Home > Kearifan Lokal > Tradisi Pekalongan > Tradisi Puputan Masyarakat Pekalongan
beauty glowing

Tradisi Puputan Masyarakat Pekalongan

Cintapekalongan.comTradisi Puputan bayi yang baru lahir ala Masyarakat Pekalongan ini semakin jarang dilakukan. Sedangkan bagi masyarakat Jawa, tradisi ini dahulu dipegang teguh karena kelahiran bayi adalah hal yang sakral. Sehingga sebaiknya diadakan upacara adat untuk menyambutnya. Setidaknya, ada dua upacara adat yang akan dilakukan yakni Puputan dan selapanan. Kapankah upacara Tradisi Puputan ini dilakukan ?

Puputan Dalam Tradisi Jawa Kuno

Dalam tradisi masyarakat Jawa dahulu orang-orang tua kita selalu melakukan ritual khusus dengan sejumlah pantangan dan aturan baku.

Upacara puputan akan dilakukan saat tali pusar terlepas dari pusar bayi. Sebagaimana diketahui, tali pusar bayi akan mengering dan terlepas dengan sendirinya. Pada saat inilah, upacara puputan atau yang dalam Bahasa Jawa disebut sebagai puput puser ini dilakukan. Tujuannya untuk memohon keselamatan bagi bayi yang besangkutan.

Pada bayi perempuan, upacara puputan ini dilakukan dengan cara menutup pusar yang baru saja mengering dengan sepasang ketumbar. Sementara itu, pada bayi laki-laki, pusar ini ditutupi dengan sepasang merica.

Tradisi Puputan

Sebelum mengadakan upacara Tradisi Puputan ini, pihak orang tua atau keluarga biasanya akan memagari sekeliling rumah dengan benang Lawe. Setelahnya, pintu rumah diberi beberapa dedaunan seperti daun nanas, daun lolan, daun widara, dan daun girang. Pintu rumah juga dicoreti dengan injet dan jelaga serta dipasangi duri-durian yang berasal dari pohon kemarung. Hal ini bertujuan untuk menolak sawan atau mahluk halus yang bisa membuat bayi ketakutan atau jatuh sakit.

Baca juga : Tradisi Rebo Pungkasan Masyarakat Pekalongan

Masyarakat Jawa percaya jika ari-ari atau plasenta bayi adalah saudara bayi saat berada dalam kandungan. Karena alasan inilah saat upacara puputan, ari-ari ini disediakan mainan seperti umbul-umbul, bendera, tombak mainan yang ditempatkan pada batang pohon pisang, serta semacam payung unik.

Prosesi upacara puputan sendiri diawali dengan menutup pusar bayi yang sudah mengering dengan merica atau ketumbar, tergantung pada jenis kelamin bayi tersebut. Saat malam hari, bayi kemudian dipangku para sesepuh secara bergantian. Setelahnya, menjelang pagi hari, barulah bayi ditidurkan pada tempat tidur yang diberi batu gilig yang digambari bentuk manusia. Batu gilig inilah yang kemudian digendong layaknya bayi dan juga ditidurkan pada tempat tidur.

Menurut kepercayaan Jawa, prosesi terakhir ini bisa menipu mahluk halus sehingga akan menakuti batu gilig tersebut, bukannya bayi yang bersangkutan.

Tradisi Puputan Masyarakat Pekalongan

Saat jam 1 malam, dikeluarkanlah nasi dan lauk pauk, termasuk pisang mas sebagai hidangan pencuci mulut bagi para tamu yang mengikuti upacara ini. Setelah makan, tamu yang mengikuti upacara puputan pun bisa pulang ke rumah masing-masing meskipun ada pula yang masih tetap tinggal untuk tirakatan.

Baca juga : Mengenal Tradisi Udik-udikan Masyarakat Pekalongan

Selain upacara puputan yang rumit ini, ada pula cara yang lebih sederhana yakni dengan cara membuat tumpeng yang terbuat dari nasi dan sayuran, bubur merah putih, jajan pasar, dan baro-baro pada saat bayi berusia sepasar atau 5 hari. (Musthofa Ilyas)

Puputan Dalam Tradisi Masyarakat Pekalongan

Namun zaman telah berubah, kondisi masyarakat pun ikut menyesuaikan. Kini Tradisi Puputan Masyakat Pekalongan masih dilangsungkan, namun dengan cara yang sudah di mudahkan, yakni cukup dengan Selamatan dengan membuat Bubur merah dan putih yang dibungkus daun pisang yang dibentuk takir.

Kemudian untuk dibagikan kepada tetangga sekitar. Dan untuk si Bayi yang baru saja puputan, Menjelang maghrib atau terbenamnya matahari, sang bayi harus dipangku, tidak boleh langsung diletakkan di kasur hingga sang bayi bersin / selepas jam 12 malam.

Dan untuk sang Ibu, tidurnya harus diatas “amben” sampai pagi, dan jika ingin beraktifitas harus pakai alas kaki.


donasi cintapekalongan.com

DONASI

Bantu berikan donasinya untuk mengembangkan website ini agar lebih bermanfaat. Donasi digunakan untuk perawatan server, operasional kru dan kegiatan amal. Terima Kasih


About Cintapekalongan.com

PEKALONGAN itu indah, kami ada untuk berperan dalam mencatat dan mempromosikan keindahan wisata, senibudaya, kearifan lokal, dan hal unik tentang Pekalongan. Anda bisa menjadi Kontributor untuk kemajuan daerah dengan mengirimkan ulasan/esay/tulisan ke contact@cintapekalongan.com. Terima Kasih

TULIS KOMENTAR

.:[Klik 2x Tombol][Close]:.
Donasi Pekalongan