air, maka akhirnya ritual tetap berjalan namun secara individu tanpa ada pemimpin ritual atau imamnya lagi. Sehingga pemandangan yang lebih dominan dalam tradisi Kliwonan sekarang adalah aktivitas jual beli di Alun-alun (Pasar Tiban).

Baca juga : Tradisi Kliwonan Masjid Wonoyoso

Banyak para pedagang baik yang berasal dari Batang maupun dari luar kota akan menggelar lapak dagangannya. Biasanya barang yang dijual relatif sederhana dan murah meriah. Para pedagang percaya, berjualan di pasar malam Kliwonan akan mendatangkan berkah dan rezeki tersendiri.

Mitos-mitos Pasar Malam Kliwonan Batang

Ada peristiwa pohon beringin yang berada di tengah alun-alun kota Batang meledak atau terdengar suara ledakan seperti petasan besar yang cukup keras sehingga terdengar oleh masyarakt sekitar. Setelah dicek ke tempat tersebut tidak ada serpihan atau bekas kertas-kertas sisa-sisa ledakan petasan. Maka dari itu masyarakat mempercayai hal tersebut sebagai kemarahan pohon beringin. Peristiwa tersebut terjadi setelah suatu saat tradisi Kliwonan atau pasar malam tidak dilaksanakan dan adanya wacana memindahkan lokasi pelaksanaan Kliwonan ke tempat lain.

Kemudian ada cerita lainnya yitu tentang keberadaan makhluk halus yang ikut meramaikan tradisi Kliwonan Batang ini. Konon makhluk halus tersebut beramai-ramai datang ke Kliwonan dengan menjelma menjadi wujud manusia biasa. Ada pengakuan dari beberapa masyarakat yang membenarkan keberadaan makhluk halus tersebut. Tetapi mereka (makhluk halus) tidak mengganggu jalannya tradisi Kliwonan.

Ada juga mitos yang dipercaya para pedagang yang berjualan di Pasar Malam Kliwonan Batang ini, bahwa bagi pedagang yang dagangannya tidak laku di pasar malam Kliwonan tersebut ,di lain tempat dagangan mereka akan laris. Keberadaan acara ini cukup membantu menggerakkan roda ekonomi masyarakat untuk itu wajar jika banyak juga pedagang dari luar daerah yang turut menimba rezeki di Pasar Malam Kliwonan Batang.

Baca juga : 7 Makanan Khas Batang Yang Terkenal Enak dan Menggoda Selera

Tradisi Kliwonan Batang ini telah berjalanan puluhan bahkan ratusan tahun dan tetap eksis hingga sekarang namun dengan format dan wujud yang berkembang dikarenakan adanya perubahan zaman masyarakatnya.
Begitulah sekelumit cerita tentang tradisi Kliwonan yang ada di Kabupaten Batang dengan Pasar Malamnya yang terkenal.

Bagikan ini :

----------------------------------------------

Cintapekalongan merupakan Platform media referensi tentang Pekalongan - Batang, kamu juga bisa ikutan mengenalkan daerah kita ini lewat tulisan menarikmu. Ayo kirim esai tulisanmu lewat cara ini dan dapatkan honor tiap tulisanmu yang ditayangkan.

donasi cintapekalongan.com
BANTU BERI DONASI
Untuk mengembangkan media ini agar tetap bermanfaat. Terima Kasih

About Angga Panji W

Avatar
Sebagai anak Pekalongan ingin memperkenalkan potensi kota tercinta ini kepada dunia lewat konten digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.:Klik 2x Tombol-> [Close]:.
Selamat Datang